Film Review: Daybreakers (2009)

Ah, vampir! Sedari jaman keemasan hitam-putih hingga yang berteknologi canggih sekarang ini, tak habis-habisnya menjadi sarana cerita bagi industri film. Dari Nosferatu, Dracula, Lestat hingga Edward Cullen, selalu membuat euforia yang menghimpun massa secara efisien. Mahluk penghisap darah ini seolah menjadi sub-kultur tak terpisahkan dari budaya popular kontemporer.

‘Daybreakers’ adalah sebuah thriller-kontemporer yang lagi-lagi mencoba untuk mengekspos vampiritas sebagai sebuah balutan naratif. Dengan mengusung tema pasca-apokaliptik ala ’28 Days Later’, vampir menjadi pandemik yang membuat eksistensi manusia terancam. Jika dibandingkan dengan zombie tentunya vampir mempunyai banyak persamaan dengan manusia normal, sehingga kehidupan tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Masalahnya, kuantitas manusia semakin sedikit saja, sehingga Charles Bromley (Sam Neill) sebagai pemimpin sebuah perusahaan pemasok darah mendesak Edward Dalton (Ethan Hawke), hematologis andalannya, untuk menemukan sumber darah artifisial sebagai substitusi. Edward sendiri sebenarnya adalah jenis vampir yang menolak mengkonsumsi darah manusia. Ia bertahan hanya karena ia masih mempunyai adik laki-lakinya yang seorang tentara, Frankie (Michael Dorman).

Suatu hari Edward ditemui oleh Audrey (Claudia Karvan), salah satu pemimpin gerilyawan manusia yang masih bertahan. Ia ingin Edward menemui Elvis (Willem Dafoe), seorang ‘mantan’ vampir! Audrey berharap dengan kemampuan Edward, ia bisa menyingkap mengapa Elvis bisa kembali normal, dan jika berhasil tentu saja masa depan umat manusia bisa kembali diperjuangkan.

Sampai disini ‘Breakdays’ mampu mempertahankan bentuknya sebagai thriller-kontemporer yang bergaya noir, dimana duo sutradara kembar asal Australia, Peter dan Michael Spierig memoles filmnya dengan warna monoton yang suram serta beberapa sudut pandang yang menarik. Saat adegan laga semakin mengambil porsi dan plot pun kemudian mulai berjalan pada mode auto-pilot, tahulah kita jika fokus utama Spierg bersaudara hanya mengejar sebuah pencapaian akan techno-thriller-laga kelas B ala ‘Resident Evil’ atau ‘Underworld’ misalnya.

Kelemahan terbesar skrip yang ditulis oleh Spierg bersaudara ini, selain lubang-lubang yang banyak menganga didalamnya, adalah karena memilih perspektif kaum vampir sebagai entitas yang mempunyai ambisi untuk mengangkangi kepemilikan eksistensi hidup di bumi ini. Andai saja mereka memikirkan kenapa konsep vampiritas selalu bersifat eksklusif dan seklusif, tentu saja film ini tidak akan pernah terwujud.

Harus dipahami, kaum vampir memilih untuk hidup dalam bayangan manusia ketimbang secara dominan mengekspos kaum mereka dan menghindari mengkonsumsi secara massif kaum manusia adalah karena ingin menghindarkan terjadinya krisis manusia itu sendiri. Jika setiap orang adalah vampir dan manusia hanya segilintir, siapa yang akan menjadi mangsa mereka? Jika manusia punah, bukannya eksistensi mereka sebagai mahluk superior juga akan punah.

Oleh karena itu saya yakin, tidak ada vampir yang setamak Charles Bromley yang merasa perlu merubah putrinya sendiri, Alison (Isabel Lucas), padahal jelas-jelas itu adalah sebuah kesia-siaan. Vampir pastilah memilih dengan selektif apa dan siapa yang akan menjadi kaum atau malah mangsanya, yang mana tujuannya adalah kesimbangan populasi kaum vampir dan manusia itu sendiri.

Saat film mulai penuh dengan darah, ledakan, panah melesat dan sebagainya, kita sudah tahu arah film ini kemana dan bagaimana klimaks yang menunggu nantinya. Ujung-ujungnya kita hanya bisa menikmatinya sebagai sebuah film hiburan murni nyaris tanpa kontemplasi. Nilai lebih juga, karena Spierig bersaudara mampu mengajak Hawke, Dafoe dan Neil sebagai pendukung. Aktor-aktor watak yang pasti mampu memberikan kedalaman, sedangkal apapun naskah film yang mereka perani.

Advertisements

4 thoughts on “Film Review: Daybreakers (2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s