Film Review: Hello My Love (2009)

 

Sebenarnya cukup mencengangkan, sebagai sebuah negara yang (katanya) cenderung homofobia, Korea Selatan mempunyai dua film terlaris yang bertemakan homoseksualitas, ‘King and Clown’ (2005) dan ‘Frozen Flower’ (2008), selain tentu saja film indie ‘No Regret’ (2006) yang diarahkan oleh sutradara yang telah mengaku sebagai gay.

Jauh sebelumnya, diawal 2000-an sudah ada ‘Bungee Jumping of Their Own’ dan ‘Road Movie’. Trend penerimaan terhadap tema-tema homoseksualitas terus berlangsung dan dapat ditemui dalam ‘Antique’ (2008) juga menyusul ada ‘Hello My Love – Hellowoo Mai Leobeu/헬로우 마이 러브’ (2009).

Hidup terasa indah bagi Kim Ho-jeon (Jo An), seorang penyiar radio terkenal, karena kekasihnya dalam 10 tahun terakhir, Yoo Won-jae (Min Seok) akan kembali dari studinya di Perancis. Setelah menunggu sekian lama, Ho-jeon yakin jika Won-jae pastilah akan segera melamarnya.

Alih-alih melamar, Won-jae malah sibuk dengan urusan bisnis restoran wine-nya bersama teman sekamarnya di Perancis, Lee Dong-hwa (Ryoo Sang-wook). Keakraban Won-jae dan Dong-hwa ternyata tidak sebatas sahabat dan rekan bisnis semata. Faktanya, mereka juga berpacaran. Ho-jeon terluka pada awalnya, namun ia kemudian meminta waktu sebulan untuk memastikan perasaan Won-jae kepadanya maupun Dong-hwa.

Siapapun pasti sakit hati jika kekasih hati kedapatan selingkuh. Perasaan akan makin berkecamuk saat mengetahui yang merebut kekasih hati kita ternyata bukan lawan jenisnya! Getir. Marah. Dendam. Penasaran. Mungkin bercampur aduk menjadi satu.

‘Hello My Love’ mencoba membahas after-math dari situasi tersebut dari sudut pandang seorang Kim Ho-jeon. Masalahnya, Ho-jeon adalah tipikal karakter dari sebuah komedi romantis, manis, lucu, riang dan loveable sehingga perspektif konflik pun ditangkap dari sudut pandang tersebut.

Coba bandingkan dengan ‘Second Skin’ (1999) yang dibintangi oleh Javier Bardem dan Jordi Molla misalnya. Memiliki akar permasalahan yang nyaris setipe dan digarap dengan pendekatan melodrama, namun film tersebut juga berupaya merekonstruksi sebab-dan-akibat mengapa permasalahan tersebut terjadi dengan lebih serius, dewasa dan gelap.

Bukan berarti ‘Hello My Love’ hanya bermain-main dengan isu homoseksualitas tersebut dan sebuah bumbu pemanis dalam romantisme komedinya. Tidak juga. Homoseksualitas bukan melulu sebagai variasi dalam formula ménage-à-trois tipikal, melainkan juga diberi kapasitas sebagai penanda akan sebuah komentar sosial terhadap eksistensi homoseksualitas dalam struktur masyarakat Korea itu sendiri.

Skrip yang dikerjakan oleh Kim Aaron, sang sutradara, bersama Kim Eun-joo-I dan Kim Ji-eun mengembangkan interelasi ketiga karakternya dengan jalinan plot yang cukup tidak tertebak. Progresi mereka pun dapat ditampilkan dengan menarik sehingga memancing rasa penasaran, yang menjadikan dinamika film terasa sangat berbeda dari film-film sejenis.

Pada awalnya ‘Hello My Love’ mengambil struktur ala tipikal komedi-romantis lainnya. Plot berjalan ringan dengan insert-insert beberapa adegan konyol yang manis. Memasuki paruh film, melodrama mulai berperan lebih dominan. Karakternya saling berteriak satu sama lain. Di saat lain juga berupaya mencari perekat koneksi diantara mereka. Pada akhirnya solusi yang didapat cukup memuaskan, meski juga tidak menawarkan sesuatu yang jelas, namun malah terasa lebih realistis.

Kim Aaron mungkin masih menjadikan homoseksualitas sebagai sebuah trend gaya hidup orang muda Korea dalam ‘Hello My Love’, ketimbang benar-benar menjadi sesuatu yang esensial sebagai struktur tema ceritanya. Toh, dia masih kerap terjebak dalam pola streotipikal terhadap penggambaran karakter-karakter gay-nya.

Masih dimaklumi, karena penekanan film lebih pada karakter Ho-jeon, sehingga fokus terpusat pada perkembangan dirinya, terutama sebagai gambaran kegelisahan seorang perempuan yang didera oleh permasalahan seperti ini. Ujung-ujungnya, sebagai sebuah komedi-romantis, ‘Hello My Love’ mungkin tidak istimewa. Sebagai melodrama dia juga kurang intens. Akan tetapi sebagai sebuah film hiburan dengan kedalaman, ia lumayan bertaji.

Advertisements

6 thoughts on “Film Review: Hello My Love (2009)

  1. LABIRIN FILM says:

    Mantaapppp euy…..film ini sebenernya emang bikin bbrp org bosen dg scene pantai yg udh jutaan kali ada di film rom-com dan karakter gay yg gak dalem2 amat. Udh gitu endingnya pasti byk bikin org blg yah cuma gitu aja.tapi yg gw hargai ya emang usaha utk mengolah formula itu tadi.formula yg udh dipake jutaan kali itu dikasih logika yg jauh lebih sesuai dg karakternya.makanya,gw ngerasa maklum dan tdk terlalu keberatan dg kemana cerita ini berjalan. Intinya, setuju deh dg apa yg lo blg…great review dude!

  2. rizmale says:

    Filmnya bener-bener bikin kesel dan greget. Betapa kejamnya Won-jae, betapa liciknya Dong-hwa, dan betapa sakitnya seorang Ho-jeon. Sakit gw nontonnya, meski emang gw empati dengan orang seperti Dong-hwa dan Won-jae. Tapi, lebih miris kalo lihat Jonathan di Eternal Summer atau Jae-min di No Regret. Overall, Eternal Summer yang paling berasa di antara semua…

    • jalangfilm says:

      Sabar pak. Namanya juga film, hehehe. Yah, film itu kan seharusnya sebuah pengalaman sinematis yang berbeda bagi tiap orang ya? Mungkin saja bagi org lain, film ini sangat berkesan lho? Who knows?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s