Film Review: At the End of Daybreak (2009)

Tuck (Tsui Tin-yau) berusia 23 tahun dan tinggal berdua saja dengan ibunya (Kara Wai Ying-hung). Kehidupan perekonomian mereka yang pas-pasan membuat Tuck tidak melanjutkan pendidikannya. Sehari-hari ia menghabiskan waktu dengan kelayapan bersama temannya, terkadang membantu ibunya dan kerap juga melakukan rendezvouz di motel bersama pacarnya, Ying (Jane Ng Meng-hui),

Masalahnya Ying ini baru berusia 15 tahun dan berstrata ekonomi diatas Tuck. Saat orang tua Ying mengetahui hubungan mereka, Tuck terancam terpenjara karena berhubungan seksual dengan gadis dibawah umur. Ibu Tuck tentu saja berupaya agar anaknya tidak di penjara. Namun, kadang kala setiap pilihan yang kita ambil mempunyai kebenaran dan konsekuensi yang fatal. Nasib kemudian memutuskan jalan hidup Tuck, ibunya dan juga Ying.

Saat Tuck berulang kali mengerang karena enggan di penjara kepada ibunya, tahulah kita betapa tidak bertanggungjawabnya karakter Tuck ini, belum lagi tingkah lakunya berpacaran dengan gadis dibawah umur. Lantas, apakah karakternya tersebut adalah hasil dari sebuah keluarga yang disfungsional?

Semenjak ayahnya memilih untuk menikahi kakak ibunya yang lebih kaya, maka kemudian ia dibesarkan oleh ibunya yang kini alkoholik. Otomatis, kebersamaan dengan sang ibu yang cenderung depresif ini memberi kontribusi pada pembentukan karakternya. Atau, benarkah seperti itu?

‘At the End of Daybreak’ atau 心魔 (Sham Moh) adalah gambaran bagaimana karakter seseorang, terlepas dari bagaimana dia dibesarkan, adalah utuh bentukan dan pilihan dirinya sendiri.

Hubungan Tuck dan ibunya sangat akrab, namun Tuck sendiri sebenarnya sosok labil dan kekanakan. Ia mungkin menjemput ibunya saat dia mabuk atau menyiapkan sarapannya. Tapi, saat konflik terjadi, persepsinya akan sang ibu cenderung merapuh, meski sebenarnya sang ibu sangat menyayanginya dan akan melakukan apa saja demi anak kesayangannya.

Sementara itu karakter Jane terasa menyebalkan. Meski sebenarnya mungkin itu bukan pilihannya. Ia sepertinya hanya mengikuti kemana hidupnya mengalir saja, sampai tak terasa alirannya tersebut semakin deras dan dia akhirnya sulit untuk menepi.

Ho Yuhang, sebagai sutradara praktis menegaskan film ini hanya pada tiga karakter tersebut dan hubungan antara mereka. Ceritanya sederhana tapi tidak tipis. Karakter-karakternya dibiarkan berkembang melalui perkembangan plot yang berjalan pelan. Tidak ada benar-benar ledakan atau intensitas sampai menjelang klimaks.

Meski atmosfir film cenderung muram dan depresif, namun film tidak terasa membosankan, dikarenakan Yuhang mampu menjaga intensitas interaksi antar-karakternya. Disamping tentunya kemampuan Yuhang untuk menjaga kestabilan mood dan tone film sepanjang durasinya. Plot dan pengenalan karakter tampaknya sengaja dipersiapkan pada momentum klimaks film.

Meski masih muda dan relatif rendah dalam jam terbang aktingnya, namun Tsui Tin-yau dan Jane Ng Meng-hui ternyata mampu memberikan performa serta kedalaman pada masing-masing karakternya. Tin-yau tampil sebagai seseorang yang sepertinya memiliki distorsi dalam pemikirannya, namun sebenarnya adalah seorang anak laki-laki labil dan rapuh, Sedang Jane Ng, yang sedikit mirip dengan Poppy Sovia ini, sukses sebagai karakter gadis lemah lembut dan pemalu tapi sebaliknya juga keras kepala. Kemampuannya berbicara dalam bahasa Mandarin, Canton, Inggris dan Melayu adalah nilai lebih.

Akan tetapi, juaranya adalah Kara Wai Ying-hung. Aktris senior ini berangkat dari film-film silat era Shaw Brothers, sampai angkat nama sebagai aktris laga kawakan di era 80-an sampai awal 90-an bersama Michelle Yeoh, Chyntia Khan, Moon Lee atau Sharon Yeung Pan-pan. Kara menghembuskan setiap subtilitas pada sosok ibu tunggal yang berkarakter sulit ini. Ia adalah sosok ibu rumah tangga yang ada dikeseharian kita, mencoba membahagiakan anak satu-satunya, disaat lain kebahagian dirinya sendiri juga tengah diupayakannya. Terlihat tegar tapi sebenarnya rapuh.

Bagi saya pribadi, ‘At the End of Daybreak’ adalah film yang memuaskan. Ho Yuhang melaksanakan tugasnya dengan baik. Hanya saja, dengan konsistensinya pada kemuraman sepanjang film terkadang membuat rasa kurang nyaman saat menyaksikannya. Rasanya, film menjadi terlalu suram tanpa keinginan untuk memberi dahaga warna cerah bagi penontonnya. Tapi mungkin saja itu adalah pilihan pribadinya sebagai ciri khasnya sebagai seorang sutradara.

Yuhang, sebagai bagian dari komunitas film new-wave di Malaysia menunjukkan jika geliat perfilman mereka sangat signifikan dalam memberi nyawa pada industri film lokal serta mendapat atensi internasional yang memadai. Bersama dengan Alm. Yasmin Ahmad, koleganya yang juga tampil cameo di film ini, mereka menunjukkan jika film-film Malaysia adalah alternatif utama jika mencari film-film bagus yang berbeda dan berkualitas. Sangat ditunggu karya berikutnya.

Favorite quote:
“If the cops really want to catch someone, they will. If they put their minds to something, they can nab any criminals they want.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s