Film Review: Prince of Persia: The Sands of Time (2010)

Ada beberapa film yang memerlukan kedalaman berfikir, kritisi atau analisa dalam menyimaknya, karena film-film tersebut berbicara dalam wacana yang menghendaki penontonnya berkontemplasi. Ada juga beberapa film yang sadar diri jika mereka adalah jenis film kosong, tapi jangan ragukan kesetiaanya dalam menghibur penontonnya. Dan ‘Prince of Persia: The Sands of Time’ adalah golongan kedua.

Dastan (Jake Gyllenhaal) bukanlah pangeran Persia biasa. Berangkat dari seorang anak jalanan yang diangkat anak oleh Raja Sharaman (Ronald Pickup), menjadi salah pangeran andalan bersama kedua kakaknya. Tus (Richard Coyle) dan Garsiv (Toby Kebbell). Kemudian, dengan ditemani sang paman, Nizam (Ben Kingsley), mereka mendapat tugas menyerang kota suci Talmut. Berkat kecerdikan Dastan, kota suci pun takluk, begitu juga dengan sang putri penguasanya, Tamina (Gemma Arterton). Tamina sendiri menolak mengakui jika Talmut memiliki senjata pemusnah massal seperti yang dituduhkan serta menjadi alasan pendudukan kota (hmm, mengingatkan akan apa ya?).

Plot bergulir saat Raja Sharaman tewas dibunuh dan Dastan menjadi tersangka utamanya. Dengan bantuan Tamina, ia berhasil kabur. Bersama mereka menghindari kejaran para Hassansins, kelompok pembunuh rahasia yang berbahaya. Tapi, rupanya Tamina punya agenda tersendiri. Ia mengincar belati yang ditemukan Dastan di Talmut. Ternyata belati tersebut memiliki kekuatan magis untuk membalikkan waktu. Mungkinkah belati ini yang menjadi sumber kesialan Dastan? Hm, jawabannya tentu saja kita sudah ketahui bersama.

Dengan durasi 116 menit, ‘Prince of Persia: The Sands of Time’ tersedia dalam plot yang-amat-sangat-tipis. Konflik dalam film ini bahkan bisa diselesaikan dalam kisaran durasi satu episode serial ‘Xena: Warrior Princess’ misalnya. Eh, seingat saya, serial itu juga sering membicarakan varian topik yang setipe. Tapi bukan itu intinya.

Film ini jelas sangat sadar akan eksistensinya sebagai film hiburan, oleh karenanya, ‘Prince of Persia: The Sands of Time’ murni menjual keseruan sebagai bagian tradisi film musim panas. Lupakan plot yang klise, karakter-karakter konyol, dialog-dialog dangkal, adegan-adegan berlebihan dan kurang masuk akal. Jika sudah, niscaya ‘Prince of Persia: The Sands of Time’ adalah pengalaman menonton yang seru dan memuaskan.

Mungkin Mike Newell bukan sutradara yang tepat untuk film ini. Mungkin ditangan orang lain filmnya akan menjadi lebih baik atau malah lebih buruk. Tapi pasti ada alasan mengapa Jerry Bruckheimer sebagai produser memercayakan sutradara ‘Harry Potter and The Goblet of Fire’ (2005) itu untuk menangani film ini. Dengan nama Bruckheimer tertera, tentu saja film mengingatkan akan trilogi sukses ‘Pirates of Carribean’ yang juga bergaya swashbuckling-revivality. Bedanya, alih-alih dari taman bermain, idenya diangkat dari sebuah permainan video-game populer.

Meski berjudul sama dari salah satu serinya, ‘Prince of Persia: The Sands of Time’, namun ide cerita filmnya kabarnya juga di variasikan dengan ‘Prince of Persia: Warrior Within’ dan ‘Prince of Persia: The Two Thrones’. Judul gim keluaran Ubisoft ini yang pernah saya mainkan memang baru ‘The Sands of Time’ dan setelah menyaksikan filmnya, Newell sepertinya berupaya keras agar adegan-adegan di gimnya tervisualkan dengan baik. Pastinya film tidak melewatkan atraksi Parkour yang menjadi ciri khas gim-nya. I’ve seen better, tapi aksi Dastan lumayan tangkas.

Kelemahan terbesar memang harus dibebankan pada jalinan plotnya. Terlalu lempang. Nyaris tanpa jiwa dalam dinamikanya. Dan adegan akhirnya (sedikit spoiler) agak menyebalkan. Tapi film juga menawarkan aksi laga seru, visual paten, efek yang meski tak sempurna tapi mendebarkan dan karakter-karakter yang bisa kita senangi. Ada pahlawan, ada sang nona, ada komedian, ada villain. Kombinasikan dengan petualangan seru. Hasilnya sebuah hiburan yang melepas penat.

Jake Gyllenhaal (dalam penampilan versi vokalis grunge sering nge-gym yang terdampar di Timur Tengah abad pertengahan) terlihat kurang meyakinkan pada awalnya. Namun, setelah berinteraksi secara intens dengan karakter yang diperani Gemma Arterton, perlahan menjadi semakin sulit untuk tidak menyukainya. Begitu juga Arterton. Menggemaskan dalam balutan kostum klasiknya, yang penampilannya bahkan lebih menarik dari pada ‘Clash of the Titans’ (2010) yang lalu. Tentu saja peran yang diisi oleh Alfred Molina lebih kepada comic-relief daripada karakter yang benar-benar memberi kontribusi yang signifikan dalam plotnya, akan tetapi his comedic timing always delivers.

‘Prince of Persia: The Sands of Time’ jelas bukan adaptasi video-game terbaik, tapi jelas diatas film sejenis akhir-akhir ini. Bukan film petualangan terseru, tapi tetap mengasyikan. Bukan film musim panas terdahsyat, tapi jelas sangat menghibur. Simplifikasi pada jalinan ceritanya akan benar-benar mengganggu jika kita memikirkannya. Tapi, jika film ini saja tidak seserius itu, mengapa kita harus? Nikmati saja.

Advertisements

18 thoughts on “Film Review: Prince of Persia: The Sands of Time (2010)

  1. movietard says:

    I like your review, bener banget, saat menonton Prince of Persia, you should just sit and enjoy the movie, sementara itu, istirahatkan akal sehat sampai film selesai 😀

    btw, boleh tahu pendidikan apa kakak? bahasa reviewnya bagus sekali

  2. andre says:

    ‎​\(´▽`)/ besok mau nntn, tp batal senin. Mungkn kamis aja. #syapa jg tanya#.

    Mmm kurang seru ya filemny?

  3. Inggrid says:

    Hehe, baca deh PoP versi Haris 🙂 BTW ya lumayan deh, aku pas nonton kan pas mid week, jd sbagai pelampiasan stress kerjaan lg banyak plus ktawa ktiwi nyela2 Gemma (Tamina), jdnya cukup terhibur ama film ini 🙂

    • jalangfilm says:

      Bener. Kalau aku sih ketawa-ketiwi pas nontonnya, dan kayaknya sih si Kokoh juga. Karena udah tahu filmnya nanti bagaimana, terakhir karena beneran low expectation dan otak udah disimpan baik-baik di rumah, walhasil filmnya jadi menghibur. Kalau aku pribadi sukalah ama Tamina, hehehe.

      Segala printilan itu kan cuma detil. Yg penting bagaimana dia menghibur aku. Dan aku terhibur. Ya sudahlah 😀

  4. charmymommy says:

    Lagi butuh hiburan lanjutan stlh jalan2 ke luar kota akhir minggu ini…kyny emg plu d tonton.tp ga ngebet soalny ud bca review abg.jd mungkin dl minggu ini jg.yg jelas bukan besok…

  5. Theo Karaeng says:

    * Seperti biasa, kalau film-film baru yang masih ditayangkan di bioskop, biasanya saya belum nonton 🙂

    * Eh, sang pangerannya diperankan oleh saudara kembarku? Jake Gyllenhaal?? wah, agak-agak mengecewakan nih. padahal, rumornya, dia tipikal aktor yang selektif dalam memilih peran. dan dari beberapa review film Prince of Persia yang kubaca, rasa-rasanya film ini cukup mengecewakan yah? hmm…

    • jalangfilm says:

      Agak susah juga mungkin bagi aktor disana kalau gak punya film hits The, alasan prestise mungkin? Ada faktor U? Hehehe.

      Kalau aku sih karena udah tahu filmnya bakal bobrok di beberapa segmen, ya enjoy2 aja. Bagi org lain mungkin filmnya menyebalkan.

  6. apatisvian says:

    “… Ada beberapa film yang memerlukan kedalaman berfikir, kritisi atau analisa dalam menyimaknya, karena film-film tersebut berbicara dalam wacana yang menghendaki penontonnya berkontemplasi. Ada juga beberapa film yang sadar diri jika mereka adalah jenis film kosong, tapi jangan ragukan kesetiaanya dalam menghibur penontonnya. Dan ‘Prince of Persia: The Sands of Time’ adalah golongan kedua…. ”

    jiahahaahaa..perdebatan di multiply-nya candra masih berlanjut rupanya 😀

    gw sampe skrg blm ntn btw…
    gak kebagian tiket mulu… jadi keburu gak mood lagi :((

    • jalangfilm says:

      Ah, gw sih malas memanjang2inya, karena kalau masalah selera bakal jadi debat kusir warung kopi dan engga kelar-kelar.

      Ya, kalau menurut gw, better save your money for Inception dan tonton versi DVD aja, hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s