Film Review: Youth In Revolt (2010)

Saya suka Michael Cera. Tapi saya juga sebal. Suka karena dia mempunyai karakter nerd yang mengingatkan akan pria-biasa-saja-si-tetangga-sebelah. Tidak ada imaji bintang film gelamor lekat padanya. Sebal karena dia menjadi typecast dan seolah-olah menjadi “Michael Cera” di setiap film-filmnya. ‘Youth in Revolt’ bukan pengecualian.

Kali ini Cera adalah Nick Twisp, remaja 16 tahun yang biasa-biasa saja. Outcast tentu saja dan surprise-surprise, he’s still a virgin. Tinggal bersama ibunya (Jean Smart) yang telah bercerai dengan ayahnya (Steve Buscemi). Dan yang pasti ayah-ibunya bukan tipe orang tua ideal and they aren’t cool, either.

Hidup Nick berubah setelah berkenalan dengan Sheeni Saunders (Portia Doubleday), seorang gadis cantik, pintar dan terobsesi dengan sesuatu yang berbau Perancis. Sheeni sendiri kemudian menjadi ajang obsesi Nick. Sayangnya, Nick sepertinya bukan tipe pria ideal Sheeni. Kemudian, Nick menciptakan alter-ego yang bernama François Dillinger. Ide-ide François yang sedikit eksentrik mungkin kemudian membuat Nick terlihat menarik dihadapan Sheeni. Masalahnya, ide-ide itu juga membawa Nick ke dalam persoalan baru yang pelik.

‘Youth In Revolt’ is a another coming-of-age story. Oleh karenanya film juga dipenuhi beberapa streotipikal film jenis. Uniknya, karakter-karakternya dibiarkan memiliki banyak kekurangan dan melakukan banyak hal negatif. Agak ragu juga apakah mereka benar-benar menemukan kontemplasi di ujung cerita. Atau sebenarnya tidak ada konsep “akhir” tersebut secara “kehidupan” terus berlanjut?

Michael Cera sendiri tentu saja Michael Cera. Hanya kali ini namanya adalah Nick Twisp. Tapi beruntung karena dia juga adalah François Dillinger, si imitator Jean-Paul Belmondo, aktor ternama Perancis itu. Secara fisik mirip dengan Nick Twisp. Tapi bermata biru, suara yang lebih dalam dan berwibawa, gestur yang lebih terjaga, tampang dingin dan rokok yang tak pernah lepas serta tentu saja ide-ide gilanya.

Dengan François, Cera berhasil mendobrak peran tipikalnya, dan lumayan meyakinkan menjadi sosok yang bukan Cera sama sekali. Meski terlihat jelas kecanggungannya dalam merokok, tapi tidak mengapa. Di dalam ‘Youth in Revolt’, Cera tidak melulu Cera, tapi juga François, sebuah varian yang segar. Sangat diharapkan Cera mengupayakan karakter-karakter yang menantang lainnya.

Sesuai judul novel karya C.D. Payne, dimana film ini didasarkan, ‘Youth in Revolt: The Journal of Nick Twisp’, film pun berjalan dengan diiringi oleh narasi oleh Nick Twisp. Banyak asupan adegan-adegan konyol bukan berarti juga ini film vulgar yang hanya menjual slapstick tak berlogika atau merendahkan intelejensi penontonnya.

Penggarapan Miguel Arteta, sebagai sutradara juga tidak istimewa. Tapi narasi berjalan dengan lancar serta mampu untuk tetap membuat kita tertarik mengikuti alurnya. Dan yang pasti, sangat menyenangkan sekali melihat duet Nick Twisp dengan François Dillinge ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s