IMO: These Slashers are So Godawful that You Have To Love Them

Sudah beberapa dekade terakhir ini slasher sebagai sub-genre dari horor telah berhasil mempertahankan eksistensinya. Tampaknya tema-tema gelap belepotan darah yang ditampilkannya selalu banyak menarik perhatian, terlepas dari semakin jeneriknya pola cerita yang ditampilkan oleh film-film sejenis.

Formula slasher biasanya berputar pada sekelompok pemuda-pemudi yang terjebak pada situasi-kondisi yang menyebabkan mereka harus berhadapan dengan pembunuh misterius yang mengincar jiwa mereka. Tercatat yang paling fenomenal adalah Texas Chainsaw Massacre (1974), Halloween (1978), Friday The13th (1980), A Nightmare on Elm Street (1984), Scream (1996), I Know What You Did Last Summer (1997) dan Urban Legend (1998). Ada beberapa nama yang cukup populer juga, akan tetapi judul-judul diatas dapatlah kiranya mewakili tiap dekade dimana film-film tersebut berjaya.

Sebagai generasi yang besar di era 90an, tentu saja saya tergila-gila oleh Scream, salah satu karya hebat empu horor ternama Wes Craven. Kesuksesan Scream diikuti banyak epigon yang juga saya sambut dengan meriah.

Banyak pengekor yang dibuat dengan semangat tinggi dan didukung oleh bujet yang memadai, sehingga menghasilkan film-film yang menarik dan beredar secara luas. Ada juga pengekor kelas II, sejenis film-film independen yang beredar tidak secara masif, akan tetapi tetap dikemas dengan kredibilitas yang cukup, namun biasanya tidak begitu berkesan dan mudah dilupakan. Nah, ada juga yang masuk ke dalam kategori III, yaitu film-film berbujet ultra-mikro dan dirilis langsung dalam bentuk video/DVD yang biasanya juga mempunyai kualitas dibawah rata-rata namun anehnya sangat menyenangkan untuk dinikmati.

Dari beberapa film slasher kategori III tadi yang telah saya saksikan, judul-judul berikut ini adalah yang paling berkesan bagi saya. Bukan karena mereka jenis slasher gemilang dan mencekam, namun justru karena dibuat dengan kualitas seadanya-secukupnya. Disisi lain ia malah menjadi sangat menghibur.

05. Lover’s Lane (1999)

Lupakan kenyataan absurd jika Anna Faris kelihatannya adalah satu-satunya chearleader di film ini dan tampaknya tak mempunyai baju lain selain seragamnya. Lupakan jika pembunuhnya adalah copycat dari I Know What You Did Last Summer. Lupakan jika kebanyakan adegan pembunuhannya adalah off-screen. Lupakan betapa konyol cerita dan karakternya. Lupakan betapa miskinnya film ini dari intensitas. Maka siapkan diri tersenyum-senyum pada usaha sang sutradara, Jon Steven Ward, mencoba menakut-nakuti kita melalui film yang lebih layak tayang sebagai film televisi ini.

Lover’s Lane berkisah tentang pesakitan sakit jiwa yang kabur dari RSJ dan kembali meneror teror setelah 13 tahun sebelumnya di dimasukan ke institusi tersebut karena sikap dan tindakan yang sama.

04. Final Stab (2001)

FYI, judul versi bootleg film ini adalah Scream 4. Begitu percaya dirikah film ini? Mengingat sutradaranya adalah David DeCoteau, pengarah film-film horor berbujet rendah yang langsung dipak dalam bentuk DVD, tentu saja sulit dipercaya. Sutradara ini terkenal karena kerap lebih menekankan homoerotisme yang intens ketimbang benar-benar membangun kengerian. Dan nasib Final Stab kurang lebih sama.

Berkisah tentang sekumpulan remaja yang bermain-main dengan lelucon tentang pembunuhan, sampai seorang pembunuh benar-benar melenyapkan mereka satu-persatu. Jangan kuatir, tidak ada benar-benar adegan pembantaian yang menyeramkan apalagi sadis disini. Yang ada adalah kita disajikan bagaimana DeCoteau membuat karakter-karakternya saling menggoda satu sama lain atau dimana karakter-karakter prianya lebih banyak ditampilkan hanya dengan memakai pakaian dalam mereka.

03. Scarecrow Gone Wild (2004)

Film arahan Brian Katkin yang juga menampilkan pegulat WWF Ken Shamrock ini berkisah tentang orang-orang sawah yang hidup dan kemudian memulai pembantaian massal. Oh yeah, idenya luar biasa. Pasti menyeramkan. Darah pasti dimana-mana. Sayangnya tidak.

Adegan awal, dimana seorang perempuan dikejar-kejar ditengah ladang jagung memang terlihat menjanjikan. Tapi bayangkan juga versi imitasi murah meriah dari Scream, Friday the13th, Jeepeer Creepers, Children of the Corn dijadikan satu, maka itulah Scarecrow Gone Wild. Tapi minus adegan menyeramkan. Bahkan adegan finalnya hanya akan membuat terpingkal-pingkal. Uniknya, sebagai sebuah hiburan, ia masih boleh diandalkan. Siapa yang tidak akan terhibur oleh kekonyolannya?

02. Bloody Murders (2000)

Travis Moorehouse, villain film ini, mempunyai fisik dan topeng ala Jason Voorhees, tapi bersenjatakan sinso seperti Leatherface. Yah, dari kurangnya orisinilitas karakter pembunuhnya saja sudah membuktikan jika film arahan Ralph E. Portillo adalah imitasi kelas III dari Friday the13th. Ceritanya saja mirip, tentang pembunuhan terhadap para konselor di perkemahan.

Portillo sebenarnya mempunyai potensi untuk membuat sebuah thriller yang menegangkan. Beberapa adegan bisa dieksekusi dengan intensitas yang baik. Hanya saja ia mungkin pencerita yang payah. Film lebih dipenuhi oleh adegan-adegan yang sudah tertebak, karena Portillo benar-benar ‘setia’ pada formula 101 slasher yang jenerik. Selebihnya, kita akan terhibur (baca: tertawa-tawa) bagaimana semua klise tersebut diolah dengan serius oleh film ini. Oh ya, film ini juga menyisakan sebuah sikuel di tahun 2003, Bloody Murder 2 : Close Camp.

01. Camp Blood (1999)

Dan juaranya adalah Camp Blood! Film ini bukan mockumentary, tapi percayalah, kesan itu yang akan didapat dalam menyaksikannya. Bujet yang amat-sangat-terbatas tidak menghalangi keinginan Brad Sykes membuat sebuah slasher yang tampaknya sangat digandrunginya itu. Gunakan saja kamera video handycam (sepertinya) dan panggil teman-temanmu (kemungkinan) jadi pemerannya, buat efek khusus ala anak sekolahan, maka voila, jadilah film slasher tercinta.

Sungguh, ini adalah jenis film amatiran yang bisa kita buat bersama teman-teman. Semuanya terasa sangat minimalis dan…home-made. Sinematografi setingkat diatas dokumentasi orang kawinan. Plot yang tipis (sekumpulan orang pergi berkemah dan dibantai oleh psikopat). Akting yang parah. Intensitas dalam skala nol. Dan saya yakin film ini bukan diniatkan untuk menjadi film komedi, akan tetapi siapa yang tidak tertawa melihat adegan kejar-kejaran konyol si pembunuh bertopeng badut dengan calon korbannya. Tidak meyakinkan sama sekali.

Uniknya, diujung film memberikan sedikit twist yang maunya mengingatkan akan Mulholland Drive, atau film-film absurd sejenis, tapi akting pemainnya yang (sok) serius justru mengacaukan semuanya. Jangan kaget, film hancur-hancuran seperti ini malah mewariskan tiga sekuel Camp Blood 2 (2000) dan Camp Blood 3 : Within the Woods (2005). Hebat nian!

Advertisements

6 thoughts on “IMO: These Slashers are So Godawful that You Have To Love Them

  1. aribudi says:

    hahaha..ternyata ada slasher kategori 3 juga toh..
    ga bisa ngebayangin kalo ada slasher kategori 4..nya bakal separah apaaan tuh….haha..
    dulu emang suka ketipu film ginian..apa lagi kalo liat covernya..biasanya posternya suka lebih nyeremin..sosok pembunuhnya yang lg beraksi suka ada diposternya..hehe.. liat aja poster2 diatas..haha..
    btw..kalo film PSIKOPAT (slasher indo sebelum rumah dara)..itu ada di ketegori berapa y…jangan2 malah masuk di slasher kategori 7..

    • jalangfilm says:

      Sebenarnya itu saya saja yg punya ide mengkategorikannya. Berdasarkan pengamatan. Hahaha.

      Yah, namanya juga bajakan ya? Segala cara untuk menarik perhatian calon penontonnya.

      Untuk kasus Psikopat. Jujur saya tidak berani menyaksikannya, takut ‘tersiksa’, hahahaha

  2. ringo says:

    waaah gilaa..koleksi slasher ancur-nya banyak juga ya haha kereeen…btw, gue baru nonton the final Stab doang haha

    Psikopat dong bos, ditonton haha

  3. apatisvian says:

    stujju ama aribudi n ringgo…

    PSIKOPAT… BEWARE YOUR EYEBALL…

    wajibb nonton banget tuh, bro….

    slasher-cult aseli indonesah… bener2 mantab dah tolol nya 😀

    topeng psikopat nya dari alumunium foil… asli masterpiece banget tuh film! lol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s