Film Review: Hell Night (1981)

Hell Night (1981)

Pasca kesuksesan ‘The Exorcist’ (1973), nama Linda Blair memang menjulang. Namun entah mengapa karirnya seolah mandeg dan kemudian banyak terlibat dalam film-film kelas B yang eksploitatif. Dan ‘Hell Night’ sendiri adalah salah satu film Blair yang paling banyak dikenang, selain ‘The Exorcist’ tentunya, meski sebenarnya ia adalah sebuah horor slasher yang jelas-jelas mengekor kesuksesan ‘Halloween’ (1978) dan ‘Friday The13th’ (1980).

Sangat jelas jika film horor yang diproduksi secara independen dan diproduseri oleh Irwin Yablans (juga yang memproduseri ‘Halloween’) ini ingin mengekor kesuksesan film-film tersebut. Pola ceritanya mirip, sekelompok anak muda yang nyawanya terancam oleh pembunuh misterius. Hanya saja kali ini seting berpindah ke sebuah puri tua yang misterius, lokasi untuk semacam jurid malam bernama Hell Night yang harus dilewati oleh Marti (Linda Blair), Seth (Vincent Van Patten), Jeff (Peter Barton) dan Denise (Suki Goodwin) guna memasuki perkumpulan mahasiswa Alpha Sigma Rho.

Ketua perkumpulan, Peter Bennett (Kevin Brophy), menginformasikan jika Garth Manor, nama puri tersebut, menyimpan cerita kelam. Dulu pemiliknya, Raymond Garth, membunuhi seluruh anggota keluarganya, karena malu dikaruniai anak-anak yang cacat secara fisik. Sekarang bangunan tersebut sudah tak berpenghuni lagi. Namun menurut rumor, Andrew, satu-satunya anak Garth yang tubuhnya tidak pernah diketemukan, masih tinggal disitu.

Tugas Marti dan kawan-kawan adalah menghabiskan malam di puri tersebut sementara mereka dikunci dari luar. Sementara itu, Peter bersama Scott (Jimmy Sturtevant) dan May (Jenny Neumann) diam-diam akan menakuti-nakuti mereka. Namun, ternyata memang ada seseorang yang tinggal didalam puri dan mengintai mereka. Hell night benar-benar menjadi malam neraka bagi mereka saat si pengintai memutuskan untuk membunuhi mereka satu persatu.

Jika kita menilik dari standar slasher sekarang, jelas ‘Hell Night’ terlihat sangat inferior. Namun, sebagai bagian dari invasi kebangkitan slasher di era 80-an, dan “tim pendahulu”, jelas ia mempunyai kelebihan tersendiri, meski lebih tepatnya dari segi memoria ketimbang sebagai alat pemacu adrenalin.

Tom DeSimone, sang sutradara, sebenarnya lumayan berhasil membangun atmosfir kelam, seperti visi gothik yang ingin dicapainya. Puri tersebut memang terlihat muram dan menyeramkan. Masalahnya, film terlalu lama untuk memasuki adegan ‘aksi’. Kesabaran penonton benar-benar diuji, saat nyaris tidak terjadi apa-apa diparuh pertama. Terlalu banyak eksposisi dan pengenalan karakter. Padahal karakternya itu sendiri tidak terlalu luar biasa juga.

Dan saat mulai memasuki adegan ‘pembantaian’, faktor editing juga terlalu ‘kejam’ mengeksekusinya untuk ditampilkan secara lebih frontal. Entah karena ingin menutupi jeleknya efek khusus atau memang DeSimone kurang terampil merangkai adegan sadistiknya, sehingga adegan-adegan “pelenyapan karakter” dan gore yang menjadi poin utama dari sub-genre ini tampil dengan kurang berkesan. Untunglah, menjelang akhir, intensitas semakin meningkat dan ditutup dengan klimaks yang lumayan memuaskan.

Oh ya, lupakan jika ingin melihat T&A (Tits and Ass) atau adegan sensual lainnya disini, seperti tipikal film sejenis, karena absen dihadirkan dalam film ini.

Linda Blair sendiri mendapatkan nominasi untuk Aktris Terburuk pada ajang Golden Raspberry Award di tahun 1981. Namun, sepertinya “anugrah” tersebut terlalu berlebihan, karena Blair bermain dengan cukup baik disini, tidak melulu menampilkan belahan dadanya. Begitu juga dengan jajaran pemain pendukungnya, cukup komprehensif dalam memberi dinamika dalam karakter mereka, terlepas meski tetap terasa tipis dan satu dimensi.

Meski ‘Hell Night’ bukanlah film yang paling memuaskan dari sub-genre ini, akan tetapi dengan segala kekurangannya ia juga telah mencapai status cult saat ini dan layak dicari bagi penggemar film-film sejenis, terutama dari era 80-an, dimana film-film slasher mencapai era emasnya.

Hell Night

Favorite Quote:
Seth: If you weren’t screaming, and we weren’t screaming – then someone is trying to mind fuck us here.

Advertisements

6 thoughts on “Film Review: Hell Night (1981)

  1. apatisvian says:

    I SPIT ON YOUR GRAVE versi original nya udah ntn bro?

    gw kmaren download tuh.. persiapan sbelom ntn remake-nya nanti 🙂

    dari trailer-nya sih versi remake nya cukup menjanjikan… mudah2an sebagus remake Texas Chainsaw dan last House on the Left… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s