The A-Team

Lamat-lamat tanda bahaya mulai berdentang pelan dikejauhan saat saya lebih tertarik melihat pasangan di bangku depan saya yang mengumbar kata-kata mesra melalui chatting via ponsel mereka. Dentangnya semakin kentara saat saya mulai menguap berkali-kali yang parahnya juga diikuti tetangga saya yang pada awalnya terlihat antusias. Dan akhirnya suaranya semakin memekakkan saat saya mulai mengaktifkan Twitter untuk melihat isi timeline daripada melihat apa yang tengah terjadi di layar lebar didepan sana. Demikianlah pengalaman saya saat menyaksikan ‘The A-Team’, sebuah film reka-ulang dari serial klasik era 80-an.

‘The A-Team’ adalah apa yang bisa diharapkan dari sebuah epik-aksi ala musim panas; adegan laga kolosal dengan efek mutakhir. Dan saya tidak pernah keberatan dengan cerita yang dangkal, tipis, atau malah amburadul, selama film tersebut berhasil mengeksekusi adegan-adegan yang membuat saya tetap tertarik melototi layar. Bukankah inti dari eksistensi (kebanyakan) film musim panas adalah hiburan yang tak memerlukan daya nalar yang luar biasa?

Masalahnya, sepertinya ada yang salah dengan cerita tipis-dangkal-amburadul di skrip ‘The A-Team’ ini. Film terlalu mengejar unsur fun yang terlihat keren dalam aksi-laganya, sehingga menganaktirikan koherensi dalam tutur ceritanya.

Yang saya ingat samar-samar dari kenangan masa kecil saya, serial kreasi Stephen J. Canell dan Frank Lupo itu adalah sebuah serial aksi-komedi yang seru, kocak dan jahil. Yang saya ingat dari ‘The A-Team’ arahan Joe Carnahan yang diproduseri oleh Tony dan Ridley Scott ini cuma adegan laganya saja. Cerita? Saya lupa-lupa ingat!

Baiklah, baiklah. Saya ingat ceritanya. Maaf jika menjadi terlalu sarkastik.

Ceritanya John “Hannibal” Smith (Liam Neeson), Templeton “Faceman” Peck (Bradley Cooper), B.A. “Bad Attitude” Baracus (Quinton “Rampage” Jackson) dan H.M. “Howling Mad” Murdock (Sharlto Copley) adalah kumpulan unit elit dengan tugas-tugas khusus dari pemerintah. Tingkat keberhasilan misi mereka sangat tinggi, sehingga dipercayai untuk menangani suatu tugas rahasia. Kenyataannya tugas mereka kemudian gagal dan malah menjadi tertuduh. Tentu saja, pada akhirnya mereka memutuskan untuk membersihkan nama baik mereka.

Neeson, Cooper, Baracus dan Copley menjalankan tugas mereka dengan baik. Karakter-karakter mereka diproyeksikan cukup setia dengan karakter asli dalam serialnya. Bahkan karakter Jessica Alba dan Patrick Wilson, yang rasanya lebih mirip tempelan daripada benar-benar komprehensif terhadap plot, pun mereka perani dengan layak.

Saat adegan kumpulan tersebut berada dalam sebuah tank yang meluncur dari ketinggian dan pada akhirnya tiba di bumi dengan selamat, tentu saja indikasi “letakkan-otak-anda-dirumah” menjadi tak terbantahkan. Meski konyol dan tidak logis, namun terlihat begitu seru dan mengasyikan. Tapi dari satu adegan aksi keadegan aksi lainnya tentunya harus ada plot yang harus dijadikan perekatnya.

Masalahnya saya tidak begitu perduli dengan apa yang terjadi dengan plotnya. Yah, mereka jenerik, tipikal, auto-pilot. Saya tidak ada masalah dengannya. Akan tetapi dengan tidak adanya upaya untuk memolesnya untuk benar-benar integratif dalam jalinan adegan laganya membuat saya kehilangan minat. Seolah-olah hanya pengisi jeda antara adegan laga satu dengan lainnya. Tidak ada semacam sparks yang membuat saya merasa perduli dengan apa yang terjadi.

Kalau difikir-fikir, Carnahan rasanya justru jauh lebih baik di ‘Smokin’ Aces’ (2007). Meski dalam skala yang lebih kecil, akan tetapi itu adalah jenis aksi-thriller yang jauh lebih solid dan plot yang lebih terstruktur dari pada ‘raksasa’ satu ini.

Advertisements

8 thoughts on “The A-Team

    • jalangfilm says:

      Rencananya…akan tetapi apa mau dikata, pas nunggu2 hujan, berteduh di mall, bete gak ada kerjaan, secara impulsif akhirnya milih nonton di bioskop, hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s