Suspiria

Malam yang dingin, ditengah deras hujan yang menerpa Munich, Jerman, disitulah Suzy Bannion (Jessica Harper) gadis asal Amerika tiba. Suasana terasa begitu menyeramkan. Namun ia harus buru-buru karena terlambat untuk memenuhi temu-janjinya dengan pengurus akademi balet ternama di Freiburg. Sayangnya, karena telat, ia dianjurkan untuk kembali besok saja.

Ia berpapasan dengan seorang gadis yang tampaknya sangat dipenuhi oleh kecemasan. Gadis tersebut bernama Pat Hingle (Eva Axén) dan dengan tergesa-gesa meninggalkan akademi. Ia menumpang inap dirumah temannya. Tapi kemudian seseorang menikam dirinya berkali-kali dengan sadis dan akhirnya menggantung tubuhnya.

Esok paginya Suzy tiba kembali di asrama. Kepolisian tengah menyelidiki kematian Pat. Namun tidak mengurungkan niat Suzy. Ia diterima dengan baik oleh pengurus akademi Madame Blanc (Joan Bennett) yang anggun dan Miss Tanner (Alida Valli) yang tegas. Tidak berapa lama ia pun sudah berteman dengan Sarah (Stefania Casini).

Sarah sendiri sebenarnya teman akran Pat dan mencurigai sesuatu yang tidak beres tengah terjadi di akademi tersebut. Pada awalnya Suzy tidak begitu menghiraukan, akan tetapi saat ia sendiri mulai merasakan banyak keanehan dan ditambah dengan menghilangnya Sarah, mau tidak mau ia harus menyelidiki apa yang tengah terjadi.

‘Suspiria’, adalah upaya perdana sang master horor ternama Italia, Dario Argento, diwilayah horor supranatural. Ditulis bersama Daria Nicolodi, film dipenuhi oleh visual rancak karya warna khas Argento. Atmosfir kelam dan seram dibangun Argento dengan presisi yang matang, sehingga ketegangan yang merambat bisa dibangun dengan baik.

Kelebihan lain dari Argento adalah menghindarkan kesan jenerik dalam pendekatan narasinya. Sebenarnya, ceritanya juga tidak luar biasa dan dengan mudah kita dapat menebak kemana cerita akan bergerak atau siapa saja villain-nya.

Akan tetapi dengan teknik penanganan kamera yang istimewa dan sudut-sudut yang tak biasa, menambah imaji visual yang psikadelik. Apalagi dengan dukungan penggunaan warna-warna, terutama merah, selain terkesan sebagai metafora dan menghasilkan gambar-gambar yang indah seolah-olah lukisan yang hidup, juga menambah kekelaman yang surealistik dalam atmosfirnya.

Argento sendiri terkenal flamboyan dalam sadisme, sehingga kekerasan yang vulgaristik dan grafis sulit untuk dihindari, meski dalam konteks kekinian yang seolah-olah tergila-gila akan gore yang memuakkan, tidak akan begitu meyakinkan. Namun, pada jamannya, ‘Suspiria’ pastilah mampu menciptakan efek ngeri yang efektif. Bahkan dengan memakai tagglineThe Only Thing More Terrifying Than The Last 12 Minutes Of This Film Are The First 92” tentunya menambah rasa percaya diri film ini dalam meneror penontonnya.

Masalahnya, demikian pula yang terjadi pada film ini. Klimaks yang sepertinya dirangka dengan tergesa, sehingga terasa kurang seimbang dengan segala kerumitan yang sudah dibangun Argento dalam menggiring dan mencekam penontonnya dalam rasa penasaran.

Namun, tetap saja, sebagai sebuah film yang kini dianggap klasik, ‘Suspiria’ dan Argento adalah judul dan nama untuk sebuah kengerian yang mumpuni. Apalagi dengan telah dicanangkan sebuah proyek remake kedepannya, maka film ini adalah salah satu yang menjadi daftar wajib bagi penggemar genre horor.

Trivia:
Ohya, ini adalah bagian pertama dari trilogi horor supranaturalnya yang diberi nama ‘The Three Mothers’, yang diikuti oleh ‘Inferno’ (1980) dan ditutup dengan ‘The Mother of Tears’ (2007).

Advertisements

One thought on “Suspiria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s