Air Doll

Apakah modernitas telah mengonsumsi manusia menjadi insan murung dan terisolasi dengan sekitarnya? Hidup berdasarkan esensinya sendiri dan sulit atau malah menolak lebur dengan sesamanya dikarenakan terputusnya jaring koneksi. Menjadi pribadi-pribadi galau yang seolah kehilangan orientasi, disetir oleh rasa hampa di benaknya.

Tubuh fana Nozomi (Bae Doona, Sympathy for Mr. Vengeance, The Host) berisi udara yang hampa tapi dia punya ‘hati’ yang menggerakkannya untuk mencintai Junichi (Arata) rekan kerjanya di toko persewaan video. Pelan-pelan ia belajar tentang Junichi, apa yang disukainya, kebiasaannya dan sebagainya. Proses tersebut perlahan meniupkan euforia akan perasaan bahagia yang membuncah.

Dikala malam tiba, ia pulang dan kembali siap melayani nafsu pemiliknya, Hideo (Itao Itsuji), seorang pria paruh baya yang bekerja sebagai pelayan restoran. Dihadapan Hideo, Nozomi akan mematung, tak bergerak satu inchi pun, membiarkan pria itu memuaskan birahinya. Kenapa Nozomi tidak melawan atau meninggalkan saja Hideo? Karena Nozomi sebenarnya adalah sebuah air doll yang berguna sebagai alternatif pelampiasan hasrat seksual manusia. Pada suatu hari, tanpa sepengetahuan siapapun, Nozomi tiba-tiba berubah menjadi hidup.

Dia mulai berkeliaran dan beradaptasi dengan kehidupan barunya. Perlahan-lahan dia pun bertindak-tanduk seperti manusia sejati, meski sebenarnya ia tetaplah senaif anak kecil. Pada satu kesempatan, Sonoda (Joe Odagiri, Shinobi, Hearts Under Blade) pembuat dirinya bertanya, apakah Nozomi merasa jika kehidupan ini indah. Nozomi tersenyum padanya dan mengiakan.

Diangkat dari manga karya Yoshiie Gōda yang berjudul sama, ‘Air Doll’ (空気人形 – Kūki Ningyō⁠) adalah dongeng Hirokazu Koreeda (Nobody Knows) tentang kehilangan dan kehampaan dalam masyarakat kontemporer. Hasilnya adalah sebuah drama humanis yang menyentuh, akan tetapi mengalami kelonggaran narasi yang cukup substantif.

Koreeda sebenarnya bisa saja memilih filmnya menjadi sebuah komedi-romantis misalnya, yang tidak memerlukan bumbu sakarin atau klise yang tidak perlu, karena materi asli sebenarnya sudah mendukung. Meski ada suasana yang komedik, akan tetapi Koreeda ternyata lebih memilih pendekatan yang statis dan kontemplatif.

Cerita tidak hanya berkisar tentang Nozomi, Junichi dan Hideo saja, akan tetapi karakter-karakter satelit dimasukkan untuk memberi penekanan pada ceritanya. Kecendrungan untuk menjadi absurd dan sureal dieleminir karena Koreeda memberi pendekatan pada penceritaan yang lebih realis. Dukungan musik yang inspiratif oleh World’s End Girlfriend pun padu meniupkan visual yang menggugah.

Masalahnya adalah pada beberapa bagian sub-plot yang diisi oleh karakter-karakter satelit tersebut mengambil jatah durasi terlalu panjang dan mengganggu struktur naratif. Tidak menjadi masalah jika saja mereka melekat dengan baik kedalam plot utama, sebaliknya mereka terasa lebih seperti insert-insert yang berdiri sendiri dan pada akhirnya hanya memberikan aksentuasi pada akhir cerita.

Sebenarnya durasi pun bisa dipangkas dengan meringkas dan memadatkan beberapa bagian. Pada akhirnya, menjelang paruh akhir, film seperti kehilangan fokus pada esensinya. Tentu ‘Air Doll’ akan lebih implementatif jika saja itu dilakukan.

Beruntung ada Bae Doona disini. Tanpa ada eksistensi dirinya, niscaya film akan cenderung membosankan, apalagi jika karakternya diadaptasi dengan cara yang salah. Doona meniupkan ruh Nozomi dengan intensitas sekaligus subtilitas yang padu. Persona Nozomi sebagai sebuah air doll yang berubah menjadi hidup dibangun dengan antusiasme yang mengagumkan oleh Doona. Sulit untuk tidak menyukai Nozomi.

Dan bukankah Nozomi adalah personifikasi bagi kita semua? Sosok berisi udara hampa, akan tetapi mengikuti kata hati dalam mencari kebahagiaan kita. Kehampaan bukanlah menjadi halangan bagi kita untuk menjalin interelasi dengan orang lain, karena tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri.

Everybody needs everybody. And I need you like you need me. So, let’s make connection together.

PS
This review dedicated to Satrio Nindyo Istiko aka Labirin Film.

Advertisements

4 thoughts on “Air Doll

  1. LABIRIN FILM says:

    Koneksi!!itu dia…manusia itu suka memain-mainkan koneksi dengan manusia lainnya tanpa sadar kalau koneksi itu tercipta dari hati ke hati bukan dari daging ke daging. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s