[Tafsir Mimpi] Inception (2010) – Film Review

Tulisan ini dalam paradoks tertentu adalah SPOILER.

Saya pernah menonton sebuah film (yang katanya) horor berjudul Soul Survivors. Film yang dibintangi oleh Cassey Affleck, Wes Bentley dan Eliza Dhusku itu mencoba memanipulasi penonton tentang apa itu batas realitas sebenarnya. Penuh dengan potensi, sayang eksekusinya buruk. Namun, film tersebut mampu membuat saya berfikir, apa itu parameter kenyataan?

Atau apakah kita sebenarnya adalah seorang Truman Burbank, yang mengira telah hidup dengan penuh, akan tetapi sebenarnya menempati ruang hidup yang sempit? Tapi Truman itu sendiri pun kemudian mulai mencurigai batas realitas kehidupannya sendiri.

Inception menurut Christopher Nolan adalah upaya untuk menanamkan ide tertentu ke fikiran seseorang dengan cara memasuki mimpinya. Adalah Cobb (Leonardo DiCaprio), seorang pakar pencuri mimpi yang mendapatkan tugas melakukan inception dari Saito (Ken Watanabe), seorang jutawan, kepada anak saingannya yang telah meninggal, Robert Fischer Jr. (Cillian Murphy), dengan imbalan jaminan kepada Cobb untuk dapat kembali menemui anak-anaknya yang telah lama ditinggalnya.

Cobb sendiri adalah seorang pelarian karena dituduh melakukan pembunuhan terhadap istrinya Mal (Marion Cotillard). Oleh karena itu, anak-anaknya kemudian dititipkan kepada sang mertua, Miles (Michael Caine).

Tawaran yang sangat menggoda tentu saja. Dengan segera Cobb lantas membentuk tim andal untuk mendukung proyeknya. Ada Arthur (Joseph Gordon-Levitt), tangan kanannya selama ini; Eames (Tom Hardy), ahli manipulasi wujud dalam mimpi; Ariadne (Ellen Page), seorang arsitek muda berbakat, dan Yusuf (Dileep Rao), seorang ahli kimia. Saito sendiri ternyata berkeinginan untuk turut menyertai misi mereka.

Tujuan mereka adalah menyusup kebenak Fischer dan kemudian menanamkan ide agar ia menolak untuk meneruskan menjalankan usaha ayahnya yang baru meninggal. Untuk melaksanakan tugas ini, mereka akan memasuki beberapa lapisan mimpi atau mimpi dalam mimpi.

Rangka waktu tiap tingkatan berbeda-beda, dimana semakin dalam memasuki level mimpi, maka akan semakin lambat waktu berjalan. Jadi 5 menit dalam dunia nyata berarti satu jam dalam level pertama, 10 jam dalam level kedua dan seterusnya.

Jika seseorang mengalami kematian dalam mimpi, otomatis dia akan terbangun. Akan tetapi jika seseorang mengalami mimpi yang dikarenakan tidak sadar oleh pembiusan dan kemudian mengalami proses kematian, maka ia akan memasuki Limbo, suatu wilayah alam mimpi dimana waktu semenit bisa berarti berpuluh tahun.

Tugas yang mereka lakukan tentu saja tidak mudah, karena alam bawah sadar objek yang akan mereka infiltrasi memiliki sistem pertahanan otomotis yang berbahaya, berupa sosok-sosok manusia bersenjata yang bertugas melindungi alam bawah sadar sipemiliknya.

Maka dimulailah petualangan berbahaya menembus mimpi dan alam bawah sadar untuk menanamkan ide-ide yang diingankan dalam benak sang objek. Akan tetapi, alam bawah Cobb sendiri pun menyimpan rahasia tersendiri dan tampaknya ingin menyabotase misi mereka.

Jika dalam The Dark Knight, Christoper Nolan mengubah perspektif dalam menyimak film superhero dengan meniupkan ruh crime thriller yang intens, maka dalam Inception, sebuah fiksi-ilmiah menjadi mainan Nolan untuk bermain-main dengan konstruksi psikologis manusia.

Ide-ide yang ditawarkan Nolan dalam film ini sangat inventif dan segar serta menantang intelejensia. Tapi apakah ini film yang rumit dengan struktur kompleks seperti Memento misalnya? Tidak juga.

Nolan justru dengan murah hati mempresentasikan Inception dalam narasi linear dengan memberi banyak asupan eksposisi secara verbal disana-sini. Yang perlu kita lakukan hanya mencermati, menyerap dan mengaplikasi.

Sampai kemudian film berakhirlah dalam klimaks yang membuat kita terpengarah. Tidak bisa tidak, kita kemudian menjadi bertanya-tanya, apa maksud dan tujuan Nolan sebenarnya? Apakah dia menantang kecerdasan penontonnya atau justru ingin mengejek?

Bagi beberapa orang, mungkin saja adegan penutup di film itu tidak begitu penting, hanya detil, karena Nolan bisa saja hanya ingin memberi nyawa pada filmnya dengan epilog yang aksentuatif dan sensasional.

Tentu saja ini adalah sebuah film yang bercerita tentang proses ketimbang hasil akhir. Mari abaikan saja ending tersebut dan biarkan dia menjadi paket sinema yang sebenarnya banal dan linear akan tetapi dibungkus dengan presisi plot yang cerdik dan balutan laga mendebarkan.

Tapi bukan Nolan namanya jika Inception melulu adalah sebuah hasil karya yang sederhana. Dengan gemilang ia mengajak kita bermain-main dengan sel-sel kelabu di otak kita. Film ini adalah sebuah labirin dan meminta kita masuk kedalamnya. Sebuah psiko-analisa yang mungkin saja bisa menjadi tugas bagi murid-murid Sigmund Freud untuk ditelaah jika ia masih hidup dan mengajar sekarang.

Apakah saya terdengar berlebihan? Mungkin saja. Tapi mungkin saja tidak. Karena sebagaimana konsep tingkatan atau level mimpi yang ditawarkan oleh Nolan maka film bercerita tentang paradoks. Sebuah paradoks tentang sudut pandang tertentu yang akan terlihat sangat sederhana, namun jika mengalami alterasi, maka kemungkinan besar pula dia akan mengalami pembengkokan.

Plot Inception sendiri secara umum dilihat melalui sudut pandang Cobb. Kita diarahkan untuk berfikir dan bertindak seperti Cobb. Namun bagaimana jika kita memandang dari sudut pandang karakter yang lain? Karakter tertentu yang khusus. Maka tentu saja persepsi akan berubah. Apakah ada seekor kucing Schrödinger disini atau malah cuma seekor kucing kampung dalam karung?

Ada beberapa catatan yang secara sengaja ingin saya ajukan disini yang mungkin berkorelasi dengan asumsi diatas:

  1. Apakah konsep tingkatan dalam mimpi mengingatkan akan konsep bawang yang berlapis, juga mengindikasikan jika dalam narasi ada narasi lain yang berjalan?
  2. Dan ini mungkin akan terasa berlebihan, akan tetapi dengan dukungan banyak aktor watak, karakter mereka malah terasa kurang berkembang dan cenderung dua dimensi. Apakah ini sebuah kesengajaan?
  3. Adegan tertentu lebih dari sekali dengan sengaja mengalami pengulangan dan kemudian mengalami sedikit perubahan detil.
  4. Karakter yang diperankan oleh Ellen Page bernama Ariadne dan dalam mitologi Yunani, nama tersebut adalah milik seorang perempuan yang menolong Theseus melarikan diri dari labirin milik Minotaur.
  5. Nama-nama karakter dalam film ini dalam frasa tunggal, kecuali tentu saja Robert Fischer Jr.

Baiklah, saya sudah terdengar seperti penggemar teori konspirasi sekarang. Haha. Akan tetapi poin yang ingin saya sampaikan adalah Nolan mencoba memanipulasi kita dengan sebuah imaji ganda, tapi bukan berarti ingin melecehkan tingkat kecerdasan kita, namun malah ingin kita berdamai dengan alam bawah sadar kita, sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh Cobb.

Yang pasti, terserah pada penonton tentu saja, untuk menginterprestasikan film ini dalam perspektif mereka masing-masing, dalam bentuk apa pun itu. Dan adalah suatu hal yang sangat jarang akhir-akhir ini ada film yang membutuhkan diskusi panjang setelah menyaksikannya. ‘Inception’ adalah contoh sukses untuk itu.

Ditengah kemandekan ide-ide orisinil di wilayah kerja Hollywood, Chris Nolan sekali lagi membuktikan jika ia selalu mempunya visi tersendiri dalam setiap proyek sinemanya. Maka film bukan melulu sebuah eskapis belaka, akan tetapi juga bisa menjadi sebuah pengalaman batin yang teramat jenial.

22-inception-creative-movie-poster-design
★★★★½☆
Advertisements

32 Comments

  1. oh wow, nice review. Gw ntn 2x, 2 hr berturut2 dan masih terpesona dgn apa yg Nolan perbuat.
    Buat gw pribadi, film ini, dan endingnya menawarkan banyaak sekali kemungkinan, terserah qta sbg penonton lbh percaya yg mana. Hahaha.
    Alam pikiran manusia emang langit tanpa batas. Dan Nolan berhasil membawa penonton menjelajahinya.

  2. bingung mau kasih pujian apalagi ama ni film, 2x nonton , 2x mangap2 kagum… anyway, jadi ngefens ama JGL sekarang :”>

  3. “Oleh karena itu, anak-anaknya kemudian dititipkan kepada sang mertua, Miles (Michael Caine).”

    eh?? dititipin ke neneknya atau ke kakeknya (Michael Caine) sih??

  4. spoiling ending-nya yuk.. huaghaghaghahh..

    ah, setelah membaca review ini sambil mengingat2 inception tadi, jadi makin ngerti.. hehehe..

    ingat Theo: lain kali, kalo mau ke bioskop, ndak boleh makan makan nasi goreng!!!

  5. Filmny bgs..dn reviewny jg ☺k• ☺k• ☺k..yg pst nonton film ini hrs fokus dn konsen,jd ngerti ceritany..‎​​​​Нę².. “̮ нę².. “̮ нę².. “̮ нę² klo sambil ngegosip ma penonton sebelah pst jd ngerasa film ini ngebosenin..makany bwt yg blm ntn hrs fokus yh.. :p
    Pokokny film ini “KEREEEENNN”

  6. benar-benar film yang sangat kereeeeeeeeeeeeeen!!!!
    mau nonton lagi untuk yang kedua kalinya atau bahkan yang ketiga kalinya!

  7. di salah satu socmed, tman saya bilang ini film yg `jelek` dari ide ceritanya, ybs menyebutkan kalo emang mau mempengaruhi orang lain ,knapa tidak dihipnotis saja , tapi malah repot2 masuk ke mimpi,, bagaimana pendapat bang haris?

    1. Wah, teman mimi itu berfikir terlalu kompleks. Siapa bilang Nolan ingin menghipnotis orang, wong dia cuma ingin mengajak orang masuk kedalam dunia mimpi kreasinya. Inti film ini sederhana aja kali. Tapi Nolan sengaja meruwet2kan narasinya dalam layer, karena bukannya mimpi seperti itu? Dan disitulah juaranya Nolan. Lagipula, kalau diperhatikan baik2, film ini sebenarnya metafora bagi Nolan sebagai sineas.

      SPOILER:
      Cobb – Produser
      Saito – Produser Eksekutif/Penanam Modal
      Arthur – Sutradara
      Ariadne – Penulis Skrip
      Yusuf – Ahli teknis produksi
      Mal – Kritisi
      Fischer Jr. – Penonton

      Bukankah tujuan mereka ingin menggiring pemikiran Fischer Jr aka penonton tadi? 😉

  8. hmm,, kurang lebih temen mi tuh berpendapat bgini :
    ManukPlurkutut
    “Inception” repot amat mensugesti seseorang lwt mimpi,gampangan pake “Hipnotise”…film’e wagu (LOL)
    ,,bwt ap susah payah masuk ke dunia mimpi org laen klo ujung2’y cm mensugesti…garing :-&
    ,,memang kenyataan film’y kurang greget,pdhl ak berharap ad sesuatu yg penting tuk dcuri dr mimpi.
    justru krn menanamkan ide itu yg bikin gak menarik,terkesan hipnotis banget 😀

    :D.. gmana bang?

  9. eerr,, mi juga bilang beda selera mungkin, tapiya bgtu jawabnya ~.~… ga tahu deh, malah td malam bilang untuk ide cerita masi lebih bagus prince (hindi,2010)…

    tapi ya sudahlah, masih banyak yg suka inception kok :D…
    juara imdb sekarang ^^.v

    1. Errr, dan aku udah ntn Prinze dan dia lebih bagus Inception? Yah, maaf Mi, aku curiga temanmu memang agak payah dalam soal selera, hehehehe

  10. saya sedang menonton inception, tapi ketiduran ditengah film…dalam tidur saya bermimpi, saya sedang nonton film inception di adegan sebelumnya….ditengah mimpi itu dalam itu saya tertidur dan bermimpi kembali melakukan hal yang sama….terus hingga saya menulis reply ini….nah sekarang saya sendiri masih ragu dan tidak begitu yakin saya udah bangun apan masih dalam mimpi….(,”)?

Comments are closed.