The Crying Game

“…and as they both sink beneath the waves, the frog cries out, “Why did you sting me, Mr. Scorpion? For now we both will drown!” Scorpion replies, “I can’t help it. It’s in my nature!”

Suatu malam dipertengahan 1993. Impuls seorang remaja laki-laki untuk keluar dari rumah sudah menggebu-gebu. Malam itu adalah malam di hari sekolah. Tidak seharusnya dia keluar. Tapi dengan alasan belajar bersama ia pun akhirnya diizinkan. Alih-alih rumah temannya, ia malah menuju bioskop yang hanya berjarak kurang lebih setengah kilometer dari ia tinggal. Ternyata ia hendak menonton film yang berjudul ‘The Crying Game’. Sebuah film yang sudah beberapa bulan terakhir menggedor-gedor fikirannya.

Ia masih beberapa tahun lagi dari usia 17. Belum saatnya ia menyaksikan film dalam klasifikasi dewasa tersebut. Akan tetapi sistem filter penonton di bioskop di kotanya memang longgar. Maka tidak berapa lama ia sudah berada dalam gelapnya salah satu studio di bioskop itu. Nafasnya yang memburu perlahan menjadi teratur. Mulai menyerap dan mencerna kisah Fergus-Dil-Jody yang dipaparkan dalam film itu.

Jody (Forest Whittaker) begitu berhasrat mencumbui Jade (Miranda Richardson), tanpa mengetahui ia tengah memasuki perangkap. Sang prajurit Inggris kemudian menjadi sandera kumpulan anggota I.R.A., sebuah organisasi yang bertujuan untuk membebaskan Irlandia Utara dari Inggris.

Dalam penyekapan, ia malah menjalin keakraban dengan salah satu penyanderanya, Fergus (Stephen Rea). “You’re a good man, Fergus,” kata Jody. Kebersamaan yang dipaksakan malah mempertemukan kecocokan diantara mereka. Berbincang tentang apa saja, membunuh sang waktu. Bahkan Jody menceritakan dongeng katak dan kalajengking yang berakhir tragis kepada Fergus. Pada akhirnya Jody pun membicarakan Dil (Jaye Davidson), kekasih hatinya.

Namun, keakraban mereka harus berakhir. Sudah diputuskan jika Jody harus dieksekusi dan Fergus yang harus melaksanakan. Menyadari takdir yang tak terelakkan lagi, Jody kemudian meminta Fergus untuk mengunjungi Dil. Fergus pun menyetujui.

Tidak berapa lama kemudian Fergus adalah Jimmy, seorang buruh bangunan di kota London. Sesuai informasi yang telah diperolehnya dari Jody, mudah saja bagi Jimmy untuk membayangi Dil. Mudah juga bagi Jimmy kemudian untuk mencintai Dil yang cantik. Di dalam ‘Metro’, sebuah klub malam, keakraban mereka mulai terjalin, terutama lewat perantara sang bartender, Col (Jim Broadbent).

Jimmy begitu terpana pada Dil. Ia seolah tergila-gila padanya. Bahkan saat ia mengetahui siapa itu Dil sebenarnya. Meski awalnya merasa terganggu, namun kemudian tidak menghalangi dirinya untuk tetap menemui Dil. Tapi apakah Dil akan bersikap sama seandainya ia mengetahui Jimmy sebenarnya adalah seorang Fergus? Apalagi masa lalu Jimmy kemudian mulai masuk kembali dalam kehidupannya. Maka Jimmy atau Fergus harus mengambil keputusan yang terbaik untuk semua, meski bayang-bayang sang maut mulai mengancam dari sudut.

Sepulang dari bioskop, sang remaja berjalan dengan gontai. Pikirannya masih dipenuhi dengan apa yang baru disaksikannya. Ia terperangah akan kuatnya sebuah kekuatan bernama cinta itu, sehingga menafikan logika dan akal sehat. Ia kagum pada Neil Jordan, sang pengarah film, yang begitu fasih membangun jaring relasi antar-karakter di dalamnya. Begitu pandai meramu naik-turunnya emosi dirinya sebagai penonton terhadap jalinan ceritanya. Adegan-adegan yang dibangun dengan gestur dan mimik para aktornya. Menimbulkan simpati yang mendalam pada karakter-karakter yang mereka mainkan. Meski sebenarnya tempo film berjalan dengan cukup lambat, akan tetapi mampu menyedot perhatiannya, sehingga nyaris dua jam sudah terlampaui.

Tanpa ia sadari, ia jatuh cinta pada film ini. Ia merasakan kepedihan dalam kerinduan yang dalam serta hasrat dicintai-mencintai yang dipaparkan oleh karakter-karakternya. Ia ingin menjadi Jody. Ia ingin menjadi Fergus. Ia ingin menjadi Dil. Ia dimabukkan oleh genta cinta yang bertabuh lamat-lamat diudara.

Kelak ia akan sadar jika dalam ‘The Crying Game’, Jordan sebenarnya merangka sebuah thriller yang sangat kompeten meski dalam balutan dramatisasi yang dipenuhi oleh romansa. Bukan romantisme picisan tapi kisah cinta yang secara psikologis menohok nurani. Mengobok-obok nalar dan empati.

Belasan tahun berlalu dan ia masih belum bisa melupakan mereka. Bagaimana ia bisa melupakan sesuatu yang menorehkan kegalauan sekaligus damba dalam hati dan jiwa mudanya? Menanamkan ide dibenaknya, tidak ada yang bisa merubah apa dan siapa dirinya. Tidak ada. Karena dia adalah si Kalajengking.

As the man said, it’s in my nature.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s