The Burning

Care for some vintage violences, gores or (full frontal) nudity, folks?

Kesuksesan ‘Friday the 13th’ di awal 1980an benar-benar mampu menghasilkan banyak epigon, selain tentunya membangkitkan semangat untuk menghasilkan sejumlah film slasher. Yep, bisa dikatakan jika era 80an adalah dekade dimana slasher bertaburan dimana-mana. Salah satunya adalah ‘The Burning’ (1981), sebuah film yang jelas-jelas mengambil esensi dan semangat slasher in the wood ala ‘Friday the 13th’.

Ada beberapa poin yang membuat kini ‘The Burning’ layak untuk disimak kembali, yaitu ini termasuk proyek film awal dari studio independen Miramax Films milik kakak beradik Harvey dan Bob Weinstein. Selain itu, Bob juga berperan sebagai salah satu penulis cerita. Rick Wakeman, kibordis dari kumpulan musik ternama Yes, berperan sebagai penata musik. Dan yang paling utama, Tom Savini, sang empu efek make-up ternama pada eranya, memberi sentuhan uber-realistis dalam kadar gore tingkat tinggi yang terkandung difilm. Pada akhirnya, menurut saya pribadi, film ini justru dapat tampil lebih menegangkan ketimbang film yang diekorinya.

Cropsy (Lou David) adalah penjaga sebuah summer camp bernama Camp Blackfoot. Suatu hari, beberapa anak yang tidak suka pada kelakuannya yang aneh berniat untuk mengerjai dirinya. Sayangnya, hal yang dimaksud sebagai sebuah keisengan berakhir petaka. Sekujur tubuh Cropsy terbakar! Selama lima tahun kemudian ia harus dirawat dirumah sakit. Pada saat keluar dari rumah sakit, dengan berpenampilan khas ala pembunuh di film-film giallo (sarung tangan hitam, topi, jaket panjang), ia menemui seorang pelacur. Mungkin depresi akibat kecacatan dirinya secara fisik, dengan sadis ia membunuh sang pelacur yang ketakutan saat melihat wujud aslinya.

Cerita berpindah ke Camp Stonewater, yang terletak tidak jauh dari Camp Blackfoot. Dipenuhi dengan para remaja yang menghabiskan liburan mereka serta tentu saja para pengawasnya. Film kemudian memberi pengenalan pada beberapa karakter, yang pastinya didominasi oleh tipologi karakter-karakter streotipe ala film sejenis. Pembuli, yang dibuli, nerd, slut, dan sejenisnya, jenis karakter yang kita sebenarnya tidak terlalu pedulikan, yang hadir hanya sebagai alat bagi cerita untuk menghasilkan ‘korban’. Cerita yang bertujuan untuk menakuti-nakuti penontonnya dengan teror darah dan kematian. Dan tentu saja Cropsy adalah agen penyebar teror, darah dan kematian tersebut. Bersenjatakan gunting kebun nan besar dan tajam, kematian yang banjir dengan darah adalah jaminan bagi karakter-karakter dalam film ini.

Terlepas dari jeneriknya cerita yang diusung oleh ‘The Burning’ akan tetapi kinerja Tony Maylam sebagai sutradara patut diberi nilai lebih. Meski agak berlarat dalam tempo, terutama dalam porsi dramanya, namun ketegangan yang diperlukan dalam film ini berhasil dibangun dengan baik. Sebagai misal saja, teknik P.O.V. dari “sang pembunuh” yang mungkin saja bukan hal yang iventif, akan tetapi Maylam berhasil membangun unsur menyeramkan dan kegelisahan dengan upaya ini. Bahkan beberapa sudut pandang mengingatkan akan apa yang ditampilkan oleh ‘Predator’ (1987), meski tanpa efek infra merah, namun berimbas sama karena kesan “mengancam” dan “bahaya” dapat dieksekusi dengan baik. Seting hutan pun berhasil diperdayagunakan sebagai instrumen penghasil kesuraman dan kemisteriusan serta pastinya mendukung atmosfir cekam yang ingin disampaikan oleh Maylam.

Akan tetapi, dagangan utama dari film-film sejenis ini tentu saja adalah “adegan kematian” dan “bagaimana cara korbannya menemui mautnya”? ‘The Burning’ menyediakan efek gore yang memuaskan. Terima kasih untuk Savini tentu saja, penusukan, penikaman, pemotongan, dan saudara-saudaranya berhasil dibangun melalui premis efek khusus yang tampil dengan sangat meyakinkan.

Kelebihan lain dari ‘The Burning’ adalah berhasil memberikan beberapa adegan yang sangat berkesan. Sebagai contoh adalah pembantaian rakit di tengah danau. Cropsy seolah-olah diizinkan untuk berpesta darah dengan sadisme dan kekejaman dalam kadar yang cukup tinggi. Para korban hanya bisa pasrah menerima nasib menggenaskan mereka, tanpa sempat untuk melawan, karena kehadiran Cropsy yang tiba-tiba bagai tamu tak diundang dalam sebuah pesta. Efek yang sama juga didapat oleh penontonnya.

Dikarenakan oleh kandungan sadisme dan kekerasan yang cukup mendominasi, maka ‘The Burning’ sempat pula masuk kedalam daftar Video Nasty di Inggris. Pada saat rilis, film ini sebenarnya mendapat pemangkasan yang cukup signifikan oleh badan sensor Amerika, dikarenakan tingkat kekerasan yang tinggi tadi. Namun, saat beredar versi video yang tidak mengalami penyensoran di Inggris, membuat ‘The Burning’ kemudian masuk kedalam daftar tersebut, bersama dengan ‘Cannibal Apocalypse’, ‘The Dorm That Dripped Blood’, ‘I Spit on Your Grave’, ‘The Toolbox Murders’ dan sebagainya (sungguh, daftar lengkapnya terlihat sangat menggairahkan, hahaha).

Dan jika ada kloning yang secara esensi malah terlihat lebih baik dari materi aslinya, maka ‘The Burning’ adalah contoh sukses untuk itu. Penuh dengan “semangat” dalam membantai karakter-karakternya, sekaligus meningkatkan adrenalin darah penontonnya dan mengingatkan akan pameo bahwa menonton film horor itu terkadang seperti naik roller coaster. Penuh dengan eskalasi emosi yang diliputi ketegangan, akan tetapi tersenyum puas setelah selesai menaikinya.

Advertisements

2 thoughts on “The Burning

  1. apatisvian says:

    blom nontoonnn… *malu*

    tapi kalo baca sinopsisnya lebih mirip ke my bloody valentine kayaknya yah…

    btw, lagi hobi bgt nonton ulang ama nge-review film2 klasik nih bro? 🙂

    • jalangfilm says:

      Nonton dong. Seru…hahaha

      Gak lah. Beda dgn My Bloody Valentine. Lbh mirip dgn Friday The 13th.

      Iya nih. I miss that ‘ol good horrors. Lebih berkesan, even dgn efek yg lebih seadanya ketimbang film2 sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s