Salt

Apa jadinya jika sebuah film aksi-laga mengalami penulisan ulang dari yang seharusnya mempunyai karakter utama berjenis kelamin laki-laki diubah menjadi perempuan? Agak sedikit riskan sepertinya. Namun, saat Tom Cruise, aktor yang semula diproyeksi untuk film ini merasa jika karakternya sangat mirip dengan karakter Ethan Hunt dalam seri ‘Mission: Impossible’, maka Edwin A. Salt pun berubah menjadi Evelyn Salt, dan ditangan seorang Angelina Jolie, maka hal tersebut bukanlah menjadi halangan yang krusial.

Salt adalah seorang agen CIA yang yang dituduh menjadi mata-mata bagi KGB, agensi rahasia Rusia yang telah dibekukan, oleh Orlov (Daniel Olbrychski), seorang Rusia yang tengah diinterogasinya. Salt juga dituduh akan melakukan pembunuhan kepada Presiden Rusia yang akan menghadiri pemakaman Wakil Presiden Amerika. Meski rekan Salt, Ted Winter (Liev Schreiber) tidak mempercayai hal tersebut, namun agen Peabody (Chiwetel Ejiofor) berkeras untuk menahan Salt. Merasa difitnah, Salt lantas melarikan diri. Apalagi ia kemudian ia menyadari jika suaminya, Mike (August Diehl) telah menghilang. Tentu saja Peabody dan Winter mengejarnya. Maka dimulailah serentetan aksi laga mendebarkan dalam upaya Salt melepaskan diri dari pengejarnya. Perlahan tapi pasti Salt juga mulai menunjukkan identitas dan motivasi diri yang sebenarnya.

‘Salt’ jelas sangat bertumpu pada serangkaian sekuens laga yang dilakukan oleh Angelina Jolie. Sekali lagi aktor kelas Oscar ini membuktikan ia sangat mampu dalam menangani aksi fisik seperti ini, apalagi didukung dengan resume film sejenis yang impresif. Maka ‘Salt’ membuktikan tak butuh seorang Tom Cruise untuk membuat sebuah paket film laga seru yang menggabungkan antara dinamika plot ala Bond dengan sentuhan aksi ala Bourne.

Phillip Noyce, yang sebelumnya telah bekerjasama dengan Jolie dalam ‘The Bone Collector’, tentu saja tidak usah diragukan kapabilitas dalam mengeksekusi adegan-adegan laganya. Meski jelas tidak masuk akal, namun ia berhasil membangun suspense-in-disbelief yang kredibel. Apalagi Jolie memberikan penampilan yang sangat mendukung untuk itu. Sentuhan Noyce dan penampilan Jolie pada akhirnya berhasil padu dalam memberikan laga-aksi yang seru.

Elemen terlemah mungkin terdapat dalam skrip yang ditangani oleh Kurt Wimmer dan Brian Helgeland. Setiap plot-twist-and-turn-nya sangat mudah terbaca, meski upaya untuk membuat kesan misterius dan abu-abu pada perkembangan karakter Salt patut dihargai. Setidaknya film mencoba untuk tidak tampil terlalu melodramatis atau mengejar kesan sensasional saja, karena skrip tetap memberikan plot yang komprehensif tanpa perlu melukai intelejensia penontonnya.

Pada akhirnya skrip jugalah yang membatasi Jolie untuk memberikan kedalaman yang diperlukan agar karakter Salt tampil lebih subtil, meski tendensi untuk itu sebenarnya ada. Plot hanya memberi ruang bagi dirinya untuk terjebak pada serangkaian aksi fisik, yang pastinya ditanganinya dengan baik.

‘Salt’ adalah sebuah paket hiburan yang menawarkan keseruan sebagai esensinya. Dan menurut saya pribadi ia sukses untuk itu. Tampil sebagai sebuah film yang mengalir dengan lancar, meski jelas Angelina Jolie adalah magma yang memberi kinetisme dalam alurnya. Seorang aktor perempuan yang mampu memberi imej keras sekaligus tidak meninggalkan feminitasnya.

Oh ya, penulis skrip Kurt Wimmer adalah yang mengarahkan Milla Jovovich, aktor perempuan lain yang tak kalah hebat dalam aksi-laga, dalam ‘Ultraviolet’. Jika jeli memperhatikan, penampilan fisik Jolie pun mirip sekali dengan Jovovich dalam film itu. Hahaha.

Advertisements

12 thoughts on “Salt

  1. charmymommy says:

    filmnya bagus bgt…penuh intrik dan aksi.jolie emg paling top deh..jatuh cinta sama karakter Salt dan berharap bisa jadi perempuan setangguh dia….kirain dari awal smpe akhir cuma ada adegan seru2an aja.trnyta ada jg adegan mengharukan yg kyny cukup menyentuh.ketika salt menyaksikan dgn mata nya sndri suami yg sangat d cintainya d bunuh dgn tanpa perasaan.tak ada air mata yg menetes,tapi jelas sekali raut wajahnya mengeras menahan sakit dan pedih.mungkin para lelaki yg nonton film ini ga terlalu memperhatikan scene yg satu ini krn mungkin sibuk nunggu2 adegan dar der dor booom selanjutnya.eniwei…..nice review like always….i like it…good job….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s