Exit Music (For A Film): My Own Version of High School Musical

If I could be who you wanted
If I could be who you wanted
All the time, all the time

Saya selalu suka musik. Sama dengan kebanyakan orang, mungkin musik telah menjadi bagian dari keseharian. Semenjak kecil, saya sudah familiar dengan musik. Terima kasih untuk tumpukan kaset era 70an peninggalan orang tua, saya malah tidak begitu mengenal lagu anak-anak pada zaman saya kecil, melainkan lebih tahu siapa itu ABBA, Queens, Bob Marley, Black Sabbath, Rolling Stones dan sebagainya. Meski terdengar asing ditelinga, namun saya menyukai mereka. Menjelang pra-remaja, karena senang mengubek-ubek koleksi Tante, saya mengenal itu siapa Michael Jackson, Madonna, Kylie Minogue, Jason Donovan dan sejenisnya. Kesukaan saya akan musik semakin besar. Tapi sebatas hanya untuk didengarkan.

Sampai kemudian saya memasuki bangku sekolah menengah atas. Mendengarkan musik tidak lagi hanya bersifat kasual. Bukan berarti saya mengaplikasikan musik dalam kehidupan saya dengan bergabung dengan kumpulan musik tertentu, misalnya. Sama sekali tidak. Hanya saja dia kemudian menjadi suatu anomali yang menginsepsi perpektif saya akan hidup yang dijalani.

Saya suka film. Dan menjelang dewasa afeksi itu semakin tinggi saja intensitasnya. Dan kemudian musik kemudian mengambil peran yang signifikan terhadap film dan keseharian saya. Mengapa? Karena kemudian mulai menjadikan musik sebagai soundtrack untuk setiap “adegan” yang terjadi dalam hidup saya. Saya mulai menempatkan peristiwa yang sedang saya alami sebagai bagian dari sebuah kejadian di alur sebuah film. Dan jika ada sebuah adegan yang signifikan terjadi, maka disekitar saya, perlahahan-lahan mulai terdengar lantunan lagu tertentu.

Kenapa itu bisa terjadi? Karena saya mulai menyukai seseorang, perasaan yang sebelumnya tidak saya kenal sama sekali. Tidak penting dia siapa dan bagaimana cerita kami bersama, akan tetapi selama 3 tahun duduk di bangku SMA, lagu-lagu inilah yang bisa dikatakan sebagai komposisi musikalitas kehidupan saya sebagai seorang remaja.

01. Creep – Radiohead
Well, selama masa SMA saya selalu menganggap saya seorang nerd, terlepas apakah itu benar atau tidak, karena dibandingkan sekarang, saya dulu cenderung introvert dan susah membina hubungan dengan orang lain, terutama dalam pertemanan.

But I’m a creep
I’m a weirdo
What the hell am I doin’ here?
I don’t belong here

Pada suatu hari, di jam istirahat, seorang teman menyanyikan lagu ini dengan bermodalkan gitar bolong saja. Ia menyanyikannya dengan penuh perasaan dan penghayatan. Saya langsung jatuh cinta dengan lagu ini dan merasa jika ini adalah anthem yang saya perlukan sebagai bagian kehidupan sebagai seorang so-called nerd. Seseorang yang tidak dimengerti oleh lingkungannya.

02. Linger – The Cranberries
Ini adalah salah satu lagu paling romantis yang saya tahu. Yah, dalam konteks tertentu tentu saja.

But I’m in so deep
You know I’m such a fool for you
You got me wrapped around your finger
Do you have to let it linger

Lagu ini paling bisa menggambarkan perasaan saya selama 3 tahun kepadanya. Bahkan bertahun-tahun kemudian, saat perasaan tersebut enggan luntur dan menghilang. Pedih, rindu, sayang, benci, semua berputar-putar dibenak saat teringat kepadanya.

03. Wonderful – Adam Ant
Did I tell you you’re wonderful?
I miss you yes I do
Did I tell you that I was wrong?
I was wrong
Cos you’re wonderful, yeah

Setiap memandang dia, maka sontak lagu ini yang tiba-tiba memenuhi ruang dan udara yang saya tempati. Dia adalah sosok terindah yang pernah saya lihat, juga rasakan. Betapa besar keinginan saya untuk memilikinya, sebesar keinginan saya untuk menafikan dirinya. It felt so right and also wrong at the same time.

04. Various Mash-Up
Tentu saja saya mendengarkan banyak jenis lagu pada saat saya duduk dibangku SMA. Namun, inilah yang menjadi favorit saya dimasa itu dan tentu saja berperan penting mengisi musikalitas “drama” yang tengah saya jalani:

• 1979 – Smashing Pumpkins
• High and Dry – Radiohead
• Fake Plastic Trees – Radiohead
• Secret – Madonna
• Confide in Me – Kylie Minogue
• Come Undone – Duran Duran
• Streets of Philadelphia – Bruce Springsteen
• Live for Today – Cicero feat Sylvia Mason James

05. I’ll Remember – Madonna
Apa jadinya sebuah film tanpa exit music, ya kan? Sebagai penutup untuk drama anak sekolahan saya, maka saya rasa lagu ini yang paling cocok untuk menemani barisan kredit yang keluar diujung film. Sebuah closure. Sekaligus penanda, jika it’s over. Finish. The end. Terlepas apakah dia memakai sebuah Hollywood Ending atau tidak, it’s a Fin.

I learned to let go of the illusion that we can possess
I learned to let go
I travel in stillness
And I’ll remember happiness
I’ll remember

So, apakah kebiasaan memakai lagu-lagu tertentu sebagai soundtrack bagi kehidupan saya masih dilakukan? Yep, sampai sekarang. Dengan mereka kehidupan saya terasa lebih berwarna dan saya seperti sedang menjalani sebuh film dimana saya adalah pemeran utamanya.

Mine, immaculate dream made breath and skin
I’ve been waiting for you
Signed, with a home tattoo,
Happy birthday to you was created for you

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s