The Dorm That Dripped Blood

Pada suatu hari, di tahun 1982 yang lalu, dua orang mahasiswa UCLA bernama Stephen Carpenter and Jeffrey Obrow merasa perlu untuk membuat suatu proyek demi memuaskan passion mereka terhadap film. Sayangnya bujet mereka dalam skala yang sangat mikro. Lantas apa yang bisa dilakukan? Hmm, Carpenter punya ide cemerlang, kenapa tidak membuat film horor saja? Hey, asrama kampus kita tercinta ini bisa loh jadi setingnya. Coba, pasti ada deh cerita-cerita seram tentang asrama.

Tapi, sepertinya terlalu berat diongkos dan ribet di plot ya kalau membuat sebuah cerita hantu? Nah, bagaimana jika ceritakan saja tentang teror berdarah oleh sosok misterius kepada penghuni asrama? Untuk menghemat, katakan saja asramanya hendak dirubuhkan, jadi penghuninya sudah berpindahan. Sisakan sedikit orang dengan dalih mereka bertugas untuk membersihkan asrama tersebut. Jangan lupa masukkan beberapa orang lagi yang akan mengambil peran sebagai red herring. Terus ajak aktor-aktris kenalan kita untuk bermain didalamnya dan rekrut para kru dari teman-teman kalangan mahasiswa. Pilih judul yang sensasionil. Semakin norak semakin bagus.Voila, jadilah ‘The Dorm That Dripped Blood’!

Kecuali Daphne Zuniga (Melrose Place), yang nantinya akan bermain di slasher lain berjudul ‘The Initiation’ dan juga ‘The Fly II’, maka aktor lain yang membintangi film ini memang relatif tidak terkenal. Bahkan mungkin bagi Laura Lapinski, Stephen Sachs, David Snow dan Pamela Holland, ‘The Dorm That Dripped Blood’ adalah satu-satunya film yang memberikan mereka porsi peran lumayan besar. Menilik akting mereka disini, hal tersebut memang susah dihindari. Ngomong-ngomong, pilihan kepada Lapinski sebagai final girl benar-benar sebuah kesalahan, disamping tidak berkharisma sama sekali, secara fisik juga kurang menunjang, hahaha. Tidak heran jika film ini adalah satu-satunya film yang pernah ia bintangi.

‘The Dorm That Dripped Blood’ atau dikenal juga ‘Pranks’ benar-benar payah. Terlepas dari adegan pembuka, dimana tangan seorang pria mengalami mutilasi, maka tidak ada benar-benar darah yang menetes disini. Semua adegan pembantaian hanya berupa teaser tanpa aktualisasi yang grafis dan itu juga dalam kelebatan mata saja. Heran juga kenapa bisa masuk dalam daftar Video Nasty di Inggris sana.

Semakin parah saat film sepertinya mengalami krisis teknis yang lumayan akut, mulai pecahayaan yang minim, audio yang buruk, sampai sinematografi yang membosankan. Tidak heran, karena memang didukung oleh kru yang masih amatir serta merangkap dalam berbagai departemen sekaligus. Satu-satunya yang kompeten dan berbau horor adalah aransemen musik oleh Christopher Young (kelak akan menggarap musik antara lain untuk ‘Hellraiser’, ‘The Grudge’, ‘Drag Me To Hell’ atau ‘Spiderman 3’). Tapi itu juga rasanya ditampilkan secara berlebihan, yang mungkin disengaja, karena jujur saja, minus musik dari Young, maka film ini tidak ada kesan horor-horornya sama sekali.

Beruntung setengah jam terakhir, yang juga merupakan klimaks dari film, intensitas film menaik. Ketegangan lumayan berhasil dieksekusi oleh Carpenter dan Obrow. Cukuplah untuk membayar segala ketidak relevan serta monotonisme yang terjadi di dalam narasi film sebelumnya. Dan pilihan mereka untuk mengakhiri film dengan kelam juga lumayan menarik. Sayangnya, jika efek ironi yang ingin mereka kejar, maka hal tersebut sama sekali tidak berhasil dicapai.

‘The Dorm That Dripped Blood’ adalah slasher yang buruk. Akan tetapi saya pernah menyaksikan yang lebih buruk. Setidaknya dalam aspek tertentu, ia masih menarik untuk disimak. Apalagi jika ingin menghabiskan waktu bersama teman-teman dan menertawakan segala ketololan yang terjadi didalamnya.

Dan, duo Carpenter dan Obrow pada dasarnya mungkin memang kurang berbakat. Filmografi mereka terbatas dalam hitungan jari saja, dimana film terakhir Carpenter adalah sebuah film (yang katanya) horor berjudul ‘Soul Survivors’ (2001) dan Obrow adalah ‘They Among Us (2004) untuk konsumsi televisi.

Advertisements

2 thoughts on “The Dorm That Dripped Blood

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s