Braindead

Rated R for an abundance of outrageous gore.

Bagi yang belum mengetahui, ‘Braindead’ adalah sebuah film tentang mayat hidup penyantap manusia yang disutradarai oleh seorang Peter Jackson. Yep! Sebelum kemegahan trilogi epik-fantasi Lord of the Ring, sebelum raungan sang King Kong yang perkasa, maka dia adalah seorang sutradara muda yang dipenuhi dengan visi absurd tentang kengerian dan terror.

Ya, ya, rating ‘Braindead’ yang juga dikenal dengan ‘Dead Alive’ ini seolah menegaskan apa dan bagaimana sebenarnya isi film ini. Jadi bagi yang gampang mual, bersiap-siaplah untuk limpahan darah, usus terburai, potongan tubuh yang berceceran, hasil para mayat hidup alias zombie yang lapar akan tubuh manusia. Errr, tidak melulu hasil perbuatan para zombie itu juga sih.

Jackson muda adalah karakter eksentrik yang tergila-gila akan fantasi film horor kelas B. Film-film yang tidak memerlukan banyak kemampuan otak dalam mencernanya. Film-film yang mungkin secara artistik akan diacungkan jempol kebawah. Akan tetapi tetap merupakan film-film yang mengandung unsur hiburan yang menyenangkan. Well, tentu saja jika kita bisa menoleransi darah dan gore tadi sebagai parameter “menyenangkan”. Tidak mengherankan jika di awal karirnya kemudian ia menghasilkan ‘Bad Taste’ (1987), sebuah thriller tentang invasi mahluk angkasa luar yang menyerang bumi.

<<< Untuk membaca review film tersebut yang dipaparkan secara informatif dan luar biasa menghibur bisa klik di horrorpopcorn.

Sebagai lanjutan dari eksperimen nekat yang telah dilakukannya dengan film tersebut, maka dibuatlah ‘Braindead’, yang masih tetap dengan semangat slapstick-splatter seperti yang dipertontonkannya melalui ‘Bad Taste’. Akan tetapi kali ini dengan bujet yang lebih meriah, maka film berhasil memvisualkan “kengerian” secara lebih grafis dan meyakinkan, meski tetap saja dalam konteks kekinian akan terasa menggelikan.

Berseting di tahun 1950an, disebuah pulau bernama pulau Tengkorak di sekitar Sumatera (Skull Island, pulau yang sama terdapat dalam King Kong) seorang pria bule serta seorang (tampaknya) lelaki melayu yang berjalan tergopoh-gopoh. Mereka menandu sesuatu. Tidak jelas apa isinya, akan tetapi jelas jika mereka tengah tergesa-gesa. Benar saja, segerombolan pria berpenampilan primitif mengejar mereka. Mereka berhasil lolos, namun sesuatu didalam tanduan mereka menggigit tangan si pria bule. Tanpa ragu-ragu si pria melayu kemudian memenggal tangan si pria bule. Namun, saat kening si pria pun tampaknya tergores oleh sesuatu, tanpa banyak buang waktu, si pria melayu kembali melayangkan parangnya!

Ternyata isi tandu mereka adalah Simian Raticus, suatu spesies langka namun sangat beracun. satu luka gigitannya akan segera menginfeksi dan mengubah seseorang menjadi zombie. Itulah yang kemudian terjadi pada Vera Cosgorove (Elizabeth Moody) yang mengendap-endap saat menguntit putranya Lionel (Tim Balme) yang tengah berkencan dengan Paquita (Diana Peñalver) di kebun binatang, Wellington, Selandia Baru. Si monyet tikus menggigitnya. Dengan geram Vera memijak si hewan eksentrik sampai gepeng dan mati.

Tak lama kemudian Vera bermetamorfosa menjadi sesosok zombie yang lapar akan daging manusia. Hanya Lionel yang menyadari keanehan ini dan dengan kalang-kabut berusaha menutup-nutupi perubahan yang terjadi pada ibunya. Dia selama ini memang selalu tunduk dibawah dominasi ibunya, sehingga meski ibunya membuat kekacauan dengan menggigit manusia lain dan menciptakan zombie lainya, dengan setia Lioneltetap melayani ibu serta konco-konconya. Namun, tentu saja ia tidak bisa selamanya menyekap zombie-zombie ganas tersebut dirumahnya. Hmm, kira-kira apa yang terjadi selanjutnya?

Dengan plot yang amat sederhana tersebut, justru film dengan gemilang mengantarkan sebuah cerita yang sangat ciamik, dimana narasi tidak melulu bercerita tentang teror zombie tersebut. Film juga memberikan ruang bagi perkembangan karakter serta relasi diantara mereka. Dramatisasi yang mengikat juga diberikan peluang untuk tampil oleh Jackson dalam film ini. Tapi tentu saja, tetap jualan utamanya adalah banjir darah dan potongan tubuh yang berceceran.

Beruntungnya, Jackson dengan piawai memadukan segala darah yang belepotan tersebut dengan unsur-unsur komedi yang sangat berhasil, sehingga kita tidak melulu diliputi oleh perasaan jijik atau mual memandang paparan visual yang menggiriskan. Terlebih lagi, film seolah sadar jika ia adalah sebentuk seni yang cacat, sehingga tidak malu-malu untuk terlihat konyol dan oh ya, tentu saja menentang semua logika yang ada. Tapi tidak asal konyol karena ‘Braindead’ juga membuktikan jika Jackson adalah orang yang sangat piawai dalam meramu alur serta dinamikanya, sehingga film berjalan dengan pace yang proporsional dan membosankan adalah diksi yang tidak akan ditemui dalam menggambarkan film ini. Setiap elemen yang diperlukan untuk membangun suasana seram, tegang, komedik, dan drama diberi porsi yang sama memuaskan.

Saya pertama sekali menonton film ini adalah melalui media video VHS yang dulu beken, sebelum pada akhirnya era cakram digital menjamur seperti sekarang. Saya sama sekali tidak punya ide apa dan bagaimana sebenarnya film ini pada awalnya. Yang saya ingat, meski menontonnya terkadang dengan menutup mata, akan tetapi saya merasa sangat terhibur olehnya. Beberapa waktu kemudian film ini berkesempatan pula untuk mengunjungi bioskop di kota saya dan tentu saja sayatidak melewatkan untuk menonton ulang. Kini, saat kembali menyaksikannya, perasaan saya masih tetap sama seperti saat pertama kali menontonnya. Bagi saya pribadi hal tersebut adalah indikasi, bahwa sebuah film yang klasik tidak melulu harus berkelas A.

Advertisements

4 thoughts on “Braindead

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s