Film Review: The Craft (1996)

The Craft menginformasikan kepada kita bahwa tidak ada ilmu hitam atau putih. Yang membedakan adalah bagaimana kita memanfaatkan dengan baik kekuatan gaib yang telah dianugerahi oleh Manon. Siapa Manon? Jika mengutip perkataan Nancy (Fairuza Balk), “If God and the Devil were playing football, Manon would be the stadium that they played on.” Wow, konsep yang terkesan sureal bagi saya meski jika dibandingan dengan dunia sihir Harry Potter, jelas The Craft adalah sebuah kisah yang lebih realistis dan membumi.

The Craft berkisah tentang tiga gadis remaja, Nancy (Fairuza Balk), Bonnie (Neve Campbell) dan Rochelle (Rachel True) yang mendedikasikan diri mereka kepada ilmu sihir. Akan tetapi sejauh ini mereka tidak menemui kemajuan yang signifikan karena mereka memerlukan orang keempat untuk melengkapi formasi mereka. Masuklah Sarah (Robin Tunney) siswa baru di sekolah mereka. Tampaknya Sarah adalah seorang penyihir alami, karena Bonnie memergoki Sarah memainkan sebatang pinsil untuk tegal lurus vertikal tanpa ada bantuan penyangga. Awalnya Sarah menolak bergabung dengan kumpulan Bonnie yang terlihat urakan dan gotik. Akan tetapi karena ia dilecehkan oleh Chris (Skeet Ulrich) seorang siswa populer di sekolah, maka kemudian memutuskan untuk bergabung dengan mereka.

Lantas, bersama mereka mengikat sumpah persaudaraan dan merapal mantera. Jika Sarah berniat memelet Chris, maka Rochelle hanya ingin memberi pelajaran kepada Laura (Christine Taylor), seorang siswi yang bersikap rasis kepadanya. Bonnie sendiri yang memiliki luka bakar disekujur tubuhnya hanya menginginkan kesembuhan, sedang Nancy yang ambisius menginginkan kekuatan yang lebih besar. Saat perlahan kekuatan mereka semakin besar, tumbuhlah kesombongan di diri mereka, terutama Nancy. Niat baik Sarah menasehati mereka untuk memakai kekuatan sihir secara bertanggung jawab hanya menjadi cemoohan. Bahkan, pada akhirnya mereka malah melancarkan teror ghaib kepada Sarah yang dianggap berkhianat!

Dunia sihir-menyihir, sebagaimana banyak mitos supernatural lainnya memang tidak lepas dari nuansa horor dan kengerian. Kebanyakan penyihir perempuan dicitrakan sebagai perempuan yang dipenuhi dengan hasrat dominasi dan kebencian sehingga dianggap sebagai penyebar teror di masyarakat. Tidak heran jika di Eropa abad ke-14 sampai 18 dilakukan perburuan besar-besaran perempuan-perempuan yang dicurigai memiliki kekuatan sihir. Meski kabarnya perburuan penyihir tersebut sebenarnya hanya manisfestasi rasa paranoia struktur patriarki terhadap eksistensi perempuan-perempuan cerdas yang menolak tunduk pada sistem yang berlaku, tapi jelas jika perempuan penyihir dianggap sebagai momok dan bagian dari kultus sesat.

Rasanya The Craft sendiri pun sebenarnya belum bisa lepas dari streotipe yang berlaku awam kepada penyihir, dimana pada akhirnya mereka tetap digambarkan sebagai sosok-sosok yang sewenang-wenang dan korupsi akan limpahan kekuatan ghaib yang seharusnya dimanfaatkan dengan proporsional. Padahal film pada awalnya sudah cukup baik memberi pengembangan karakter yang cukup membumi bagi empat karakter utamanya, gadis remaja yang ditengah kelabilannya kemudian memilih untuk bermain-main dengan sesuatu yang belum tentu bisa mereka kontrol.

Sarah, Nancy, Bonnie dan Rochelle (dimainkan dengan cukup baik oleh Tunney, Balk, Campbell dan True) adalah gadis-gadis yang gelisah dan tidak nyaman dengan diri mereka. Hormon di dalam diri seolah meledak-meledak. Dan rekan sebaya terus menekan, sementara mereka merasa bukan bagian dari itu. Pencarian jati diri kemudian mengantarkan mereka pada hal yang dianggap sebagai personifikasi kepribadian mereka, yang dalam hal ini adalah sihir-menyihir!

Sampai disini, Andrew Fleming sebagai sutradara sebenarnya mempunyai materi yang menarik untuk menggali sisi psikologis maupun sosiologis dari tema kegelisahan remaja dalam hubungannya dengan okultisme. Sayangnya film kemudian terjebak pada formula awam yang berlaku pada genre horor. Alih-alih resolusi film kemudian mengejar klimaks yang mengandalkan aksi laga final. Siapa yang mempunyai kekuatan lebih, dialah pemenangnya.

Terlepas dari itu, The Craft tetaplah sebuah film yang cukup menarik untuk diikuti. Meski ujung-ujungnya terasa cheesy dan tidak terlalu istimewa, namun sebagai sebuah thriler remaja, ia cukup kompeten dalam merangkai drama yang dibalut oleh suspensi, hingga kemudian berujung pada konflik horor yang bergaya gotik. Dan sangat menyenangkan melihat kembali penampilan aktris-aktris muda era 90an ini, sebelum akhirnya nama mereka melekat pada judul yang lebih besar dan masif.

the-craft-movie-poster-1996-1020198968

★★★½☆☆

The review made and dedicated to Curhat Sinema as his request.

Advertisements

6 thoughts on “Film Review: The Craft (1996)

  1. curhatsinema says:

    Dear Jalang, terima kasih sekali atas kesediaan meluangkan waktu memenuhi permintaan saya. Kutersanjung. Tuhan yang balas ya 🙂

    Yang aku suka dari film ini adalah kejelian kreator dalam menangkap obsesi remaja (cewek) dan dimanifestasikan dalam kemampuan sihir masing-masing karakter, mirip The Incredibles yang menginterpretasikan dengan pas kekuatan super menurut umur.

    Membayangkan suatu saat film ini diremake 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s