Film Review: Funny Games (2008)

Saya merasakan kekesalan yang luar biasa sehabis menyaksikan ‘Funny Games’. Oke, mungkin kata “luar biasa” terlalu berlebihan. Tapi saya memang kesal, karena Michael Haneke berani-beraninya memutar semua streotipe atau pakem di film thriller yang biasa kita saksikan, dan memilih untuk mangambil sudut pandang film justru dari antagonisnya.

Saya tidak bisa berkata lebih, karena takutnya akan memberi spoiler yang nanti akan menganggu kenikmatan Anda saat menyaksikan film yang sangat direkomendasikan ini. Lho, katanya saya kesal pada film ini, tapi saya kok malah merekomendasikan film ini?

Tentu saja saya akan sangat merekomendasikan film ini, terutama pada Anda yang senang pada film yang mengulik-ulik ranah psikologis apalagi dalam konsep thriller. Ini bukan ‘Silence of the Lambs’, tapi ia bercerita tentang bagaimana kekerasan menjadi bagian dari keseharian kita dalam cara yang sama sekali tidak biasa.

Cerita dimulai dengan tipikal pengenalan karakter-karakter utama, Anna (Naomi Watts), suaminya George (Tim Roth) dan putra mereka Georgie (Devon Gearhart) yang tengah berlibur di rumah musim panas mereka. Juga dua orang anak muda Paul (Michael Pitt) dan Peter (Brady Corbet), kenalan tetangga mereka yang pada awalnya terlihat menyenangkan, sampai ternyata mereka menujukkan wujud asli mereka dalam sosok-sosok psikopatis yang kemudian menyandera keluarga tersebut hanya karena ingin memainkan sebuah permainan yang kelihatannya sepele, namun dengan nyawa sebagai taruhannya.

Selanjutnya film memasuki ranah konflik, dimana Anna dan keluarganya bermain petak-umpet, baik secara psikologis maupun fisik dengan Paul dan Peter. Disini Haneke menggiring alur sebagaimana layaknya sebuah struktur thriller-suspense, dimana kita Haneke dengan piawai menggiring persepsi penonton agar Anna sekeluarga pada akhirnya “menumpas” duo sesat tersebut.

Di tahap akhir adalah klimaks dan penutup. Dan disinilah Haneke dengan berani memainkan emosi penonton dengan sangat jitu, sehingga kita, sebagai penonton justru akan merasakan anti-klimaks yang seperti saya sebutkan tadi, mengesalkan!

Akan tetapi, kalau dipikir-pikir lagi justru Haneke dengan luar biasa menampilkan sebuah film dengan studi karakter yang jenial, dalam arti ini bukan hanya thriller biasa, akan tetapi juga sebuah analisa dengan perspektif sosiologis yang kental, dimana mengajukan pertanyaan; apakah masyarakat yang menciptakan sosok monster atau memang mereka sudah menjadi monster sedari masih berwujud orok merah. Ini bukan hanya membuat kita sebagai penonton, akan tetapi merasakan kelangsungan dari kengerian tersebut.

Kalau pernah menyaksikan ‘No Country Old Men’, pasti tahu kalau film tersebut sama sekali tidak menggunakan iringan musik latar melainkan hanya mengandalkan intensitas dari adegan-adegannya. Demikian juga dengan ‘Funny Games’ ini. Haneke membangun kengerian secara bertahap, melalui karakter-karakternya, yang juga diperkenalkan secara gradual. Tidak ada gore disini, tapi tanpa itu pun kita merasakan kengerian yang luar biasa mendalam. Salut untuk Haneke.

Tentu saja ia bisa berhasil karena didukung oleh aktor-aktor yang yang kompeten. Naomi Watts dan Tim Roth mengekspresikan rasa takut mereka dengan impresif, sebagaimana dua bintang yang lebih junior, Michael Pitt dan Brady Corbet dengan impresif menampilkan sisi kekejaman mereka yang dingin tapi humanis. Tidak ada tipe Jason Voorhees atau Michael Myers disini. Juga tidak serumit kesadisan ala Jigsaw. Akan tetapi, soal kekejaman, jangan ditanyakan bedanya.

‘Funny Games’ adalah reka-ulang secara shot-to-shot dari film Haneke di tahun 1997 yang lalu. Haneke, yang berasal dari Austria, memilih untuk tetap setia dengan konsep aslinya, daripada harus mengikuti aliran mainstream, dan pada akhirnya merusak gambaran kelam yang ingin divisualnya. Ini yang membuat ‘Funny Games’ akan sulit diterima secara luas. Walau saya belum pernah menyaksikan film aslinya, namun saya yakin ‘Funny Games’ versi Hollywood ini tak kalah dalam gemilangnya.

Advertisements

8 thoughts on “Film Review: Funny Games (2008)

  1. mandapuspi says:

    Nonton film ini udah 2 tahun yang lalu, jadi udah agak lupa2. Setuju, film ini ngeselin banget. Kalau gak salah adegan kekerasannya dimulai hanya karena permasalahan telur ayam, kan? Ckckck. Games yg sama sekali gak ada Funny2 nya. 😀

  2. Ntulesa says:

    Sumpaaahhh kesellll habisss, ris,,, wkwkw!!
    bru kli tu nonton pilemm yg lncar bnget ngadukk2 emosi pnonton,,, dri hopeful jd hopeless,..di puter ge, d balek ge,..smpe ending anti klimaks’a itu yg bikinn frustrated.. hihi,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s