Welcome To Dongmakgol

Jika anda mengira ‘Taegukgi’ sebagai film perang terbaik dari Korea Selatan, ada baiknya coba tonton dulu ‘Welcome To Dongmakgol’ (웰컴투 동막골) ini.

Sekelompok prajurit Korea Utara disergap dan hanya menyisakan 3 orang, Komandan Lee (Jeong Jae-young) dan dua orang prajurit, Jang (Im Ha-ryong) serta remaja Taeg Ki (Ryoo Deok-hwon). Dalam pelarian, mereka bertemu seorang gadis ‘aneh’ Yeo Il (Kang Hye-jeong) yang kemduian menuntun mereka ke Dongmakgol, sebuah desa terpencil disebuah pegunungan, yang penduduknya sama sekali tidak menyadari jika saat itu tengah terjadi perang anatar dua Korea.

Ternyata, di desa yang penduduknya terasa sangat ramah dan naif tersebut, terdapat dua orang disersi dari Korea Selatan, Letnan Pyo (shin Ha-kyun) dan paramedis Moon Sang-sang (Seo Jae-gyong), yang juga ‘nyasar’ ke desa tersebut. Selain mereka, juga terdapat seorang pilot Amerika yang pesawatnya terjatuh, smith (Steve Taschler).

Pada mulanya ketegangan terjadi, namun akhirnya mereka mengkesampingkan permusuhan mereka untuk sementara, karena tanpa sengaja telah meledakkan lumbung makanan desa, sehingga mereka harus membuat lumbung baru dan mengisinya kembali dengan bekerja di ladang. Lama kelamaan, timbul hubungan persahabatan yang tulus diantara orang-orang ini di desa terasing tersebut. Namun, akhirnya kekejaman perang memaksa mereka kembali untuk mengangkat senjata, namun kali ini dengan alasan yang sama sekali berbeda!

‘Dongmakgol’ adalah sebuah fenomena untuk perfilman Korea Selatan pada tahun 2005 kemarin, karena berhasil mengumpulkan lebih dari 6 juta penonton, walau kemudian di akhir tahun rekor tersebut dipatahkan oleh ‘The King and Clown’. Tapi dibandingkan dengan judul terakhir, ‘Dongmakgol’ bagi saya justru lebih menarik dan mengesankan, baik dari segi sinematis, visual dan plot.

Disutradarai oleh seorang debutan, Park Kwang-hyeon, kita tidak akan pernah mengira ini adalah film pertamanya. Ia menjalin ‘Dongmakgol’ sebagai sebuah perpaduan yang unik dari drama serius, komedi humanis dan fantasi yang lebih membumi. Pengaruh yang besar dari anime Jepang sangat kental terasa, terutama dari karya-karya Hayao Miyazaki. Apalagi Park menggandeng Jo Hisaishi, yang biasa bekerjasama dengan Miyazaki. Akibatnya, kita seperti melihat sebuah anime yang tampil secara live action.

Ini bukan berarti buruk, apabila Anda tidak menyukai anime. ‘Dongmakgol’ tetap saja merupakan sebuah pencapaian sinema yang menakjubkan. Bohong saja jika Anda tidak tersedot dalam pusaran ceritanya.

Kekuatan ‘Dongmakgol’ tidak hanya dari segi visual dan cerita saja, namun juga karakterisasi yang kuat, dipertegas dengan akting yang fokus, dimana semua pemain menunjukkan kimiawi yang kental, sehingga kita bisa merelasikan diri dengan satu atau beberapa karakter sekaligus.

Walau bergaya anime, namun hampir semua karakter disini ditampilkan secara realitis, meski karakter yang dimainkan oleh Kang Hye-jeong (dari ‘Oldboy‘) yang terasa sangat anime. Dan itu bukan masalah besar!

Walau ‘Dongmakgol’ berseting dan bercerita di saat perang Korea terjadi (periode tahun 50an), namun ‘Dongmakgol’ bukanlah epik, walau proporsi untuk itu tetap ada. Film ini lebih kepada pendekatan personal terhadap perspektif perang itu dan mengajak penontonnya untuk mendapatkan pencerahan diri pada inti perdamaian itu sendiri, yang mana dieksekusi melalui sebuah bentuk naratif yang jenial, menghibur sekaligus inspiratif.

Advertisements

3 thoughts on “Welcome To Dongmakgol

  1. galcao says:

    nangis2 saat kang hyejeong tewas tertembak :,( lbh nangis darah pas duet pasukan korut korsel bjuang mpe titik drh pghbsan mpthanken desa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s