Film Review: Piranha 3D (2010)

Di buka oleh adegan Richard Dreyfuss (dari Jaws) yang tengah memancing disebuah danau dan beberapa saat kemudian perahunya diserang oleh segerombolan Piranha yang ganas, maka jelas sudah jika Alexander Aja dengan ‘Piranha 3D’ ini mempunyai semangat bermain-main yang kental dalam menyuguhkan sebuah tontonan yang menjual kengerian dari serangan teror hewan buas tak terkendali, yang kali ini hadir dalam bentuk ikan Piranha purba yang lepas bebas dari tempat mereka terjebak selama hampir dua juta tahun, tepat di dasar danau yang kini terbuka akibat gempa.

Sebenarnya agak heran juga dengan Alexander Aja ini. Pria Perancis yang telah menggegerkan ranah sinema horor dengan ‘High Tension’-nya ini saat hijrah ke Amerika justru memilih untuk mendaur ulang film-film yang relatif lawas (The Hills Have Eyes dan Mirror), ketimbang menawarkan sesuatu yang baru. Kali ini lagi-lagi ia mengangkat judul klasik era 70-an untuk di poles ulang. Pilihan jatuh kepada ‘Piranha’ yang dulu disutradarai oleh Joe Dante (Gremlins dan Small Soldier) dan diproduseri oleh produser spesialis film-film kelas B legendaris, Roger Corman.

Ikhwal keberadaan ‘Piranha’ itu sendiri jelas adalah untuk mengekor kesuksesan ‘Jaws’ dan mengingat keterbatasan modal mereka, walhasil ‘Piranha’ malah terlihat sebagai sebuah parodi ketimbang pengekor yang utuh. Sekarang film tersebut sudah masuk dalam jajaran film cult yang mendapatkan tempat tersendiri di kalangan penikmat film kelas B dan telah di-remake pula di tahun 1995.

Di penghujung dekade pertama 2000-an, Aja menghadirkan kembali kisah kengerian yang diciptakan oleh serangan ikan Piranha dengan sentuhan visual 3 dimensi yang kini tampaknya tengah digandrungi oleh industri perfilman di Hollywood sana. Menurut Aja, sebenarnya dia hanya terinspirasi dari film lawasnya dan beserta rekan setianya, Grégory Levasseur (dibantu juga oleh Pete Goldfinger dan Josh Stolberg), merangka kisah yang benar-benar baru.

Berlokasi disebuah kawasan danau wisata yang dipenuhi oleh turis-turis muda yang tengah menikmati hangatnya sinaran musim panas dengan berpesta di pinggiran danau. Tanpa mereka sadari ada ancaman mengerikan yang datang dari dasar danau. Menyerubung dan menerkam serta memerahkan danau dengan darah korbannya. Yep, premisnya sederhana saja. Tipikal untuk film-film sejenis ini. Agar perhatian penonton dapat menjadi lebih fokus dan terjaga maka dijabarkan plot tentang seorang sherrif bernama Julie Forester (Elisabeth Shue) yang mencoba menyelamatkan para turis, sedangkan ditempat lain ketiga anaknya malah sedang terjebak ditengah danau dan dikepung oleh para Piranha ganas tersebut.

Dalam ‘Piranha 3D’, sangat jelas terbaca jika Aja benar-benar berupaya menjual efek 3 dimensi tersebut untuk mengejar ketegangan yang dicoba ditawarkan kepada penontonnya. Semua adegan diperhitungkan dalam perspektif yang berupaya menciptakan efek visual tersebut. Sayangnya, menurut saya upayanya tersebut cenderung hanya menjadi gimmick tanpa elaborasi yang substantif dalam menciptakan tensi ketegangan yang benar-benar terjaga intensitasnya. Beruntung Aja tidak melupakan unsur gore dan belepotan darah yang selama ini menjadi ciri khasnya. Dan dengan adanya upaya memberi asupan adegan-adegan yang berbau komedi, Aja tampaknya memang berniat untuk memberikan sebuah hiburan yang ringan-ringan saja.

Dalam durasi 88 menit, ‘Piranha 3D’ memang terasa sangat singkat, karena Aja menampilkan plot yang berjalan dengan cepat. Sayangnya cerita yang terlalu sederhana, akibat mengejar sensasi adrenalin secara non-stop agak mengorbankan kisah yang padat dan mengikat. Semuanya terasa lempang dan gampang. Belum lagi, bujet yang tidak terlalu besar seolah-olah membatasi ruang gerak departemen efek khusus untuk berkreasi menciptakan CGI yang lebih mulus dan meyakinkan. Oh ya, ‘Piranha 3D’ sendiri di-shot dengan menggunakan kamera 2D konvensional dan barulah kemudian dikonversi menjadi tayangan 3D.

‘Piranha 3D’ mungkin tidak akan mencapai status cult sebagaimana film aslinya dan mungkin dapat dengan mudah terlupakan. Akan tetapi sepanjang durasinya, saya merasa sangat terhibur, terlepas apakah saya perduli dengan ceritanya atau tidak, karena Aja cukup terampil dalam menampilkan atraksi keganasan piranha-piranha purba dari neraka ini. Dan sepertinya sih, tidak ada salahnya jika kemudian sebuah (atau beberapa) sikuel dimunculkan ;).

Advertisements

3 thoughts on “Film Review: Piranha 3D (2010)

  1. apatisvian says:

    ah…makin jatuh cinta deh ama Aja… 😀

    sutradara horror masa depan nih…

    Btw, ntn di dvd ya???

    3D nya di indo bentar lagi katanya mau dikeluarin lagi tuh pasca dicekal waktu itu..hehe

  2. Movfreak says:

    Efeknya emang keliatan murah, khas B-Movie
    Tapi ketegangannya asik kok. Dan banyak “daging segar”. Apalagi pas adegan Kelly Brook sama Riley Steele nyelam berdua, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s