Film Review: Resident Evil – Afterlife (2010)

Saya pernah mencoba beberapa kali memainkan game survival-horror keluaran Capcom yang bertajukResident Evil ini melalui console PlayStation. Sayangnya, saya bahkan tidak pernah bisa menyelesaikan level yang terendah sekali pun, sehingga pada akhirnya merasa uring-uringan dan enggan untuk memainkannya lagi. Namun begitu, sengingat saya game ini sangat mengandalkan atmosfir kelam yang intens dan hasilnya kita seperti terlibat dalam sebuah petualangan yang cukup menyeramkan. Meski tidak mahir dalam memainkannya, akan tetapi saat kemudian ‘Resident Evil’ diangkat dalam media film pada tahun 2002, ternyata saya cukup puas dengan hasil rekaan Paul W. S. Anderson tersebut. Tidak terasa, seri tersebut sudah memasuki judul keempatnya. Dan setelah di sikuel pertama dan kedua Anderson hanya menjabat sebagai produser dan penulis cerita, maka kini dalam ‘Resident Evil: Afterlife’ ia pun kembali lagi dibangku sutradara.

Ceritanya sendiri merupakan kesinambungan langsung dari ‘Resident Evil: Extinction’ (2007). Saat Alice (Milla Jovovich) berpisah dengan Claire Redfiled (Ali Larter) dan K-Mart (Spencer Locke) yang berangkat menuju Arcadia di Alaska untuk bergabung dengan peradaban terakhir manusia yang ada. Sedangkan Alice menemukan jika ia telah dikloning oleh Umbrella Corporation. Kini, bersama rekan-rekan se DNA-nya, ia memutuskan untuk menyerang markas Umbrella di Tokyo, Jepang. Sayangnya, seorang chairman Umbrella Corporation, Albert Wesker (Shawn Roberts) punya rencana tersendiri. Walhasil, semua kloning Alice musnah dan Alice kehilangan kekuatan supernya.

Beberapa bulan kemudian Alice pun menyusul ke Alaska. Sayangnya ia tidak menemukan siapapun kecuali Claire yang mengalami amnesia dan K-Mart menghilang entah kemana. Lantas dengan menggunakan pesawat kecil mereka meninggalkan Alaska. Saat melewati Los Angeles bereka bertemu serombongan survivor pimpinan Luther West (Boris Kodjoe) yang menghuni sebuah gedung. Luther justru mengira jika Alice dan Claire berasal dari Arcadia dan berniat menyelamatkan mereka.

Dari Luther, Alice mengetahui jika ada sebuah kapal yang bernama Arcadia juga dan memancarkan pesan di radio tentang jaminan keselamatan bagi para survivor. Tak disangka Luther dan kawanannya menahan Chris Redfiled (Wentworth Miller), adik kandung Claire yang seorang tentara. Setelah semua kesalahpamahan terselesaikan, lantas mereka pun berniat menuju pantai dan memasuki kapal Arcadia. Masalahnya disekeliling gedung dirubungi oleh kerumunan ribuan zombie yang siap memangsa. Belum lagi dengan serbuan beberapa zombie yang telah bermutasi dalam wujud yang lebih mengerikan dan serangan seorang raksasa bersenjatakan kapak yang tak kalah raksasanya.

Menilik dari segi perkembangan cerita, tampaknya seri Resident Evil ini sama sekali tidak mengalami perkembangan yang signifikan karena kerap memakai pakem yang itu-itu saja dari tiap judulnya. Apalagi, dibandingkan film pertamanya yang lumayan mumpuni dalam menyandingkan aksi-laga dan horor dalam takaran yang seimbang, maka film-film berikutnya lebih menekankan pada sisi laga dan pada akhirnya Alice bertranformasi layaknya seorang karakter superhero saja. Film pun menjadi kehilangan esensinya sebagai sebuah epik survival.

Demikian pula yang terjadi dengan ‘Resident Evil: Afterlife’ ini. Cerita hadir melulu hanya sebagai alat untuk menciptakan adegan-adegan berpotensi laga ketimbang benar-benar menarik perhatian penonton untuk tersedot kedalamnya. Apalagi kali ini Anderson memanfaatkan teknologi 3-Dimensi (3D) untuk meningkatkan eskalasi ketegangan aksinya. Berbeda dengan kebanyakan film berformat 3D lain, film ini dishot dengan Fusion Camera System seperti yang digunakan James Cameron dalam ‘Avatar’ (2009).

Oleh karenanya setiap presisi sudut pandang diatur untuk meningkatkan performa kinerja efek 3 dimensi tadi. Anderson tampaknya benar-benar berambisi untuk memamerkan superioritas efek visualnya. Sayangnya, demi mengejar hal tersebut cerita dan perkembangan karakter pun menjadi terkorbankan.

Meski begitu, menurut saya pribadi ‘Resident Evil: Afterlife’ cukup berhasil memberikan presentasi sinematis yang lumayan menghibur. Itu juga dengan catatan kita tidak terganggu dengan banyaknya komposisi gerak lambat di layar untuk menciptakan efek dramatis. Sebenarnya kalau difikir-fikir Anderson ini apa baru menonton ‘The Matrix’ (1999) sehingga baru sekarang menampilkan gaya setipe dalam film ini, tanpa menyadari kalau gaya tersebut sudah cukup basi untuk saat ini.

Tampaknya Anderson cukup yakin dengan film ini, karena kemungkinan besar bakal ada kelanjutan dari petualangan Alice dalam memerangi Umbrelle Corporation dan zombie-zombie terkutuknya. Apalagi, Milla Jovovich sendiri tampaknya sudah melekat dengan erat dengan karakter Alice yang kini bolehlah kita sebut sebagai salah satu karakter yang ikonik. Boleh ditunggu di edisi berikut, dimana kembalinya Jill Valentine (Sienna Guillory) dalam kronika seri Resident Evil ini. Sebagai seorang fans, tentu saja saya menunggu hadirnya seri kelimanya.

PS:
Review ini mungkin akan “sedikit” subjektif ;p

Advertisements

2 thoughts on “Film Review: Resident Evil – Afterlife (2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s