Film Review: Perjaka Terakhir 2 (2010)

Pernah menonton sinetron-sinetron laga yang kerap diputar di salah satu televisi swasta? Kalau ya, maka menyaksikan ‘Perjaka Terakhir 2’ ini pastilah seolah-olah tengah mengalami déjà vu karena memang sangat mirip sekali. Adegan kelahi dalam editing yang cepat, efek CGI yang kasar dan cerita yang menggelikan. Hanya saja, ‘Perjaka Terakhir 2’ sedikit setingkat lebih baik dari pada sinetron-sinetron tersebut.

Sebelumnya, saya cuma mau mengingatkan bagi yang sudah membaca sinopsis film ini di situs salah satu bioskop ternama, untuk membuang jauh-jauh kesan dari cerita tersebut, karena kenyataanya di filmnya sendiri cerita sangat sederhana dan irit, tidak seperti yang terpapar disitu, mengesankan akan dinamika plot yang kompleks dan intens.

Berikut sinopsis yang tertulis di situs tersebut:

Sam, gadis cantik sedang menjaga supermarket 24 jam.  Matanya menangkap ada penjahat berusaha untuk mengutil. Ternyata ia mengancam agar semua uang di kasir diserahkan kepadanya atau ia akan meledakkan bom yang menempal di dirinya. Panik, penjaga toko langsung menyerahkan uangnya. Namun begitu si Penjahat bergerak keluar, Sam langsung berlari mengejarnya. Di saat yang bersamaan, Sugeng, seorang polisi culun, melihat si Penjahat ngebut dengan motornya. Panik, Sugeng berusaha mengejar penjahat namun penjahat berhasil melarikan diri. Sugeng terluka, akhirnya.

Di perguruan, Sugeng ternyata sudah membuat perjanjian dengan para guru Sam. Ia akan membantu mempromosikan perguruan, termasuk dengan memasukkan para master untuk tampil di TV. Sam harus mengajar Sugeng supaya jago bela diri. Latihan demi latihan dijalani Sugeng. Para master memaksa Sam untuk melatih Sugeng lebih intensif, demi nama baik perguruan.

Di saat yang bersamaan, suksesnya perguruan silat Sam membuat berang perguruan lain yang lebih canggih dan mahal. Ketua perguruan saingan, KI WEDAN ingin mencari siapa Sugeng yang katanya sangat jagoan. Ia mengirim anak-anak buahnya yang jago untuk menangkap Sugeng. Namun dibantu Sam, Sugeng berhasil selamat. Tidak bisa lain, Ki Wedan memutuskan untuk turun tangan sendiri. Ia ingin sekali menantang Sugeng duel. Ia menculik Sam dan berhasil mengalahkan semua master. Ki Wedan membawa Sam ke atas Monas dan menunggu Sugeng di sana. Sekarang bisakah Sugeng menyelamatkan Sam. Apakah pada akhirnya, ia betul-betul bisa mengeluarkan tenaga dalamnya seperti yang diajarkan Sam selama ini?

Mesko konyol, tapi terlihat menjanjikan. Dan secara pribadi saya suka dengan treatment tersebut. Namun saat menyaksikan filmnya, justru kita disuguhi pameran kekonyolan Sugeng (Ringgo Agus Rahman), seorang satpam yang kurang kredibel dengan pekerjaannya, dalam berupaya menuntut ilmu silat pada Sam (Fahrani), seorang gadis cantik yang menguasai ilmu kanuragan tingkat tinggi. Perguruan tempat Sam belajar memang tengah mengalami krisis murid, sehingga atas permintaan ketiga gurunya (Barry Prima, Joe P. Project, Wenny Rosaline), Sam melatih Sugeng sebagai sarana promosi. Di tempat lain, mantan murid perguruan tersebut yang sesat berniat untuk merebut sebuah kitab pusaka. Lantas ia pun menyatroni perguruan dan terjadilah duel yang tidak dapat dihindarkan lagi.

Dengan premis from hero to zero, ‘Perjaka Terakhir 2’ sebenarnya bisa tampil menarik, apalagi jika konsisten pada treatment yang ada diatas. Sayangnya, film malah kemudian berlama-lama pada eksploitasi kelucuan-kelucuan yang tidak terlalu lucu, garing, datar, maksa dan romantisme cliche yang kurang menyala percikannya. Melulu bersandarkan pada gestur dan mimik Ringgo Agus Ringgo belaka. Fahrani sendiri tampil sedikit kaku dan kurang meyakinkan sebagai seorang cewek jagoan (terlihat jelas jika sebagian besar adegan laga dia menggunakan body double).

Adegan laga yang dieksekusi sebenarnya dicoba untuk ditampilkan dengan cukup intensif dan didukung efek khusus yang lumayan menarik, namun terlihat kurang halus dan terpoles. Sayangnya editing yang berlebihan mengorbankan estetika dalam seni bela dirinya. Semua tampil dalam kelebatan yang sangat cepat dan tidak mengizinkan para aktor untuk menampilkan performa laga yang maksimal. Oleh karenanya nama besar Barry Prima disini sangat disayangkan tidak mampu memberikan kontribusi yang memuaskan, disaat kita sangat ingin melihat dia terlibat dalam satu duel yang seru.

Selain itu sebenarnya bingung juga, apa maksud pemakaian judul ‘Perjaka Terakhir 2’ ini setelah menyaksikan filmnya. Toh, film sama sekali tidak ada membicarakan soal keperjakaan, apalagi usaha untuk menghilangkan keperjakaan disini. Apalagi selain Fahrani, film ini sama sekali tidak ada kesamaan dengan film pertamanya yang juga diperani oleh Amink tersebut.

Kalau harus berasumsi, menurut saya film ini hanya berupaya mengekor kesuksesan film sebelumnya dengan mencatut judul. Film juga sebenarnya berangkat dari ide yang menarik, akan tetapi tampaknya terbentur dengan berbagai kendala (bujet mungkin? Filmnya sendiri terlihat ‘murah’), sehingga kemudian memilih untuk melakukan simplifikasi disemua segmen. Sungguh sayang, karena menurut saya film ini bisa tampil lebih baik lagi.

Advertisements

3 thoughts on “Film Review: Perjaka Terakhir 2 (2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s