Film Review: Exte – Hair Extensions (2007)

Saat ‘Ringu’ (1998) karya Hideo Nakata memulai trend J-Horror yang memperkenalkan hantu perempuan berambut panjang dari mitos onryō sebagai villain-nya, maka pakem jenis hantu seperti itu yang kemudian menginfeksi gaya film-film horor Asia sampai saat ini.

Kini, dalam ‘Exte – Hair Extensions’ atau ‘エクステ – Ekusuke’, Sion Sono (Suicide Club), seorang cult-director bergaya surealis Jepang berupaya mengambil ide dari rambut panjang berhantu tersebut dan menjadikanya sebuah horor alternatif yang kadang pretensius dalam gaya mainstream-nya, namun jenial dalam tataran eksentrik sehingga menjadi sebuah film horor yang sama sekali berbeda.

Yuko Mizushima (Chiaki Kuriyama, Battle Royale, Kill Bill Vol. 1) adalah seorang stylist muda yang tengah magang di salon yang bernama Gilles de Rais. Yuko adalah seorang gadis yang penuh semangat dalam menggapai cita-citanya. Walau kakaknya yang kejam, Kiyomi (Tsugumi), “menitipkan” anak perempuannya, Mami (Megumi Sato), kepada Yuko, namun dia tetap bersemangat. Karena kasihan, maka Yuko berniat merawat dan mengasuh keponakannya tersebut.

Sementara itu, seorang petugas kamar mayat misterius, Gunji Yamazaki (Ren Osugi), mencuri mayat seorang perempuan yang sepertinya korban dari perdagangan organ tubuh illegal. Gunji adalah seorang hair fetish yang menyebabkan ia terobsesi dengan rambut. Ia sering kali menggunting rambut-rambut perempuan dalam kamar mayat dan menjualnya sebagai hair extension ke salon-salon. Rambut perempuan misterius itu sendiri uniknya tetap tumbuh panjang. Bukan itu saja, seluruh organ tubuhnya yang hilang kini diganti dengan rambut-rambut yang kian memanjang. Gunji memotongnya dan menjadikanya sebagai hair extension. Yang ia tidak ketahui, rambut tersebut jika dipakai oleh seseorang ternyata akan meneror orang tersebut dan pada akhirnya akan mencabut nyawanya!

Dikesempatan lain, Gunji bertemu dengan Yuko dan menjadi terobsesi dengan rambut Yuko. Lantas, ia pun menjual hair extension rakitannya ke salon Gilles de Rais. Karena kualitasnya yang baik, maka Yuko memakaikannya kepada Mami. Lantas, saat kepolisian menyelidiki kematian salah seorang kolega Yuko di salon, Yuko pun menyadari akan bahaya rambut ekstensi tersebut dan berupaya menyelamatkan diri Mami.

Sama halnya dengan Sinya Tsukamoto dengan ‘Nightmare Detective’-nya dan Takashi Miike dengan ‘One Missed Call’-nya, maka ‘Exte – Hair Extensions’ adalah upaya Sion Sono dalam menggarap film dalam ranah populer. Dengan plot yang dijalin seperti tersebut diatas, maka jika digarap dengan formula konvensional, maka pastilah ‘Exte – Hair Extensions’ akan menjadi film horor yang tipikal, yang umum didapat di J-Horror.

Ada saat-saat dimana ‘Exte – Hair Extensions’ memang berjalan dengan tipikal, yang mana hal ini sepertinya disengaja oleh Sono, namun dibanyak sisi, ‘Exte – Hair Extensions’ terdiri dari beberapa lapisan yang saling menindih namun menjadi satu kesatuan yang utuh. Perjuangan Yuko menjadi seorang stylist serta konfliknya dengan sang kakak serta rasa sayangnya terhadap sang keponakan mengingatkan akan film drama yang subtil. Sementara itu karakter Gunji digambarkan dengan semangat eksentrisme yang kadang terasa komedik. Selanjutnya ada bagian dimana film seperti sebuah thriller medis

Akibatnya, sepintas film seperti terlihat acak-acakan dan tidak teratur. Namun, jika dicermati dengan secara lebih mendalam, terlihat dengan jelas semangat bermain-main Sono dengan genre yang dipilihnya. Berbagai adegan menunjukkan itikat untuk sebuah homage namun dibagian lain terlihat seperti hendak mengolok-olok genre itu sendiri. Jika paham dengan konsep Sono, maka film memang terlihat menggelikan, dalam arti sarkastik yang positif.

Walau begitu, Sono bukannya tidak serius dalam menggarap adegan-adegan seramnya. Dengan penggunakan efek khusus yang cukup maksimal, Sono berhasil menggambarkan kengerian dari teror rambut berhantu ini. Unsur blood-and-gore berhasil diminimalisir dan digantikan dengan adegan-adegan menggiriskan akibat ulah rambut-rambut ini. Uniknya, meski mengandalkan tema balas-dendam-hantu-perempuan-berambut-panjang, namun tidak ada adegan hantu perempuan yang muncul tiba-tiba atau merangkak-rangkak menyebar kengerian. ‘Exte – Hair Extensions’ murni hanya mengandalkan sang rambut sebagai aset utamanya.

Chiaki Kuriyama sendiri tampil dengan sangat gemilang dan berhasil membangun rasa ingin-tahu dan empati penonton terhadap karakter yang dimainkannya. Setelah menyaksikannya sebagai gadis beringas dalam ‘Battle Royale’ dan ‘Kill Bill Vol. 1’, sungguh istimewa bisa menyaksikannya bertransformasi menjadi gadis yang cantik-baik hati-dan-tidak sombong (sic)seperti ini.

Ren Osugi sendiri kelihatannya tampil dengan sedikit over-the-top dan penggambaran karakternya pun mungkin sedikit mengganggu, namun secara keseluruhan, sepertinya Karakter Gunji Yamazaki yang diperankannya fit the screen effectively.

‘Exte – Hair Extensions’ adalah pengalaman menonton horor yang menghibur sekaligus memorable. Bisa dikatakan ia diatas rata-rata beberapa film horor Jepang clueless yang akhir-akhir ini banyak keluar. Bukan tidak mungkin status cult akan disematkan kembali bagi film Sion Sono ini.

Advertisements

2 thoughts on “Film Review: Exte – Hair Extensions (2007)

  1. emma says:

    hahahahhaa, film keren ini apalagi kalo denger lagu yang sering di nyanyiin Gunji “hair…hair…hair..” Coba nnton The Wig deh, film horor korea rambut juga yg jdi horornya , tapi bukan horor komedi

    • jalangfilm says:

      Udah nonton dong ‘The Wig’ 😉 Lumayan, cuma ada yg kurang nendang dengan film yang dalam berbahasa koreanya berjudul ‘Gabal’ itu. So, I prefer ‘Exte’ aja deh … Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s