Film Review: Dead Friend/Ghost (2004)

Pada periode awal 2000-an perfilman Asia, seperti tengah demam dengan genre horor, terutama dengan kisah-kisah yang menampilkan arwah penasaran yang ingin menuntut balas akan kematiannya yang tidak wajar dan hadir dalam wujud hantu perempuan berambut panjang. ‘Dead Friend’ atau ‘령 – Ryeong’ yang secara harafiah berarti ‘The Ghost’ adalah bagian dari trend tersebut. Sebenarnya tidak ada yang baru ditawarkan oleh film ini, bahkan sebenarnya memakai pola yang tipikal atau jenerik. Lantas apa yang membuat ‘Dead Friend’ menarik untuk disimak?

Ji Won (Kim Ha-neul, bermain dalam salah satu film Korea favorit saya,Ditto) adalah seorang mahasiswi tingkat dua yang secara fisik terlihat baik-baik saja. Akan tetapi sebenarnya dia tengah mengalami amnesia yang cukup akut akibat kecelakaan yang dialaminya setahun lalu. Ji Won tengah kalut, karena hubungannya dengan sang ibu tengah meruncing, karena Ji Won memutuskan untuk pindah keluar negeri, karena ingin memulai hidup yang baru. Namun yang lebih parah adalah dimana akhir-akhir ini seperti melihat penampakan sosok misterius yang membayanginya serta mimpi-mimpi buruk yang selalu menderanya.

Perlahan-perlahan memorinya pun mulai kembali. Dan dari potongan-potongan kenangan tersebut ia pun menyadari jika ia dulu adalah sosok yang sangat bertolak belakang dengan dirinya. Sedari kecil sampai dewasa ia mempunyai teman akrab yang bernama Su In (Nam Sang-mi). Namun saat mulai duduk di bangku sekolah menengah atas, ia mulai menindas Su In, karena menganggap Su In tidak pantas lagi berteman lagi dengannya. Apa lagi tiga teman se-geng Ji Won, turut memanas-manasi.

Namun, saat kemudian Ji Won menyadari jika tiga teman se-geng tersebut juga mengalami gangguan yang sama dengan dirinya dan kemudian masing-masing kemudian tewas seolah-olah dalam keadaan tenggelam, maka Ji Won menyadari jika berikutnya adalah gilirannya. Dan bisa jadi Su In ada dibelakang semua peristiwa mengerikan ini.

Sebenarnya saat menyaksikan ‘Dead Friend’ ini seakan-akan tengah mengalami déjà vu, karena sang sutradara sekaligus penulis skrip, Kim Tae-gyeong, benar-benar menyerap formula yang telah menjadi pakem dalam film-film sejenis. Hantu yang mengintai, boo moments, visual-visual yang creepy dibangun dalam atmosfirnya, ketimbang benar-benar menciptakan ruang lingkup yang menyeramkan, musik serta efek suara yang mengejutkan dan seterusnya you named it!

‘Ringu’, ‘Dark Water’ dan ‘Ju On’ jelas merupakan film-film yang banyak ‘dipinjam’ oleh ‘Dead Friend’ sebagai referensi. Banyak sekali adegan-adegan yang mengingatkan akan film-film tersebut kalau tidak mau disebut sebagai hasil copy-paste. Meski begitu, secara garis besar, tema cerita mengenai persahabatan antar siswi dengan dinamikanya yang cenderung tragis bisa saja menjadikan film ini menjadi bagian dari seri ‘Whispering Corridor’ yang terkenal itu.

Diatas kertas, ‘Dead Friend’ kelihatan sangat tertebak dan membosankan. Akan tetapi syukurlah Tae-gyong cukup terampil dalam mengeksekusi adegan-adegannya dalam tempo dan intensitas yang terjaga. Secara keseluruhan tone drama memang lebih mendominasi dalam jalan ceritanya, didukung oleh penggunaam warna-warna lembut dan musik latar yang subtil.

Tampaknya film memang lebih menginginkan penontonnya untuk terseret dalam arus cerita ketimbang menjual kengerian belaka. Dengan menawarkan twist yang sebenarnya cukup mengada-ngada, akan tetapi film telah cukup berhasilnya dalam upayanya untuk mengikat penonton dalam ceritanya, sehingga pada akhirnya twist tersebut menambah kesan tragis dan ironis yang film secara keseluruhan.

Sisi emosionil tampaknya memang yang ingin dielaborasi oleh film ini ketimbang mengejar sensasi horor belaka. Dan hal tersebut didapat pada karakterisasinya serta jalinan antar mereka yang kemudian membentuk narasi yang menguras empati penontonnya. Apalagi didukung pula oleh akting kuat Kim Ha-nuel (dalam film horor pertama san sejauh ini satu-satunya) yang biasa bermain di film drama, maka kesan tersebut semakin kuat terpatri.

Menyaksikan ‘Dead Friend’ pada akhirnya memang seolah-olah menyaksikan sebuah film drama dengan bumbu-bumbu horor, bukan sebaliknya. Akan tetapi, secara pribadi saya suka dengan film ini. Strukturnya yang padat dan tidak bertela menjadikannya renyah untuk dinikmati. ‘Dead Friend’ seolah menjadi bukti jika pola klise dan basi tetap bisa menjadi tontonan yang menarik asal tidak terjebak dalam tipikalitas dan memberikan sesuatu yang cukup signifikan untuk membedakannya dengan yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s