Film Review: Inner Senses (2002)

Sebenarnya dalam konteks sekarang ini, tema yang diusung oleh ‘Inner Senses’ atau ‘異度空間 – Yì Dù Kōng Jiān’, sudah agak usang dan mungkin tidak menarik lagi. Akan tetapi, diproduksi di awal periode 2000-an, dimana kesuksesan ‘The Eye’ telah menjadi pemicu akan banyaknya pengekor-pengekor di industri perfilman Hong Kong, maka ‘Inner Senses’ bisa disebutkan sebagai film yang cukup kredibel dalam mengeksekusi narasinya. Serta menjadi catatan tersendiri, karena ini adalah film terakhir aktor kawakan Leslie Cheung (A Better Tomorrow, A Chinese Ghost Story, Farewell My Concubine, Bride With White Hair, Ashes of Time, Happy Together) yang membunuh dirinya di tahun 2003.

Film arahan Law Chi-leung (Koma) ini berkisah tentang A Xin (Karena Lam) yang gelisah, karena melihat penampakan-penampakan sosok hantu. Lantas atas desakan sepupunya, ia menemui seorang psikiater yang tidak memercayai adanya alam ghaib yang bernama Jim (Leslie Cheung). A Xin yang awalnya tampak sangat terganggu secara mental, perlahan-perlahan mulai menunjukkan perubahan pada perilakunya dan mulai bersikap wajar. Tampaknya dia pun perlahan mulai menyintai Jim. Justru saat semuanya kelihatan berjalan dengan baik, kini giliran Jim yang dihantui oleh sosok perempuan misterius.

Saat dibuka dengan set-up standar ala film-film I See Dead People, dimana karakter A Xin di “ganggu” oleh mahluk halus, pengarahan Chi-leung meski terkesan jenerik akan tetapi cukup mampu membangun atmosfir seram. Namun, saat kemudian karakter A Xin mulai berinteraksi dengan Jim, atmosfir horor tadi pun mulai berganti rupa menjadi drama dengan asupan thriller yang kental.

Tampaknya film memang lebih berminat menggali sisi psikologis ketimbang mengejar kengerian untuk menakuti-nakuti penonton belaka. Beruntung film didukung oleh Leslie Cheung. Soal akting sudah tidak usah diragukan lagi, mampu membawa kedalaman yang diperlukan bagi karakternya. Beruntungnya lagi, meski saat film ini diproduksi Karena Lam masih terhitung sebagai pendatang baru, akan tetapi mampu mengimbangi permainan watak Cheung sehingga mereka dengan baik memberi kualitas emosionil yang diperlukan dalam dinamika ceritanya.

Saat menjelang akhir, barulah tensi horor dimasukkan kembali. Sayangnya, dibandingkan adegan pembuka, maka untuk porsi klimaks film, horor yang ingin ditampilkan terasa kurang maksimal tergali. Unsur seram menjadi bahan langka disini, apalagi di dukung penampilan hantu yang menggelikan ditambah efek khusus dan efek suara yang menggelikan.

Pada akhirnya, secara keseluruhan ‘Inner Senses’ terasa tidak berimbang dalam membagi porsinya ataupun memuaskan dalam memberi jatah seramnya, akan tetapi tetap menarik untuk diikuti, disamping karena jarangnya ada film horor yang menarik di perfilman Hong Kong dalam dekade ini, juga karena menjadi film terakhir seorang aktor legendaris Hong Kong yang sangat berbakat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s