Film Review: 13 Beloved (2006)

Chit (Krissada Sukosol Clap a.k.a Krissada Terrence), seorang karyawan biasa berumur 32 tahun, yang tengah depresi oleh banyak permasalahan yang dihadapinya. Belum lagi ia habis dipecat pula oleh pimpinannya. Kemudian ia menerima sebuah panggilan telepon misterius yang mengajaknya untuk mengikuti permainan yang bernama 13 Beloved, dimana ia harus melakukan 13 perkara untuk dapat memenangkan 100 juta Baht (sekira 27.3 miliar rupiah). Hal-hal yang dilakukannya mulai dari yang konyol hingga amat berbahaya dan menentang hati nurani. Berhasilkah ia menempuh 13 rintangan tersebut dan memenangkan uang tersebut?

Sementara itu, kolega Chit di kantor, Tong (Acita Sikamana, dari film ‘Shutter’), yang ahli komputer mencurigai tingkah polah Chit dan menemukan situs misterius yang bernama 13 Beloved, dimana sejumlah orang bertaruh uang untuk seseorang yang berupa mirip Chit, apakah bisa melakukan 13 rintangan atau tidak! Oleh karena itu Tong berniat mencegah Chit untuk terseret lebih dalam.

Menilik premisnya, sepintas film ini memang mengingatkan akan ‘feardotcom‘ atau ‘Pulse‘. Akan tetapi sebenarnya ’13 Beloved’ atau ’13 Game Sayong’ atau ’13 Game of Death’ ini diangkat berdasarkan sebuah komik karya Eakasit Thairath.

Sang sutradara yang baru berusia 25 tahun (saat itu), Matthew Chookiat Sakveerakul dengan mengagumkan berhasil merangkai sebuah horor-thriller dengan unsur suspens dan misteri yang kuat dengan arsiran psikologis dan kritisi sosial serta bumbu-bumbu komedi, yang menjadikan ’13 Beloved’ sebagai sebuah film yang entertaining yet profound.

Film bertutur dengan lancar nyaris tanpa gagap, sehingga terasa padat. Meski elemen komedinya agak kurang tepat atau kurang berhasil, sehingga malah terasa mengganggu tone serius yang sudah dibangun sebelumnya. Belum lagi adegan kejutan di klimaks yang agak kurang pas jika tidak dikatakan terlalu dibuat-buat, walaupun kemudian memang bisa mengisi beberapa lubang-lubang dalam ceritanya.

Berbicara mengenai lubang di cerita, terus terang memang wajar jika penonton akan kerap memikirkannya sepanjang durasi Chit melaksanakan “tugasnya”. Sebagai contoh, betapa hebat dan efisien sistem kerja kelompok 13 Beloved, sehingga mereka selalu bisa memantau dan mengarahkan tindak tanduk Chit. Atau memang bisa saja segala sesuatunya memang telah mereka rencanakan dengan teliti sebelumnya? Namun, entah mengapa rasanya masih terlalu luar biasa, sehingga bisa saja kita berfikir ada campur tangan unsur supernatural disini!

Krissada Sukosol Clap sendiri dengan sangat berhasil mentranformasikan dirinya menjadi Chit, yang depresi pada awalnya, antusias kemudian, dan penuh dilema pada akhirnya. Ia berhasil merefleksikan realisme dalam film, sehingga walau beberapa keadaan terasa luar biasa dan muskil, namun tetap membumi, sehingga atmosfir dipenuhi ketegangan sekaligus mengerikan.

Realisme memang sepertinya yang ditawarkan oleh Matthew Chookiat Sakveerakul, sehingga meski mengandung unsur fantasi, ’13 Beloved’ terasa riil dan oleh karenanya lebih menggelisahkan.

Kabarnya PH Hollywood, Weinstein Co., telah merencanakan untuk meremake film ini dalam versi Amerika. Ini membuktikan jika ’13 Beloved’, yang bersama dengan ‘Kala’ (2007) karya Joko Anwar menjadi peserta PiFan Film Festival 2007 di Korea Selatan, adalah film yang unik dan hadir dengan visinya yang universal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s