Film Review: The Orphanage (2007)

Film hantu atau film horor yang bercerita tentang kengerian yang disebabkan oleh hantu adalah tipe sub-genre horor yang menjadi sering dibuat pada era 2000-an ini. Terimakasih untuk sejumlah film horor Jepang seperti Ringu dan Ju-On (dan terutama remake-nya) yang mempopulerkan lagi jenis ini setelah sebelumnya film-film slasher yang berdarah-darah seperti Halloween, Friday the 13th dan Scream mendominasi era 70-an sampai 90-an.

Film hantu lebih mengandalkan pada mood dan atmosfir kelam pada cerita untuk menciptakan kengerian. Dan pada awalnya memang sineas-sineas Jepang (dan beberapa sutradara Asia lainnya) terbukti mempunyai cara yang inventif untuk menciptakan ilusi seram yang ingin ditimbulkan. Namun, lama kelamaan pola mereka terus berulang, sehingga pada akhirnya justru menciptakan kejemuan dan monotonitas yang menyebabkan banyaknya film-film sejenis yang menjadi “basi”.

Justru di saat Asia mulai kehilangan “taji”-nya, Guillermo del Toro (Pan’s Labyrint, Hell Boy), sineas asal Meksiko, memproduseri film asal Spanyol yang berjudul asli El Orfanato, yang dalam bahasa Inggrisnya berarti The Orphanage. Oh, ini memang tentang (bekas) rumah yatim piatu yang berhantu. Tentu saja. Akan tetapi ini juga tentang ketegangan mencekam yang dibangun berdasarkan ketakutan akan sesuatu yang sebenarnya kita tidak pahami betul, yaitu dunia arwah. Atau benarkah film ini memang ingin bercerita tentang itu?

Laura (Belen Rueda) bersama suaminya, Carlos (Fernando Cayo) dan anak laki-laki mereka Simon (Roger Princep) menempati sebuah rumah yang dulunya adalah panti asuhan dimana Laura dibesarkan. Laura mempunyai cita-cita yang mulia, yaitu akan menjadikan rumah tersebut sebagai rumah perawatan untuk anak-anak cacat.

Laura mempunyai kenangan-kenangan yang indah akan rumah tersebut, setidaknya sampai ia akhirnya keluar dari rumah tersebut. Namun, sepeninggal Laura, ternyata rumah tersebut mempunyai rahasia kelam dan sekarang berkeinginan untuk membaginya dengan Laura.

Pada saat Simon mempunyai teman yang dikira khayalan, tentu saja kita tahu itu bukan khayalan belaka. Pada saat Simon menghilang dan Laura mulai merasa diganggu, kita semakin tahu kalau memang ada unsur-unsur supernatural yang bermain disini.

Hmm, The Orphanage memang mengambil banyak pola tipikal dari sub-genre ini. Namun kelebihan Juan Antonio Bayona, sutradaranya, ia memutuskan untuk memfokuskan pada upaya membangun kengerian yang merambat melalui suspensi yang dibalut dengan subtilitas dibandingkan faktor kejutan belaka.

The Orphanage berhasil membangun nuasa mistis dari kehadiran arwah-arwah sekaligus memainkan twist dalam jalinan ceritanya sebagai satu kesatuan yang utuh dan mengindari “tipuan” murahan untuk membangunnya. Ini menjadikan The Orphanage adalah satu horor yang berkelas dan superior.

Setelah sekian lama kebal rasa takut akan hantu dalam film-film horor, film ini menjadikan saya untuk merasa takut lagi kepada mereka.

the-orphanage-movie-poster-2007-1020445859
★★★★☆
Advertisements

5 Comments

  1. Saya udah nonton. Dan… endingnya mengharukan banget. Bnear katak pepatah : Jangan mengharapkan happy ending di horror.

  2. seru tuch kayaknya filmnya tapi aku belum nnton maklum penakut sekali nanton film horror harus ada yang nemenin kalo gak …
    bakalan kabur dari rumah kalo gak ngumpet dikamar.

Comments are closed.