Film Review: Mother and Child (2010)

Sebuah drama yang bagus tidak melulu harus bersandar pada cerita yang luar biasa, kompleks atau dipenuhi estetika. Tidak juga melulu harus sebuah studi karakter. Terkadang yang dibutuhkankan adalah emosi dan perasaan yang tercurah dari karakter-karakternya. Dan menurut saya justru hal tersebut adalah yang paling sulit untuk diperah, karena jika dimainkan oleh aktor-aktor yang kurang kredibel, emosi yang tersalurkan malah akan terkesan datar dan monoton. Syukurlah, ‘Mother and Child’ sebagai sebuah film yang mengandalkan emosi tadi didukung oleh aktor-aktor watak yang memainkan peran mereka dengan dedikasi yang persisten dan berimbas pada enerji yang dipancarkan oleh filmnya.

Cerita di dalam ‘Mother and Child’ sebenarnya cenderung melodramatis dan bisa saja ditemukan dalam rangkaian episode sebuah opera sabun tengah hari. Akan tetapi Rodrigo García, penulis dan pengarah film mampu menjadikan premis ceritanya sebagai landasan akan pamer fluktuasi emosional, baik bagi karakter-karakternya maupun bagi para penontonnya, yang terseret dalam pusaran arusnya.

Berkisah tentang tiga orang perempuan, Karen (Annette Bening), Elizabeth (Naomi Watts) dan Lucy (Kerry Washington) dan sebuah titik yang mempertemukan lintasan mereka. Karen adalah seorang perempuan 51 tahun yang masih tinggal bersama ibunya. 37 tahun lalu, saat masih berusia 14 tahun ia hamil dan kemudian memberikan anak perempuannya untuk diadopsi. Setelah itu kehidupannya dipenuhi oleh sesal dan ia menjadi sosok yang getir dan tertutup, cenderung menolak relasi yang ditawarkan oleh orang lain, termasuk rekan kerja barunya Paco (Jimmy Smiths).

Elizabeth adalah seorang pengacara cerdas yang sukses. Hidupnya penuh dengan determinasi. Akan tetapi latar belakangnya sebagai seorang anak adopsi dan tidak pernah mengetahui siapa orang tuanya cenderung menjadikannya sinis dalam memandang kehidupan dan orang-orangnya. Ia kemudian berhubungan dengan boss-nya di kantor, Paul (Samuel L. Jackson). Saat kemudian Elizabeth hamil, dia pun memutuskan untuk meninggalkan Paul dan memilih untuk menyendiri.

Sementara itu Lucy, seorang pengusaha restoran sukses, memiliki nasib malang karena tidak bisa dikaruniai anak. Oleh karenanya, ia bersama dengan sang suami, Joseph (David Ramsey) memutuskan untuk mengadopsi anak. Kepala panti asuhan, Suster Joanne (Cherry Jones) kemudian mengenalkan mereka dengan Ray (Shareeka Epps), seorang perempuan berusia 20 tahun yang ingin memberikan anak yang kandungnya untuk diadopsi. Segala hal tampaknya berjalan sesuai dengan yang direncanakan oleh Lucy, sampai tiba-tiba nasib berputar haluan melawan niat tulusnya.

Meski memakai model plot yang arketipe, García tidak terjebak untuk terlalu memanipulasi narasi untuk memancing haru dari penontonnya. Rasa tersebut digali justru dari interelasi antar karakternya dan bagaimana para karakternya mengekspresikan sisi humanitas mereka.

Plot yang terbagi tiga berjalan dengan mulus dalam mendukung berdirinya struktur cerita yang kokoh dan padat. Dalam nyaris dua jam, meski bertumpu pada banyak dialog verbal, akan tetapi film sama sekali tidak pernah membosankan.

Dan García beruntung didukung oleh barisan pemain yang benar-benar memainkan peran mereka dengan baik. Tidak ada yang tampil cacat disini, bahkan untuk karakter pendukung dalam porsi tampil yang sedikit. Mulai dari Bening, Watson, Washington sampai pada Samuel L. Jackson memberikan penampilan matang yang mumpuni, meniupkan vertilitas yang diperlukan. Khusus untuk Bening, menurut saya ia bahkan tampil lebih gemilang dibandingkan apa yang ditampilkannya di ‘The Kids are Alright’ (2010).

Jujur saja, mulai memasuki paruh kedua sampai menjelang akhir, saya nyaris tidak bisa menghentikan air mata yang mengalir deras. Paruh pertama dipergunakan narasi sebagai pengenalan karakter serta merupakan sebuah proses penggiringan emosi untuk menemui letupan-letupan emosi yang kemudian bertaburan paruh kedua menjelang akhir.

Dialog-dialog yang ditampilkan tidaklah istimewa, akan tetapi karena dimainkan secara sangat baik dan didukung oleh gestur fisik yang mumpuni, rangkaian kata tersebut malah seperti belasan belati tajam yang menusuk-nusuk dada. Terasa sakit sekaligus membuncahkan asa menjadi keharuan yang dalam.

Salah satu adegan yang paling saya suka adalah saat Ray berkeluh kesah (dalam versi Ray yang cuek tentu saja) tentang bayi yang dikandungnya kepada sang ibu. “I don’t want this baby,” kata Ray. “I didn’t want you too,” sahut sang ibu. Kemudian dengan bergetar, karena menahan tangis, sang ibu melanjutkan, “but now I can’ stop thinking or breathing about you.” (Kurang lebih seperti itu) Okay, someone please pass me a tissue.

Tidak setelah ‘Little Children’ (2006), drama domestik dapat tampil dengan sangat menggugah. Setidaknya bagi saya. Hubungan seorang anak dengan ibunya memang terlihat sangat sepele. Akan tetapi siapapun tahu kalau naluri seorang ibu adalah untuk melindungi dan kasihnya akan selalu mencari jalan untuk menaungi sang anak, sepanjang apa pun jalan yang terbentang dan sesukar apa pun untuk ditempuh. Sebuah kontemplasi tidak melulu harus digali melalui pemikiran yang ruwet. Dan ‘Mother and Child’ adalah bukti untuk itu.

Definitely one of my favorite for the year of 2010.

Advertisements

3 thoughts on “Film Review: Mother and Child (2010)

  1. Lee says:

    saya penasaran dengan moment pertemuan antara elizabeth dan ibunya. bisa jadi klimaks alur film ini. makanya saya terkejut ketika elizabeth tanpa diduga meninggal. jadi penasaran dengan alurnya. titik pertemuan ketiga cerita belum lagi ketemu tau2 sudah ada yang -saya merasa seperti- terputus ditengah jalan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s