Film Review: Easy A (2010)

SPOTTED: Olive Penderghast is a major slut. Dia akan bersedia tidur denganmu dengan bayaran yang tepat. Serunya lagi, tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang banyak untuk dapat tidur dengannya. Cukup voucher makan juga bisa. Siapa yang mengira jika gadis cerdas dan (awalnya) terlihat baik-baik ini adalah seorang perempuan binal dan suka berzinah? Now you guys, let’s never ever judge a book by it’s cover, right? You know you love me. XOXO.

Rhiannon : You’re being pretty cavalier about this. Aren’t you supposed to be eternally in love with him and shit?

Olive Penderghast : Yes… I believe so, if I was the Gossip Girl in Sweet Valley of the Traveling Pants.

Siapa sih Olive (Emma Stone)? Dia bukan siapa-siapa di sekolahnya yang terletak di kota Ojai, California. Tidak sampai terpaksa berbohong kepada sahabatnya Rhiannon (Alyson Michalka) jika ia telah kehilangan keperawanannya. Masalahnya, secara tidak sengaja Marianne (Amanda Bynes), seorang anak Tuhan yang sangat “berdedikasi” terhadap ajaranNya, mendengar percakapan tersebut. Tentu saja ini menjadi “tugas” terbaru bagi Marianne untuk “mengembalikan” Olive ke “jalan yang benar”.

Sementara itu gosip menyebar dengan cepat. Anehnya, status popularitas Olive mendadak meningkat drastis dan kini semua orang merasa perlu untuk mengenalnya.

Pada saat pelajaran Bahasa Inggris, kebetulan guru mereka, pak Griffith (Thomas Haden Church) membahas tentang novel klasik karya Nathaniel Hawthorne yang berjudul The Scarlet Latter (film yang dibintangi Demi Moore dan Gary Oldman mungkin bisa menyegarkan ingatan). Seorang siswi kemudian mencela prilaku Olive. Olive, seseorang yang dibesarkan oleh ayah dan ibu (Stanley Tucci dan Patricia Clarkson) yang berfikiran terbuka, mempunya kecendrungan untuk berbicara ceplas-ceplos, kemudian membalasnya yang menyebabkan ia harus berurusan dengan kepala sekolah. Disana ia bertemu dengan Brandon (Dan Byrd) yang menurut desas-desus adalah seorang gay.

Brandon kemudian meminta tolong kepada Olive untuk berpura-pura melakukan hubungan seks dengan dirinya, agar orang-orang berhenti mengejeknya karena dia adalah gay. Menjadi seorang gay di sekolah menengah atas adalah mimpi buruk. Olive menyadari itu dan bersedia membantu. Berhasil tentu saja. Tapi kemudian berbondong-bondong remaja-remaja pria “terasing” lainnya “meminta tolong” kepada Olive.

Walhasil cercaan pun kemudian mulai dialamatkan kepada Olive. Bukannya tertekan, Olive dengan percaya diri memberi emblem A disetiap bajunya yang kini dirombak dengan sangat seksinya. Dengan bersikap seperti ini Olive seolah berusaha melawan subordinitas rekan sebaya yang mencoba menekannya. Akan tetapi saat rumor berkembang semakin tak terarah, hubungannya dengan Rhiannon semakin memburuk dan ada kemungkinan pria yang ditaksirnya, Dan Humprey, errr, maksudnya Todd (habis mereka dimainkan oleh Penn Badgley, sih :p) akan berlari menjauh darinya. Lantas, apa yang harus dilakukan oleh Olive untuk mengakhiri ini semua?

Terima kasih untuk Will Gluck yang sangat atraktif dalam pengarahannya, film berjalan dengan pace yang sangat dinamis. Tidak pernah membosankan. Akan tetapi, oh my, saya harus menyelamati Bert V. Royal untuk skrip brilian yang ditulisnya. Tidak setelah ‘Mean Girls’ (2004) dan ‘Juno’ (2007) saya merasa sangat terhipnotis oleh sebuah film remaja dengan dinamika yang gemilang.

‘Easy A’ sebenarnya masih bercerita dalam koridor tematik ala film remaja Hollywood lainnya, dengan stereotype dan prejudis masih menjadi menu utama. Akan tetapi sesuatu yang awam dan umum kemudian diolah menjadi cerita satir yang menohok.

Tambahkan ide-ide akan kesetaraan gender atau homophobia di dalam adonan ceritanya malah menambah kaya aksentuasi naratifnya Meski kemudian tidak menjadi fokus utama, akan tetapi resonansinya cukup signifikan untuk menjadikan ‘Easy A’ sebagai potret dunia remaja yang dipenuhi dengan insekuritas tersebut. Terkesan berat memang, akan tetapi karena dibuat dalam bentuk yang cukup komikal maka ide-ide yang ada bisa disampaikan dengan baik.

Dengan memasukkan berbagai judul film-film remaja era 80-an sebagai referensi, terutama film-filmnya John Hughes, dapat kita rasakan kerinduan Bert V. Royal akan film-film remaja berisi era tersebut. Dan jikalah ‘Easy A’ adalah homage untuk itu, saya rasa cukup berhasil.

Tapi tentu saja atraksi utama dari film adalah Emma Stone. Sebagai Olive yang witty dan sarkastik, Emma tampil gemilang. Susah untuk tidak menyukai Olive. Sentuhan komikal dirinya tidak pernah meninggalkan kesan tulus dan down to earth yang melekat dengan erat. Dan Emma berhasil meniupkan impresi yang mendalam dalam benak saya sebagai penonton. Dan saya telah jatuh cinta kepada Olive, eh Emma.

Setelah peran-peran pendukung seperti di dalam ‘Superbad’, ‘The House Bunny’, ‘Ghosts of Girlfriends Past’ dan ‘Zombieland’, Emma Stone benar-benar memanfaatkan dengan baik kesempatan tampil solonya ini dengan maksimal. Sinarnya bersinar dengan terang dan dengan pilihan skrip yang tepat kedepannya, saya yakin she will be the next big thing. Dan ia memang pantas untuk itu.

Meski menurut saya pribadi belumlah sesolid ‘Mean Girls’ dalam memaparkan cerita yang benar-benar bernas, akan tetapi saat ini ‘Easy A’ seperti oase di tengah gurun pasir film remaja bermutu yang kerontang. Sebuah film yang tidak hanya melucu, akan tetapi mampu berbicara dengan artikulasi yang sangat baik kepada penontonnya. Tidak heran ia kemudian mampu menyuarakan pikirannya dengan baik.

Advertisements

5 thoughts on “Film Review: Easy A (2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s