Film Review: The Town (2010)

The Town

Dalam ‘The Town’, karya penyutradaraan keduanya, Ben Affleck (Gone, Baby Gone, 2007), seolah menegaskan jika ia kini sudah mantap dengan pilihannya untuk turut juga menjadi sosok di belakang layar yang mengorkestrasi sebuah dramaturgi sinematis. Masih dalam rute crime-drama-thriller, kali ini ia memilih pendekatan yang lebih dinamis, mengikuti struktur plot yang dirangka Chuck Hogan dalam novel ‘Prince of Thieves’ yang dikarangnya. Hasilnya, terlepas dari plot bergaya novelnya, ‘The Town’ adalah sebuah tontonan yang cukup mengasyikan dalam mengikuti cuplikan kehidupan seorang prilaku kriminal.

Pemakaian kota Boston sebagai seting seolah menegaskan jika kota tersebut bagaikan sebuah wadah bagi banyaknya pelaku kriminalitas, berkembang seperti pandemik, meresahkan, akan tetapi sulit untuk diberantas, karena banyaknya anggota komunitas kota yang justru terjun menjadi pelakunya. Coba kita ingat, betapa banyak film yang bertema kriminalitas yang telah memakai kota Boston, dengan komunitas Irlandia sebagai mayoritas penduduknya, sebagai lanskap. Yang paling mudah diingat tentu saja ‘The Departed’ (2006) karya Martin Scorsese. Bahkan, di film perdananya sendiri, Affleck pun sudah mengunjungi Boston sebagai seting.

Pemakaian judul seperti ‘The Town’ tentu saja mengundang rasa ingin tahu, ada apakah dengan sang kota? Mengapa ia menjadi sebuah sudut pandang? Hmm, jujur saja, setelah menyaksikan filmnya, saya tidak mendapatkan jawaban tersebut. Well, mungkin ada, akan tetapi sangat implisit sehingga cukup sulit untuk diidentifikasi. Hal ini mungkin terjadi karena film lebih menekankan pada karakter-karakternya.

Berkisah tentang empat sekawan, Doug MacRay (Ben Affleck), James “Jem” Coughlin (Jeremy Renner), Albert “Gloansy” Magloan (Slaine), dan Desmond “Dez” Elden (Owen Burke), yang besar bersama di jalan Charlestown, yang sudah lama terkenal keras. Pada suatu hari mereka merampok sebuah bank dan menyandera Claire Keesey (Rebecca Hall), sang manajer di bak tersebut. Claire memang pada akhirnya dilepas oleh kawanan tersebut, namun kemudian Doug memutuskan untuk menguntit Claire demi keamanan mereka. Surprise, surprise, kemudian malah timbul hubungan romansa diantara mereka.

Di tempat lain, seorang agen FBI yang bernama Adam Frawley (Jon Hamm) ditugaskan untuk menyelidiki kasus ini. Agen Frawley tampaknya bersedia melakukan apa pun agar kasus ini selesai, termasuk mengancam Krista Coughlin (Blake Lively), mantan pacar Doug dan adik Jem yang mantan pecandu. Di tempat lain, Doug mendapat tekanan dari Fergie the Florist (Pete Postlethwaite), seorang tokoh kriminal yang disegani di kota tersebut. Saat semua itu dirasa belum cukup, Jem sendiri menunjukkan prilaku bringas yang tidak disukai oleh Doug dan mungkin saja akan mengancam hubungannya yang mulai bersemi dengan Claire.

Berbeda dengan ‘The Departed’ misalnya, ‘The Town’ memilih cerita yang lebih personal. Konflik-konflik yang dibangun pun masuk dalam ruang lingkup yang lebih sempit dan membatasi dirinya dengan hanya menangkap interelasi antar karakter-karakternya. Meski begitu tetap ada injeksi tentang pola prilaku kriminalitas serta komunitas yang melingkupinya. Hal ini dapat dicermati dari hubungan yang ada diantara Doug dengan sang crime lord, Fergie the Florist atau dengan sang ayah, Stephen MacRay (Chris Cooper), yang kini tengah mendekam di penjara dan mempunyai masa lalu yang tak kalah kelamnya dengan Doug.

Affleck cukup efektif dalam membangun struktur narasinya, meski rasanya sulit dihindarkan kesan monoton pada beberapa titik, dikarenakan kurangnya asupan enerji serta vitalitas yang bisa membangun atmosfir ketegangan. Beberapa adegan seperti terjebak pada dialog-dialog verbal yang kurang aspiratif, sehingga membuat pace sedikit draggy.

Dan adegan aksi? Wah, mungkin kedepannya Affleck lebih baik fokus pada film dengan penekanan laga yang lebih intens. Affleck dengan juara berhasil mengeksekusi adegan-adegan mendebarkan tanpa perlu bersandar pada jump cut, shaky camera or rapid cutting which plagued many action film these days. Terlihat kasar, akan tetapi tetap mendebarkan dan lincah.

‘The Town’ mungkin masih belum yang terbaik yang dapat kita harapkan dari seorang Ben Affleck dalam kapasitasnya sebagai sutradara. Akan tetapi jelas film menunjukkan dengan tegas jika he’s here to stay. Menilik track record-nya berdasarkan ‘ Gone, Baby Gone’ dan juga ‘The Town’, jelas terlihat jika Affleck bukan seorang sutradara dengan visi komersial belaka. Akan tetapi terlihat jika ia ingin selalu meningkatkan standar akan tema yang coba diusungnya. Dengan demikian, rasanya bolehlah kita tunggu hasil karya Affleck berikutnya.

Advertisements

4 thoughts on “Film Review: The Town (2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s