Film Review: Rabbit Hole (2010)

Yang paling saya ingat saat menyaksikan trailer ‘Rabbit Hole’ untuk pertama kalinya adalah betapa mengesankannya impresi yang diberikan karakter yang dimainkan Nicole Kidman saat mengkonfrontir pasangan suami istri dalam situasi yang tampaknya adalah sebuah forum konseling. Forum yang mencoba mengatasi kesedihan orang tua yang kehilangan anak mereka. Sarkasme Kidman begitu memenuhi ruangan, menyebar dengan cepat kebenak dan terekam dengan sempurna sebagai kenangan yang mengusik. Mengendap. Dan menyesakkan. Jika trailernya saja begitu provokatif dalam mengungkapkan kegusaran, apakah hal yang sama terjadi saat menyaksikan filmnya secara utuh?

Becca (Nicole Kidman) dan Howie Corbett (Aaron Eckhart) adalah pasangan yang berduka. Delapan bulan yang lalu mereka kehilangan anak laki-laki yang berusia empat tahun dalam sebuah kecelakaan. Dipermukaan, mereka sepertinya baik-baik saja. Berusaha melipur duka dengan berlalunya waktu. Akan tetapi didalam, kepedihan begitu merongrong jiwa mereka.

Becca mungkin terlihat tegar. Melakukan aktifitas kesehariannya seperti biasa dan tampaknya sudah bisa melupakan peristiwa tragis tersebut. Ia sudah mengepak baju-baju anak mereka dan hendak memberikannya kepada sang adik, Izzi (Tammy Blanchard), yang tengah hamil. Bahkan ia menyarankan kepada Howie agar menjual rumah yang mereka diami dan memulai hidup baru. Akan tetapi, Becca justru sangat tersisolasi dalam dunianya sendiri. Menolak interaksi dengan siapapun, bahkan termasuk dengan sang ibu, Nat (Dianne Weist), yang sebelumnya pernah mengalami peristiwa yang sama. Howie mungkin terlihat ceria, terbuka dan bersikap seolah semuanya biasa-biasa saja. Akan tetapi proses detachment bagi dirinya justru adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan, karena kenangan akan sang anak yang sulit untuk dilupakan.

Pada akhirnya hubungan mereka kemudian tidak ubahnya basa-basi yang monoton dan siap untuk meledak kapan saja. Sebuah luka yang belum kering, meski sudah ditutupi akan tetapi tetap menganga, jika tidak dilakukan pengobatan yang serius. Nah, alih-alih mengobati, pasangan ini sepertinya terjebak dalam status quo kesedihan mereka dan saat gagal dalam menemukan sandaran dari masing-masing pihak, kemudian mereka mencari pihak ketiga yang kiranya dapat menjadi pengalihan kesedihan itu. Bagi Howie adalah Gabby (Sandra Oh), rekan konseling mereka yang tengah mengalami masalah rumah tangga dengan suaminya. Sedang Becca diam-diam berhubungan dengan Jason (Milles Teller), sang remaja tanggung yang menabrak putranya.

‘Rabbit Hole’ adalah tentang duka, kesedihan, kemurungan, kelegaan, dan adanya kemungkinan memaafkan, dimaafkan. John Cameron Mitchell dengan sangat subtil merangka film ini dalam sebuah plot yang berjalan lirih, meski terkadang meledak, melemparkan bom emosi yang menyesakkan. Berbeda dengan ‘AntiChrist’ (2009) dari Lars Von Trier, yang meski sama-sama berbicara tentang pasangan suami-istri yang berduka kehilangan anak, akan tetapi menempuh jalur yang lebih suram dan ekstrim, maka ‘Rabbit Hole’ memilih pendekatan yang lebih sederhana dan membumi.

Mungkin rasanya sulit untuk menafikan prediksi atau klise yang melingkupi jalan ceritanya, karena bagaimanapun materi seperti ini bukan hal baru lagi untuk diolah dalam bentuk sinema. Akan tetapi pastilah ada sesuatu yang istimewa dari skrip olahan David Lindsay-Abaire berdasarkan drama panggung pemenang Pulitzer yang juga ditulisnya. Ada atmosfir sendu tapi tidak cengeng. Ada kesuraman akan tetapi tidak melupakan gelak tawa. Ada kegelisahan, namun juga ada kehangatan. Dan yang paling penting semuanya terasa sangat mudah untuk kita relasikan, terlepas film ini dibintangi oleh nama besar yang mungkin akan lebih mencuri perhatian ketimbang isi ceritanya sendiri.

Tentu saja itu dapat tercapai karena penampilan gemilang Nicole Kidman dalam meniupkan ruh yang diperlukan untuk menjadi seorang Becca. Kidman dengan sempurna menampilkan kegelisahan, kesedihan, kegundahan dalam mimik dan gestur serta artikulasi yang sangat terjaga. Momen-momennya sangat menyedot perhatian dan menyodok emosi penonton. Terutama pada adegan yang mengharuskannya berinteraksi dengan karakter Jason yang diperankan oleh Milles Tiller. Kerapuhan yang memenuhi udara terasa sangat menyesakkan namun sulit untuk menghindari haru yang datang kemudian.

Dan Kidman, yang juga duduk sebagai produser untuk pertama kalinya disini, beruntung didukung oleh barisan pemain yang sangat kompeten. Baik dari aktor-aktor senior seperti Eckhart atau Weist, bahkan yang sangat junior seperti Tiller menyumbangkan asupan vitalitas dalam karakter-karakter mereka. Tentu saja tidak bisa terlepas dari kesuksesan John Cameron Mitchell dalam merangka narasinya. Sungguh diluar dugaan, alih-alih meledak-ledak dan dipenuhi dengan enerjitas, layaknya film-film terdahulunya, ‘Hedwig and the Angry Inch’ (1998) atau ‘Shortbus’ (2006) yang kontroversial, Mitchell mampu mengekang dirinya untuk mengeksplorasi tampilan yang lebih redup dan sunyi. Membangun kesan depresif sesuai tema yang digali dalam ceritanya.

‘Rabbit Hole’ itu sendiri adalah judul komik karangan Jason, berkisah tentang sebuah dunia pararel yang dapat dimasuki melalui perantaraan sebuah lubang yang bernama (tentu saja) Rabbit Hole. Sebuah metafora yang kemudian membuat kita bertanya, bagaimana jika semua yang terjadi dipandang dari sebuah sudut pandang yang berbeda? Apakah kita akan memberi persepsi yang sama atau malah berbeda. Apakah memberikan maaf, baik untuk diri sendiri atau pun orang lain akan menyebabkan terjadinya alterasi dalam kehidupan kita atau malah tidak terjadi apa-apa dan kehidupan terus berlangsung? Untuk menemukan jawabannya, mari kita masuk kedalam lubang kelinci dan melihat apa yang terjadi.

Dan, apa yang tersaji di trailer, tepat seperti yang tergambarkan di filmnya.

Direkomendasikan!

Advertisements

8 thoughts on “Film Review: Rabbit Hole (2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s