Film Review: Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (2010)

Selamat datang di dunia supernatural paman Boonmee, dimana mahluk ghaib dan manusia duduk bersama mengenang masa lalu. Sebuah memoar akan memori kehidupan lampau yang mungkin mempengaruhi kehidupan saat ini atau masa depan. Sebuah samsara tak berujung berasal dari karma yang diperbuat, entah baik atau buruk. Sebuah fantasi sureal tapi sekaligus realitis ala Apichatpong Weerasethakul, yang memenangi anugerah prestisius Palme d’Or pada ajang 2010 Cannes Film Festival, berjudul ‘Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives’.

Apichatpong Weerasethakul memang terkenal sebagai seorang autuer Thailand yang kharismatis. Karya-karyanya selalu diapreasiasi secara positif dari berbagai kalangan, baik dari dalam atau luar negeri. Ciri khasnya adalah bermain dalam ranah yang sureal nyaris fantasi akan tetapi tidak pernah kehilangan akarnya pada realisme. Sebuah perpaduan yang eklektik sekaligus puitis. ‘Uncle Boonmee’ juga bukan pengecualian.

Dibuka dengan adegan tanpa dialog verbal yang terfokus pada seekor kerbau yang melarikan diri dari majikannya. Lantas berpindah kepada perjalanan seorang Boonmee (Thanapat Saisaymar) menuju pedesaan dimana kebunnya berada. Ditemani oleh adik iparnya, Jen (Jenjira Pong) dan keponakannya Thong (Sakda Kaewbuadee), Boonmee yang tengah sekarat karena menderita suatu penyakit berniat menghabiskan sisa usianya disana.

Saat Boonmee, Jen dan Thong tengah bersantap menikmati makan malam, tiba-tiba muncul hantu istri Boonmee yang telah meninggal 19 tahun lalu, Huay (Natthakarn Aphaiwong). Menurut Huay, ia kembali untuk merawat Boonmee yang sakit. Belum hilang rasa kaget mereka, tiba-tiba muncul sosok bermata merah menyala dengan sekujur tubuh dipenuhi bulu lebat dari kegelapan. Ternyata ia adalah Boonsoong (Jeerasak Kulhong) putra Boonmee yang telah lama menghilang. Situasi yang aneh itu tidak berlangsung lama, karena kemudian mereka terlibat pembicaraan kasual mengenang masa lalu, seolah-olah mereka keluarga biasa saja.

Visi Apichatpong Weerasethakul mungkin akan terasa absurd dan menggelikan. Akan tetapi tidak jika kita telah menyaksikan langsung film yang “ajaib” ini. Semuanya terasa menghanyutkan. Lambat mengalun akan tetapi membuai. Tidak ada letupan-letupan emosi. Mood film terasa letih dan berlarat sesuai dengan kondisi Boonmee yang sekarat. Dialog-dialog sangat kasual dan trivial. Akan tetapi kesemua itu mampu mendukung sebuah stabilitas akan emosi yang terjaga. Atmosfir film kadang-kadang menyuramkan (dan menyeramkan!) namun tidak menggelisahkan. Dan yang paling penting, sama sekali jauh dari membosankan! Setidaknya bagi saya.

Pada satu bagian, tiba-tiba film memasukkan kisah seorang putri buruk rupa yang bersedih ditepi sebuah laga. Merenungi nasib malangnya. Sampai seekor lele mengajaknya berdialog dan kemudian diakhiri dengan adegan yang….mengejutkan!

Secara awam, insert kisah sang putri ini seolah-olah tidak koheren dengan cerita film secara keseluruhan. Tapi percayalah, kisah sang putri, dan juga sang kerbau di prolog, adalah unsur penting dalam mendukung tema reinkarnasi yang menjadi titik tolak kisah ini. Tentu saja mereka berhubungan erat dengan kisah si paman Boonmee itu sendiri. Jika dicermati baik-baik, ada benang merah diantara mereka.

Meski terkesan sangat “lokal” (baca: Thailand) akan tetapi sebenarnya konsep yang diapungkan oleh ‘Uncle Boonmee’ dapat diaplikasikan secara lebih universal. Bukankah pada dasarnya konsep sebelum dan sesudah adanya kehidupan itu berlaku sama, terlepas ia dibungkus melalui persepsi yang berbeda-beda sesuai dengan kultur yang berlaku ditempat dimana ia berada. Selain itu film juga mencoba menyentil kita akan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam sekitar kita. Menegaskan bahwa manusia didunia ini bukanlah mahluk superior satu-satunya. Selayaknya membina suatu hubungan yang harmonis dan saling menjaga.

‘Uncle Boonmee’ adalah film yang luar biasa unik. Itu sudah pasti. Absurd? Itu relatif, karena dari jalan non-linearnya sebenarnya film justru sangat linear dalam mengungkapkan esensinya. Sebuah mitologi dalam keseharian kita. Mudah untuk tidak percaya akan tetapi lebih sulit untuk tidak percaya. Bermain-main dengan nakal soal kehidupan setelah kematian atau rentetan karma dan kosmik kehidupan. Sebuah pemikiran dalam tataran konsep metafisik akan tetapi bersinggungan dengan sesuatu yang riil dan faktuil.

Dengan segala keunikannya, jelas ‘Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives’ adalah salah satu film terbaik yang bisa kita saksikan untuk tahun 2010.

Advertisements

10 thoughts on “Film Review: Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (2010)

  1. tata says:

    😉 setuju bahwa film ini tidak membosankan.. Kocak, ngakak, nganga bergantian.. Tapi teuteup.. Saia tidak mengerti.. Mungkin tahun depan..

  2. Theo Karaeng says:

    belum nontooon..
    tapi, saya hal yang amat sangat mengganggu saya saat menonton film-film thailand adalaaah…bahasanya!
    ilfil aja mendengar nada bahasa ini. cempreng-cempreng gimanaaa gitu 😦

    • jalangfilm says:

      ini namanya kurang adil dong, The, hanya gara2 bahasa jadi kurang nyaman nonton filmnya, meski sebenarnya mempunyai materi yang bagus 😉 lagian kalau sudah sering2 nonton film2 thai gak bakal keganggu lagi kok

  3. artarta says:

    saya penggemar film2 thailand, dan sumpah pengen banget liat film ini!! cari dvdnya juga gk dapet…tolong minta link downloadnya dong kalo punyaa T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s