Film Review: Catfish (2010)

Di era informatika saat ini, situs jejaring sosial memainkan peranan yang cukup signifikan dalam membangun hubungan antar individu. Orang-orang dengan gampang berinteraksi dengan orang lain yang tak dikenal di ujung belahan dunia lain. Secara esensi mungkin tidak ada bedanya dengan era korespondensi via surat seperti dekade yang lalu, namun dengan kemajuan teknologi, maka antarmuka hubungan seperti ini terasa lebih terbuka dan komunikasi pun menjajah wilayah privat. Apa sih  ‘Catfish’ itu? Yang pasti dia adalah sebuah doku-drama tentang hubungan yang terjalin antara seorang pemuda asal New York dengan seorang gadis asal Michigan melalui situs Facebook. Saat hubungan jarak jauh antara mereka semakin akrab, sang pemuda kemudian mulai menemukan kejanggalan-kejanggalan tentang si gadis. Apakah itu?

Di penghujung 2007 sampai pertengahan 2008, dua pembuat film asal New York, Henry Joost dan Ariel Schulman melakukan dokumentasi terhadap kehidupan adik Ariel yang bernama Nev. Pada awalnya Nev berhubungan melalui Facebook dengan Abigail, seorang gadis cilik berumur 8 tahun, yang mengirimkan Nev lukisan reproduksi dari sebuah foto milik Nev yang terbit disebuah surat kabar. Selanjutnya Nev tidak hanya berinteraksi dengan Abigail, juga dengan ibunya, Angela, suami Angela dan kakak tiri Abigail, Megan.

Hubungan Nev dan Megan kemudian berkembang semakin akrab dan intens, meski hanya melalui Facebook dan sesekali telepon. Akan tetapi, kemudian Nev menemukan kejanggalan pada Megan, namun belum berani mengkronfrontir secara langsung. Sampai disuatu kesempatan, Nev dan juga Henry dan Joost memutuskan untuk mengunjungi kediaman Megan dan keluarganya. Apa yang mereka temukan ternyata cukup mengejutkan dan membuktikan teori “jangan percaya apapun yang kau temui di internet, tidak sampai kau melihatnya sendiri dengan mata kepalamu!”.

Di klaim sebagai sebuah dokumenter, namun rasanya cukup sulit untuk memercayai ‘Catfish’ bukan sebuah mockumentary. Plot, jika kita bisa menyebutnya demikian, memiliki twist-and-turn yang sangat ‘film’ untuk kategori kisah nyata. Apalagi pendekatan yang diambil henry dan Joost memang lebih mendekati mockumentary ketimbang dokumenter kebanyakan. Penggunaan kamera handheld ala home-video dan pola naratifnya sangat mendukung untuk itu.

Terlepas dari itu, ‘Catfish’ sangat berhasil membangun suspensinya. Apalagi saat kisah mulai bergulir pada keanehan-anehan yang ditemui mereka pada Megan dan keluarganya. Ketegangan pun merambat naik dan mengunci kita pada rasa penasaran yang akut. Pada saat-saat tertentu kadang kita berharap zombie ala ‘Quarantine’ muncul dan menerkam mereka (HAHA). Namun, pada saat misteri terkuak, atmosfir kemudian berubah lagi. Kali ini tampil lebih subtil dan penuh perasaan. Apalagi menjelang akhir, dimana emosi mulai menyeruak saat motivasi dibalik “kejanggalan-kejanggalan” tersebut terungkap. Bukan berarti jelek. Namun terasa tidak utuh saja.

Hal penting yang saya tangkap dari film ini adalah bagaimana kita begitu terpesona akan sosok diluar sana hanya melalui kata-kata atau kumpulan foto. Sosok yang bahkan belum pernah kita temui sama sekali namun kita sudah dengan berani membangun jalur hubungan yang begitu personal. Begitu terbius sehingga menafikan kemungkinan jika mereka bisa saja tidak seperti yang mereka ungkapkan.

Saya kemudian jadi memikir ulang konsep jejaring sosial ini. Tidak tertutup peluang apa yang terjadi di ‘Catfish’ ini juga terjadi pada sebagian besar pengguna jejaring sosial, tidak hanya di dalam Facebook bisa juga situs jejaring sosial lainnya. Sebuah ilusi tercipta berdasarkan interaksi maya yang tak kasat mata. Ilusi kemudian menciptakan perspektif. Saat ilusi terbentur realita apakah kemudian kita masih bisa memiliki perspektif yang sama?

Apakah ‘Catfish’ sebuah fitur yang provokatif? Tidak juga. Akan tetapi secara psikologis cukup menantang untuk difikirkan. Film juga dapat menjadi sebuah katalis akan dogma bahwa internet (dan jejaring sosial) adalah sebuah media yang sangat berpengaruh saat ini.  Dimana orang dengan mudah mengakses orang lain dan dengan sangat mudah (dan bebas) memanipulasi pencitraan diri demi meraih simpati atau afeksi. Sebuah studi akan kebablasan teknologi? Meski saya kurang yakin dengan konsep “dokumenter” yang membalutnya, akan tetapi isu yang digiringnya terasa faktual dan kritis. Menarik!

 

Advertisements

4 thoughts on “Film Review: Catfish (2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s