Film Review: The Girl Who Kicked The Hornet’s Nest (2009)

Akhirnya Millennium Trilogy memasuki babak akhirnya. Akahkah si gadis bertato naga, Lisbeth Salander (Noomi Rapace) akan menemukan ketenangan dari masa lalunya dan apakah si jurnalis Mikael Blomkvist (Michael Nyqvist) berhasil membuka tabir misteri yang menyelubungi kehidupan Lisbeth Salander yang kelam? Dalam ‘The Girl Who Kicked The Hornet’s Nest’ atau ‘Luftslottet som Sprängdes’ ini, semua intrik, kemelut dan kekerasan akan berakhir dan menemukan klimaksnya.

Lisbeth harus dirawat dirumah sakit dikarenakan “reuni” yang dilakukannya bersama sang ayah, Alexander Zalachenko (Georgi Staykov) dan kakak tirinya, Ronald Niedermann (Micke Spreitz). Meski begitu ia tidak begitu saja terlepas dari jerat hukum yang akan membelenggunya, karena tuduhan melakukan pembunuhan dialamatkan kepadanya. Mikael lantas meminta adiknya yang pengacara, Annika Giannini (Annika Hallin) untuk membela Lisbeth. Sementara itu, Mikael dan rekan-rekan di Millenium-nya akan melakukan penyelidikan untuk mengungkap konspirasi yang dilakukan oleh kumpulan misterius bernama Section, terhadap Lisbeth.

Daniel Alfredson kembali lagi ke bangku sutradara, setelah diberi kepercayaan mengeksekusi bagian kedua dari trilogi ini ‘The Girl Who Played With Fire‘. Materi tentu saja masih berdasarkan novel karya Stieg Larsson. Dengan durasi 147 menit, jujur saja saya merasa agak lelah menyaksikan film ini, karena plot dibagian awal terasa tidak berkembang dan terlalu bertele. Bisa diringkas saja sebenarnya. Untunglah menjelang paruh kedua intensitas meningkat dan adegan-adegan monoton diawal berubah menjadi aksi dinamis yang menegangkan.

Apakah saya merasa puas dengan film ini? Dikatakan ya, tidak juga. Dikatakan tidak, ya tidak juga. Haha. Masalahnya adalah ekspektasi. Semenjak ‘The Girl With The Dragon Tattoo‘ berhasil merangka sebuah kisah yang dipenuhi suspensi, maka saya sangat mengharapkan dua bagian lain dari trilogi ini akan bertipe serupa. Ternyata saya salah, karena setelahnya Lisbeth Salander malah harus berurusan dengan masa lalunya serta sebuah konspirasi yang dilakukan oleh kumpulan elit rahasia yang mencoba menjegal Lisbeth. Karena dengan terbukanya rahasia Lisbeth, maka terkuak pulalah identitas mereka. Correct me if I’m wrong, tapi itulah yang bisa saya tangkap.

Bukan berarti ini film yang jelek. Tidak juga. Terlepas dari masalah plot yang bertele diawal, film tetap solid dalam menawarkan sebuah petualangan sinema yang menggairahkan (halah!). Dan konklusi yang ditawarkan cukup memuaskan, termasuk finale yang mendebarkan tentu saja. Noomi Rapace sendiri sudah tidak usah diragukan lagi kredibilitasnya dalam membawakan Lisbeth Salander dengan begitu hidupnya. Bahkan, di seri ketiga ini, dimensi karakternya semakin luas saja. Sisi kelamnya mulai menunjukkan taringnya secara lebih frontal. Meski begitu, sulit rasanya untuk tidak menaruh simpati kepadanya. Dan itulah kelebihan Rapace. Ia berhasil membawa kita untuk turut larut bersamanya.

Dengan lengkapnya seri ini, maka impaslah penasaran kita akan siapa dan bagaimana sebenarnya si gadis bertato naga versi Swedia ini. Dengan nama David Fincher sebagai penggerak reka-ulang ‘The Girl With The Dragon Tattoo’, versi Amerika-nya, mau tidak mau ekspektasi kembali melambung tinggi. Bisakah Fincher menghasilkan film yang mampu sejajar dengan versi aslinya atau malah tampil dengan lebih menjulang? Mari kita tunggu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s