2010: Film Of The Year: My Picks

2010: in a recap

Tidak terasa sudah 16 hari kita meninggalkan 2010. Waktu memang sangat cepat berlalu, seperti kelebatan meteor yang melintas di titik langit. Meski begitu, tidak ada salahnya diawal tahun ini memutar kembali memoria sepanjang tahun 2010  kemarin, khususnya untuk mengenang film-film yang begitu berkesan bagi saya. Sebagai seorang penikmat film, 2010 mungkin bukan salah satu tahun yang begitu berkesan karena tidak banyak film yang benar-benar membuat saya menaruh perhatian berlebih. Meski begitu, tetap ada beberapa judul yang sangat mampu dalam menjalankan tugasnya mengibur saya sementara beberapa nama lain juga sangat handal dalam menghanyutkan perasaan saya dalam sebuah perjalanan sinematis yang menggugah. Beberapa judul malah mampu menggabungkan kedua “tugas” itu dengan baik. Nah, dalam kesempatan ini saya akan mencoba membuat sebuah senarai yang terdiri dari judul-judul yang bagi saya berkompeten dalam menghibur sekaligus membawa saya dalam jalinan emosionil yang sangat erat, sehingga mampu membuat saya menonton mereka lebih dari sekali. Bahkan beberapa lebih dari dua kali.

Rumah Dara

Sebelum kita masuk ke daftar 10 film yang menjadi favorit saya untuk tahun 2010, tidak ada salahnya saya menyebutkan beberapa judul lainnya yang cukup berkesan bagi saya. Awal 2010 saya sudah sangat terpuaskan dengan ‘Rumah Dara‘, sebuah slasher lokal karya duo Mo Brothers. Terlepas dari betapa klise plotnya, yang juga mengingatkan akan slasher dari Perancis, ‘Rumah Dara’ cukup memuaskan dahaga saya akan film Indonesia yang setidaknya mempunyai standar yang memuaskan. Such a handosme film. Meski tidak begitu menyeramkan, akan tetapi mebawa horor Indonesia setingkat lebih baik dari pada yang banyak menjamur saat ini. Film Indonesia lain yang cukup memuaskan bagi saya adalah ‘Minggu Pagi di Victoria Park‘, karya penyutradaraan kedua dari Lola Amaria. Cerita yang renyah, membuka mata serta akting yang cantik dari barisan pemainnya, terutama Titi Sjuman, berhasil mengesankan saya.

How to Train Your Dragon

Dari film animasi yang saya tonton pada tahun ini, ‘How To Train Your Dragon‘ menjadi favorit saya. Karena apa? Karena awalnya saya menganggap remeh film ini hanya berdasarkan premis serta trailer/teaser yang sebelumnya saya lihat. Kurang meyakinkan. Bahkan setelah salah seorang teman saya yang telah menyaksikan film ini memberi review yang sangat positif, saya masih merasa ragu. Apalagi penayangan di kota saya hanya meberi tempat untuk versi 3D, gimmick film yang kurang begitu saya sukai. Sampai iseng-iseng, suatu malam, tidak ada kerjaan, saya memutuskan untuk menontonnya. Dan BAM!! Saya terseret didalamnya. Saya bersorak. Saya tersedu. Dan akhirnya tersenyum puas. Bahkan saya sampai berangan-angan ingin mempunyai seekor naga seperti Toothless. Haha. Film animasi lain yang menjadi favorit saya tentu saja ‘Toy Story 3‘.  Alasannya tentu saja adalah Pixar dan salah satu franchise yang saya besar bersamanya. Nuff’ said.

Reign of Assassins

Saya sangat menyintai WuXia, karena ini adalah subgenre yang sudah saya akrabi semenjak saya kecil. Bahkan film pertama yang saya tonton adalah WuXia. Saat ini perfilman mandarin sepertinya sangat menaktirikan subgenre ini. Oleh karenanya tidak heran saat ‘Judge Dee‘-Tsui Hark serta ‘Reign of Assassins‘ yang dibintangi oleh Michelle Yeoh rilis, saya merasakan euforia yang bergelora. Apalagi menurut saya kedua film seperti mencoba untuk kembali kejayaan WuXia dengan menampilkan cerita yang fantastis serta dipenuhi karakter-karakter unik yang sangat berwarna. Jangan lupakan tentu saja adegan duel yang sangat seru.

Ngomong-ngomong soal adegan duel yang seru, dua film Amerika ini juga menampilkannya, meski terasa lebih komikal. Pertama ada ‘Kick Ass‘ dan kedua adalah ‘Scott Pilgrim VS The World‘. Bagi saya kedua film ini sangat menyenangkan karena saya pribadi dapat merelasikan diri kepada karakter Dave Lizewski dan  Scott Pilgrim. Nerd yang harus melawan dunia disekitarnya untuk menunjukkan jati dirinya. Untuk ‘Kick Ass’ harus diakui jika karakter yang diperankan dengan luar biasa oleh Chloe Moretz jelas sangat mencuri perhatian. Sementara itu, untuk menjadi Scott Pilgrim diam-diam telah menjadi angan-angan saya semenjak lama, bahkan sebelum mengenal film ini, haha.

127 Hours

Dua film terakhir yang masuk dalam honorable mention adalah ‘127 Hours‘ dan ‘Salt‘.  Danny Boyle kembali lagi dalam menunjukkan tajinya. Kali ini, dengan ‘127 Hours’, berangkat dari kisah nyata seorang Aron Rolston yang harus bertahan hidup dan mengambil keputusan yang amat sulit untuk bertahan hidup saat dirinya terjebak dalam situasi yang sulit. Sedang mengapa saya sangat menyukai ‘Salt’ terlepas dari cerita sederhananya adalah karena saya sangat suka dengan film bertema chick-kick-ass dan bagi saya Angelina Jolie adalah salah satu aktris yang sangat meyakinkan dalam kick some ass.

Demikianlah 10 film yang masuk dalam daftar honorable mention saya untuk tahun 2010. Dan tanpa banyak basa-basi lagi berikut 10 film yang sangat berkesan bagi saya sepanjang 2010 kemarin:

10. I  SAW THE DEVIL

Dari Kim Ji-woon, sutradara salah satu film favorit saya, ‘A Tale of Two Sisters‘, hadir sebuah thriller mendebarkan yang memacu adrenalin serta mengusik secara psikologis. Berkisah tentang seorang pembunuh berantai yang kemudian seolah menemui karmanya, karena telah membunuh kekasih seorang agen pemerintah yang sangat handal. Si agen pemerintah sendiri begitu terasuki oleh amarah sehingga kemudian seolah tak mau kalah dengan sang pembunuh berantai dalam tingkat kesadisan serta kegilaan. Monster bertemu dengan monster. Siapakah pemenangnya? diakhiri dengan klimaks yang mendebarkan sekaligus membawa rasa haru, ‘I Saw The Devil’ adalah sebuah thriller yang wajib-tonton.

Review selengkapnya.

The American

09. THE AMERICAN

Ingin menyaksikan sebuah film yang berkisah tentang seorang Amerika dengan feel serta atmosfir yang sangat eropa? Maka tontonlah ‘The American’. George Clooney adalah seorang pembunuh bayaran diusia paruh baya yang sedang mengalami kegelisahan dalam hidupnya. Kehidupan sebagai pembunuh bayaran telah begitu mengkonsumi kehidupannya, membuat dirinya terjebak dalam paranoia yang tak berujung. Sampai kemudian ia berhubungan dengan seorang pelacur yang membuat ia merasa hidup lagi. Ditempat lain,  sekelompok orang malah berniat untuk melenyapkan dirinya. Dilingkupi oleh perasaan sunyi yang mengikat, ‘The American’ adalah sebuah thriller berkelas yang tidak hanya meramu ketegangan akan tetapi sebuah drama yang subtil.

Review selengkapnya.

Winter’s Bone

08. WINTER’S BONE

Sebuah elegi tentang kerasnya hidup masyarakat yang terpinggirkan. Dingin dan pucat serta menggusarkan, ‘Winter’s Bone’ adalah sebuah gambaran suram tentang upaya seorang gadis belia dalam menyelamatkan keluarganya. Seorang gadis yang harus menjadi dewasa karena sistem mengharuskan dirinya menjadi tumpuan keluarganya saat orang tua gagal menjalankan fungsi mereka. Yang saya sukai dari film ini adalah kemampuan Debra Granik, sutradaranya, dalam mendeskripsikan aspek sosio-antropologis sebuah komunitas minoritas secara mendalam tanpa harus kehilangan momentum dalam menceritakan kehidupan si gadis belia untuk bertahan hidup dalam komunitasnya yang keras. Penampilan gemilang Jennifer Lawrence sendiri merupakan nilai lebih lain dari film ini.

Review selengkapnya.

True Grit

07. TRUE GRIT

Coen Bersaudara dan film yang berseting di “belantara” western? Wah, sangat menarik. Apakah Coen bersaudara akan mengobrak-abrik western dengan kegilaan mereka? Ternyata perkiraan kita salah. ‘True Grit’ adalah film paling waras yang pernah dikerjakan oleh mereka. Hey, bukan berarti jelek. ‘True Grit’ adalah sebuah kisah tentang pembalasan dendam seorang gadis cilik (yang diperankan dengan gemilang oleh Hailee Steinfield) terhadap penjahat yang membunuh ayahnya. Pertemuannya dengan dua sosok otoritas dewasa yang membantu dirinya justru menumbuhkan persahabatan yang tak terduga bisa tumbuh diantara kerasnya kehidupan dunia barat. Sungguh mengharukan sekaligus mendebarkan.

Review selengkapnya.

Mother & Child

06. MOTHER & CHILD

Sebuah film yang bermuatan melodrama penguras air mata? Ah, sebagian besar dari kita mungkin akan melewatkannya. Tapi jangan salah. ‘Mother and Child’ adalah film yang sangat kuat. Menganulir manipulasi pembangkit haru dalam ceritanya yang sederhana dan memutuskan untuk memprovokasi kita dengan kekuatan akting yang sangat juara dari barisan bintangnya. Annette Bening, Naomi Watts dan Samuel L. Jackson memberikan yang terbaik dari mereka dalam mengajak kita terlibat dalam sebuah kisah tentang pencarian kebahagian, melalui lintas masa lalu yang kelam.  sebuah drama yang mengharu-biru sekaligus memberikan impresi batin yang mendalam.

Review selengkapnya.

Rabbit Hole

05. RABBIT HOLE

Salah satu drama domestik paling menggugah yang pernah saya tonton. Kekuatan utama mungkin bukan pada cerita, yang berkisah tentang aftermath yang harus dijalani sepasang pasutri yang harus kehilangan anak satu-satunya karena sebuah kecelakaan. Akan tetapi John Cameron Mitchell, sang sutradara dengan sangat juara menggiring kita secara lirih dan perlahan untuk terjebak dalam emosi kehilangan suami-istri tersebut. Kemuraman mereka dan juga kontemplasi serta upaya pencarian untuk memaafkan diri mereka dari tragedi yang terjadi. Nicole Kidman sangat juara dalam memberi asupan kegetiran dalam karakternya.  Mengisi setiap ruang film dengan kehadirannya.

Review selengkapnya.

Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives

04. UNCLE BOONMEE WHO CAN RECALL HIS PAST LIVES

Dengan alasan sebagai sebuah film pemenang Palme d’Or dalam  Cannes Film Festival 2010 untuk harus menonton ‘Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives’ akan terdengar pretensius. Akan tetapi sebenarnya ini memang adalah film yang ajaib. Dan untuk mengetahui keajaibannya, yah harus dengan cara menontonnya tentu saja. Apichatpong Weerasethakul, sang auteur ternama Thailand menggali kisah tentang kenangan masa lalu melalui pendekatan mengawang yang lembut, dipenuhi gambar-gambar sederhana namun mampu berbicara dalam konteks yang meditatif. Sebuah film yang seolah berjalan tanpa emosi, akan tetapi sebenarnya sangat menyodok perasaan akan makna kehidupan sebenarnya.

Review selengkapnya.

Somewhere

03. SOMEWHERE

Sofia Coppola kembali lagi. Kali ini bercerita tentang hubungan seorang ayah dan putrinya dengan dunia hiburan sebagai latar belakangnya. Meresonansikan pengalaman Sofia kecil berangkali? Terlepas dari itu, ‘Somewhere’ dengan gemilang menggambarkan dinamika hubungan ayah-anak dalam sebuah situasi yang tidak biasa dengan subtil tanpa harus tampil melodramatis apalagi sentimental. Segalanya terasa sangat kasual dan natural. Bahkan bisa dibilang ini adalah film yang plotless, karena cerita mengalir berdasarkan aktifitas keseharian yang terasa sepele dan trivial, akan tetapi sebenarnya bermakna dalam memberikan arti sebuah hubungan.

Review selengkapnya.

Black Swan

02. BLACK SWAN

Sebuah pentas seni tari balet ternyata bisa menjadi seting sebuah thriller-psikologis yang sangat mendebarkan. Bagi Darren Aronofsky, itu bukan suatu hal yang mustahil. Maka jadilah ‘Black Swan’, sebuah film yang kekuatan utamanya tidak melulu pada balutan suspensi atau rangka misteri untuk merangsang daya penasaran penontonnya. Aronofsky dengan gemilang merangka narasi, yang meski linear namun tidak pernah kehilangan antusiasme pada intensitas. Plot berjalan dengan sangat kinetis dan menyedot perhatian melalui momentum-momentum kecil tapi nyaring bunyinya. dan tunggulah transformasi mendebarkan Natalie Portman sebagai angsa hitam. She deserves an Oscar!

Review selengkapnya.

And my film of the year is:

01. INCEPTION

Seharusnya memang tidak mengherankan jika Inception menjadi film terfavorit saya untuk tahun ini, haha. Saya begitu terhipnotis oleh cerita yang direka oleh Christopher Nolan ini. Memang ‘Paprika’ menjadi sumber insiprasi dari film ini, akan tetapi kronika dunia mimpi yang begitu rumit, meski sebenarnya sederhana menjadi wahana bagi Nolan untuk memanipulasi persepsi kita. Bermain-main dengan alam bawah sadar dan merangkum thriller, fantasi, laga dan kisah cinta menjadi satu kisah yang menggugah. Review saya disini sudah panjang lebar menjelaskan kekaguman saya terhadap film ini, jadi rasanya saya tidak perlulah panjang lebar lagi menjelaskan alasan kenapa ini menjadi film favorit saya.

Review selengkapnya.

Dan kini, 2011 pun dimulai. Beberapa film telah menjadi incaran saya untuk dapat ditonton dengan harapan dapat mnjawab rasa penasaran saya. Yang pasti, saya sangat mengharapkan agar 2011 ini dapat lebih mampu memberikan asupan film-film menarik yang sangat pantas untuk dinikmati. Amin!

Advertisements

One thought on “2010: Film Of The Year: My Picks

  1. Tino Adiwijaya says:

    The Social Network bahkan ngga masuk ke ” judul lainnya yang cukup berkesan bagi saya”.
    Satu kata: ckckckck.

Comments are closed.