Film Review: The King’s Speech (2010)

Terlebih dahulu izinkan saya untuk memberi selamat kepada Colin Firth yang telah  menerima anugerah Aktor Terbaik pada anugerah Golden Globe ke 68 pada tanggal 16 Januari 2011 kemarin untuk perannya sebagai King George VI di dalam film ‘The King’s Speech‘ yang akan kita bahas sekarang ini. Sebuah film yang telah mendapatkan banyak perhatian diberbagai  ajang penghargaan dunia. Apakah Firth benar-benar telah memberikan penampilan yang sangat menawan, sehingga ia pantas menerima anugrah tersebut dan juga berbagai nominasi lain yang telah disampirkan kepadanya untuk film ini?

Sebelum kita membahasnya lebih lanjut, saya mau mengatakan how i love those Britain period-dramas. Personally, for me the lavishness of the grandeur live of the England’s noblemen and ladies are enthralling. Haha. Me and my silly thought. I don’t know, but there’s something fascinating about the way of people lived in the old Brit. Sophisticated yet well articulated. Perasaan yang sama juga saya rasakan saat menyaksikan ‘The King’s Speech’ ini’. Akan tetapi film ini bukanlah tentang pencarian jodoh atau kehidupan rumah tangga yang melodramatis. Meski mempunyai karakter utama seorang raja, film justru berkisah tentang seorang underdog yang berupaya mengatasi kekurangan dirinya demi mencapai prestasi yang gemilang.

Raja George VI (Colin Firth) sebenarnya sama sekali tidak berminat untuk menjadi seorang raja Inggris berikutnya. Disamping ia tidak mempunyai ambisi untuk itu, kekurangan dirinya sebagai penggagap membuat dirinya kurang percaya diri. Namun saat ayahnya, Raja George V (Michael Gambon) tutup usia dan kakaknya Pangeran Edward (Guy Pearce) menolak menggantikan, mau tidak mau Pangeran Albert, demikian nama aslinya, pun naik tahta dan menjadi seorang Raja Inggris berikutnya.

Sebelum menjadi raja, Albert sendiri tengah berada dalam bimbingan seorang terapis bernama Lionel Logue (Geoffrey Rush) yang mempunyai metode non-ortodoks dalam proses terapinya. Lionel ditemukan oleh Putri Elizabeth (Helena Bonham Carter), yang sangat merasa prihatian dengan kekurangan suaminya. Pada awalnya Albert menolak bekerjasama dengan Lionel yang rada eksentrik ini. Perlahan, hubungan mereka semakin akrab dan membawa perubahan yang cukup positif terhadap Albert. Namun, saat Jerman mulai menunjukkan gelagat jelek kepada Inggris dan Eropa khususnya, mau tidak mau Albert atau Raja George VI mempersiapkan sebuah pidato yang harus dapat mengangkat semangat rakyatnya. Disinilah tantangan terbesar George VI, karena ia belum benar-benar pulih dari kegagapannya.

Jujur, adegan klimaks, sekaligus yang menjadi judul dari film ini, ‘The King’s Speech’ benar-benar terasa sangat emosionil dan menggugah. Inspirasional dan mengharukan.Saya harap ini bukan sebuah spoiler, karena bukankah film-film sepeerti ini mempunyai akhir yang jelas? Sebagaimana kisah underdog lainnya, film akan menggali bagaimana proses seorang underdog dalam mengatasi kekurangannya dan mencapai kejayaannya. Pahit getir kegagalan dan manisnya kemenangan.

Tom Hooper, sang sutradara, harus diberi kredit yang berlebih atas upayanya dalam merangka narasi yang sebenarnya biasa saja menjadi sebuah tontonan yang sangat mengalir, mendebarkan, dramatis tanpa harus berlebihan, sekaligus menyentuh. Film tampil dengan sangat mengikat, menarik ulur emosi penonton tanpa harus memanipulasi adegan-adegannya.

Dan ini adalah salah satu film dengan dukungan barisan pemain yang memberikan akting yang juara, sekecil apa pun perannya. Tentu saja mereka dipimpin oleh Firth, Rush dan Bonham Carter yang berperan sebagai Albert, Lionel dan Elizabeth. Chemistry diantara mereka terbangun dengan sangat baik dan menghasilkan interaksi yang  membuat karakter-karakter mereka terasa sangat nyata dan likeable.

Ini adalah Colin Firth dalam salah satu penampilan terbaiknya. Karakternya begitu nyata dan meyakinkan. Sebuah persona yang menimbulkan simpati, bukan kasihan. Kita tersedot oleh kharismanya, meski dibeberapa titik terlihat bahwa ia adalah sosok yang terhinggapi rasa rendah diri yang besar. Dan Firth sukses menampilkan itu semua tanpa harus kelihatan metodik atau berlebihan. Takarannya sangat pas.

Rush sendiri tentu saja tidak usah diragukan lagi kualitas aktingnya. Karakter Lionel Logue tampil sangat mengesankan, mengesalkan sekaligus mengagumkan. Dibawakan Rush dengan santai namun tidak pernah kehilangan bobotnya. Helena Bonham Carter sendiri berhasil menepis streotipe karakter gelap yang  biasa dimainkanya. Menjadi sosok budiwati seperti Putri Elizabeth yang dipenuhi dengan kehangatan dan kebijaksanaan. Bravo Ms. Bonham Carter.

Menyaksikan ‘The King’s Speech’ itu seperti menyaksikan persiapan sebuah pertunjukkan orkestra. Memamaprkan proses latihan berulang-ulang dengan intens yang kemudian ditutup oleh penampilan yang sangat megah dan menggugah. Colin Firth sebagai pemain musiknya dan Geoffrey Rush sebagai konduktornya. Bersama mereka mempersembahkan sebuah opus indah yang rasanya tak akan lekang oleh zaman.  Dan ‘The King’s Speech’ adalah sebuah anthem bagi setiap orang yang dihinggapi rasa minder dikarenakan suatu cacat yang dimilikinya. Sebuah ajakan untuk mengalahkan diri sendiri dalam upaya membuktikan kemampuan diri. Film yang sangat direkomendasikan.

Advertisements

8 thoughts on “Film Review: The King’s Speech (2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s