Film Review: I Spit On Your Grave (2010)

Lagi-lagi remake. Seolah-olah produser di Hollywood sana tidak bosan-bosannya menggali tumpukan film-film yang mereka rasa pantas untuk didaur ulang, terlepas dari apa pun tujuannya. ‘I Spit On Your Grave’ adalah salah satu hasil korban latah tersebut. Film produksi 1978 tersebut kini memang sudah diakui sebagai salah satu cult klasik, sehingga tidak heran beredar polemik dikalangan moviegoers, apakah pantas film tersebut mengalami update untuk penonton masa kini. Pesimis pasti menghinggapi benak kita, secara banyak sekali proyek remake, terutama horor klasik, yang kurang memuaskan dan malah semakin menunjukkan superioritas film aslinya. Lantas apa urgensi film ini untuk diulang buat dan apakah kredibel dalam memberikan sebuah film yang “menghibur”?

Steven R. Monroe, sang sutradara, kabarnya tetap setia dengan versi aslinya. Hanya memberi sedikit perubahan detil disana-sini untuk menyesuaikan dengan zaman yang berbeda. Secara esensi masih sama, yaitu berkisah tentang seorang penulis perempuan muda, bernama Jennifer Hills (Sarah Butler) yang menyepi disebuah pondok ditengah hutan guna keperluan menulis novel barunya. Semua berjalan baik-baik saja sampai beberapa orang pemuda setempat mengganggu dirinya. Jennifer berhasil kabur dan bertemu dengan seorang sherif lokal (Andrew Howard). Malangnya, sang sherif ternyata bukanlah sosok pelindung yang dibutuhkan oleh Jennifer. Bersama dengan gerombolan pemuda begajulan tersebut, dia malah memerkosa Jennifer tanpa belas kasihan. Sebelum mereka berbuat lebih jauh yang membahayakan jiwanya, dengan gontai Jennifer menceburkan dirinya ke dalam sungai. Beberapa lamanya gerombolan sherif dan antek-anteknya tersebut menyisir sungai namun tak kunjung menemukan tubuh Jennifer, sehingga kemudian mereka yakin jika Jennifer telah tewas. Namun, entah dengan keajaiban apa, Jennifer bertahan hidup dan kini kembali dengan dendam yang membara di dadanya. Satu persatu pemerkosa dirinya menemui ajal secara mengerikan ditangan Jennifer yang kini seolah bertransformasi menjadi malaikat pencabut nyawa dari neraka!

‘I Spit On Your Grave’ berjalan tanpa basa-basi. Dari menit-menit pertama sudah langsung menyajikan ketegangan dalam suspensi. Steven R. Monroe dengan baik mengeksekusi film dalam tempo yang terjaga tanpa kendur. Kita terbawa dalam pusaran cerita tanpa menyisakan tempat untuk kebosanan. Pada saat adegan harus menyajikan pemerkosaan yang memilukan, dengan tangkas film menempatkan karakter-karakter pemerkosa sebagai sosok-sosok memuakkan. Manusia yang mengaku lelaki, akan tetapi dengan pengecutnya memencundangi seorang perempuan lemah tak berdaya dengan tindakan keji. Emosi kita berhasil dibangun tanpa harus terlalu mengekspolitir adegan yang menggiriskan tersebut. Ditampilkan secukupnya namun memberi impresi yang diperlukan.

Sayangnya, perlakuan yang sama juga diterima oleh kekerasan saat Jennifer melakukan eksekusi terhadap para pemerkosanya. Meski dielaborasi dengan cukup mendetil akan tetapi terasa terlalu “sopan”, karena banyak ditampilkan secara off-screen, sehingga terasa kurang sebanding dengan efek yang telah diberikan dari adegan pemerkosaan tadi. Saat emosi kita meledak-ledak dan menginginkan pelampiasan yang brutal, film tidak terlampau mengizinkan kita untuk itu. Terbetiklah perasaan “tanggung” kemudian dihati. Padahal sebenarnya Jennifer tidak tanggung-tanggung dalam melakukan pembalasan dendamnya.

Berdasarkan informasi yang saya terima, versi aslinya mendapat penolakan dimana-mana karena kandungan kekerasannya yang berlebihan. Melampaui batas normatif yang menjadi standar untuk sebuah film. Saya masih belum begitu berjodoh dengan versi asli ‘I Spit On Your Grave’ ini sehingga belum bisa membuktikan apa yang dikabarkan terhadap film tersebut. Namun, setelah menyaksikan versi terbarunya ini, dapat saya rasakan bahwa kekerasan dicoba untuk diperhalus, demi menghindari perlakuan yang sama dengan si orisinil.

Mungkin ini terdengar absurd akan tetapi kekuatan film splatter seperti ini justru terletak pada kekerasaanya. Apakah ini artinya saya mendukung tindakan penuh kebrutalan? Tidak juga. Kekerasan dalam film sejenis ini diperlukan untuk memberi penekanan pada ceritanya. Mendukung esensi tematis dan filosofis yang tengah diceritakannya dan tidak melulu hanya mengejar selera masokis murahan. Mungkin dengan pertimbangan untuk menghindarkan tuduhan eksploitatif terhadap film ini maka Monroe pun melakukan “perampingan” pada unsur kekerasan yang terkandung di dalam filmnya.

Ganjalan terbesar mungkin adalah betapa lempangnya jalan narasi ‘I Spit On Your Grave’ ini. Tidak menyisakan ruang sama sekali untuk perkembangan karakter atau elaborasi moralitas dalam ceritanya. Praktis film hanya terdiri dari dua bagian: (1) adegan pemerkosaan, dan (2) pembalasan dendam sang korban. Sudah, begitu saja. Padahal jika saja plot mendapatkan aksentuasi pada perkembangan karakternya, saya yakin film pasti akan lebih berbobot dan memorable. Potensi untuk itu ada dan tersedia. Sebagai misal karakter sherif digambarkan sebagai pria brutal akan tetapi hangat terhadap keluarganya, terutama putri kecil yang sangat disayanginya. Sayangnya skrip sama sekali tidak membiarkan ironi turut bermain didalamnya. Tidak ada pergolakan batin yang sebenarnya dapat memberi kesan lebih. Segalanya berjalan terlalu steril dan metodik.

Jikalah niat orang-orang dibelakangnya untuk memberi update terkini kepada penonton sekarang, misinya cukup berhasil. Terlepas dari kekurangannya, film mampu memberikan sebuah cerita yang gampang dicerna dan enak untuk diikuti. Tapi setelah film usai, saya menjadi bertanya-tanya, apakah penyebab film ini kemudian juga mengalami perlakuan yang nyaris sama dengan pendahulunya? Toh, lebih banyak lagi film dengan tingkat kekerasan yang lebih vulgar bisa lolos dan beredar luas. Hmm…ada yang salah disini. Tapi siapa dan apa itu? Biarlah waktu saja yang menjawab.

Advertisements

3 Comments

  1. bagusan ini kok dari pada versi aslinya 🙂

    di remake nya ini kliatan lebih rapih dari soal teknis n plot..

    just info, beberapa yang beda dari versi asli sama remakenya cuma di remake nya ini ditambahin tokoh sherrif (yang mana mnurut gw jadi tambah bikin keren n bikin pembalasan dendam jeniffer jadi tambah maknyosss :D)…

    ama tokoh matthew tuh kalo di versi aslinya berasa stereotip banget nerd nya..

    di versi remake kliatan lbih belivable n idiot nya natural.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s