Film Review: Shaolin (2011)

Kuil Shaolin adalah salah satu biara agama Budha yang paling terkenal saat ini. Mempunyai sejarah yang panjang, namanya harum tidak hanya sebagai tempat peribadatan, akan tetapi juga dikenal juga dengan kemampuan para rahibnya dalam olah kanuragan kung-fu tingkat tinggi. Tidak hanya dipopulerkan melalui cersil WuXia kenamaan akan tetapi juga dalam berbagai versi film, kuil Shaolin selalu mendapat tempat yang terhormat sebagai padepokan yang mempunyai banyak pendekar mumpuni. Di era 80-an, seri ‘Shaolin Temple’ yang dibintangi oleh Jet Li tentu saja film yang paling terkenal dan mengantarkan Jet Li dalam kepopuleran. Kini, lagi-lagi sineas Mandarin mengangkat kuil tersebut sebagai fokus utama dalam sebuah film. Tidak tanggung-tanggung, dengan nama besar Andy Lau dan Jacky Chan didalamnya, jelas sebagai penonton saya berharap besar akan kedigjayaan film ini.

Sebelumnya, dipastikan jika ini bukanlah remake dari film Jet Li tersebut, meski memiliki kesamaan dalam tema. Berseting di era akhir kejayaan Dinasti Qing, ‘Shaolin’ karya Benny Chan ini bercerita tentang jatuhnya seorang Jendral bertangan besi bernama Hao Jie (Andy Lau) akibat keserakahannya sendiri. Orang kepercayaanya, Cao Jie (Nicholas Tse) mengkhianatinya, mengakibatkan ia harus kehilangan putrinya serta ditinggal oleh istrinya (Fan Bing Bing) dan menyisakan kehampaan yang besar dihatinya. Ditengah dera putus asa, ia bertemu dengan seorang koki dari kuil Shaolin (Jacky Chan) yang mengajaknya untuk tinggal di biara tersebut. Pada mulanya beberapa rahib menolak kehadiran Hao Jie, karena memang pernah mengalami friksi dengannya. Namun dengan kebijaksaan kepala biara, akhirnya Hao Jie diterima untuk tinggal di kuil Shaolin. Selama di kuil tersebut Hao Jie merenungi semua kesalahan masa lalunya dan belajar untuk menjadi orang yang lebih baik. Sayangnya, masa lalu seolah tak mau meninggalkannya begitu saja. Mendengar Hao Jie masih hidup dan tinggal di kuil Shaolin, maka Cao Jie pun memutuskan untuk membumihanguskan kuil tersebut bersama segenap isinya!

Ceritanya sederhana sekali sebenarnya. Namun dengan durasi 131 menit, tentu saja ‘Shaolin’ berbicara dengan cukup banyak. Tidak melulu berbicara konflik Hao Jie dan Cao Jie, namun juga menggambarkan karakteristik sosio-anthropologis kuil Shaolin tersebut sebagai salah satu sentra kekuatan budaya di ranah Tiongkok. Filosofi Budhisme yang dipenuhi dengan kearifan. Juga polemik politis yang tengah terjadi dimasa itu. Semua diramu dengan takaran yang cukup pas oleh Benny Chan. Tentu saja tidak bisa dilupakan adegan-adegan aksi laga kung-fu menawan olahan Corey Yuen (The Transporter, The X-Men) yang menawan. Menjadikan ‘Shaolin’ sebagai film yang sangat renyah untuk diikuti.

Masalahnya, dengan banyaknya karakter pendukung, sulit untuk mengindarkan kesan jika mereka umumnya kurang berkembang dan cenderung dua dimensi, meski sebenarnya berpotensi untuk lebih dari itu. Tidak lebih sebagai penggerak cerita dan pendukung aksi jika diperlukan. Ada pergelutan antara urgensi menjadi drama yang subtil dan aksi-laga yang eksplosif. Konsekuensinya, beberapa karakter bertendensi karikatural sedang beberapa lain tersia-sia karena terasa hadir hanya sebagai “penggembira’ tanpa memberikan kontribusi yang utuh terhadap narasinya. Dalam isitilah yang lebih sederhana, ada karena diada-adakan. Haha.

Fan Bing Bing dan Wu Jing (sebagai salah satu rahib senor Shaolin) memberikan penampilan yang sangat menawan. Sayangnya karakter mereka termasuk kedalam prototipe “penggembira” tadi. Hadir sebagai alat-bantu cerita tanpa dikembangkan lebih lanjut. Padahal mempunyai potensi untuk itu. Karakter yang cenderung kompleks seperti yang diperankan oleh Nicholas Tse sayangnya mandek pada sebatas villain tipikal. Barulah menjelang klimaks diberi porsi yang padat, meski sebenarnya sudah sangat telat untuk memberikan efek subtilitas, jika memang itu yang ingin dikejar oleh film.

Andy Lau sendiri, entahlah, bagi saya akhir-akhir ini ia selalu memberikan gestur dan mimik yang nyaris sama untuk setiap film yang dibintanginya. Kok rasanya ia kurang dapat menggali ironi serta tragisme yang ingin dielaborasi oleh film ini. Bahkan untuk adegan laga saja ia pun terlihat kurang meyakinkan. Bukan berarti dia memberikan penampilan yang jelek. Tidak juga. Hanya saja tidak cukup kuat untuk dapat mengirimkan pesan film secara lebih efektif.

Terlepas dari itu. ‘Shaolin’ tidak pernah membosankan, sebuah dosa terbesar sebuah film menurut saya. Dengan porsi yang seimbang antara laga dan drama, film mengalir dengan lancar. Benny Chan patut dipuji upayanya dalam merekonstruksi sebuah konsep yang sebenarnya usang, memadukannya dengan nilai artistik yang terjaga namun tidak melupakan laga sebagai penyedap rasa utama dalam film seperti ini. ‘Shaolin adalah salah satu bukti jika film kung-fu tidak melulu hanya berisi bak-bik-buk belaka. Sangat menarik.

Advertisements

2 thoughts on “Film Review: Shaolin (2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s