Film Review: The Green Hornet (2011)

‘The Green Hornet’ adalah sebuah kisah mitologi kontemporer legendaris. Dimulai dari sebuah sandiwara radio di era 30-an, berkembang menjadi franchise populer yang tersebar mulai dari film bioskop, serial televisi hingga komik. Menampilkan ikon pahlawan bertopeng bernama Green Hornet, bersama dengan sidekick-nya yang tidak kalah tenar, Kato, membela kebenaran serta memberantas kejahatan. Sebuah ikon pembela kebenaran dalam bentuk superhero, yang dalam konteks post-kontemporer telah menjadi pembuka euforia vigilante yang didambakan masyarakat karena inkompetensi yang ditampilkan oleh jajaran aparat penegak hukum. Desakan akan perlunya insan awam turun kejalan dalam memberantas kejahatan. Terdengar seperti sebuah materi yang solid untuk membentuk sebuah satirisme dalam bungkus sinema hiburan bukan? Dan dengan hadirnya update-reboot ‘The Green Hornet, jelas harapan sangat besar disampirkan kepada film ini.

Selepas menyaksikan filmnya, saya menjadi terfikir, bagaimana jika Stephen Chow jadi menyutradarai ‘The Green Hornet’? Apakah semua kelucuan slapstik tapi menggugah yang menjadi ciri khasnya akan meningkatkan kinerja komedik sekaligus aksi dalam film ini? ‘The Green Hornet’ mungkin menjanjikan semua trik pengundang tawa dari sebuah aksi-laga pahlawan bertopeng yang urakan, akan tetapi tidak benar-benar menyentuh urat saraf tawa untuk  menertawakan kekonyolannya. Film tidak lebih merupakan bentuk tanggung dari semua elemen yang ingin dirangkumnya, aksi, fantasi, drama, komedi.

Saya sangat mengagumi Michael Gondry. ‘Eternal Sunshine of the Spotless Mind’ adalah salah satu film favorit saya. Film yang dipenuhi dengan visi uniknya. Sebuah visi tentang konsep interaksi antara individu-individu yang dipenuhi dengan kegetiran sekaligus kekonyolan dan direka dalam sebuah film yang benar-benar liar dalam imaji visual maupun narasi.  Dan saya hargai keputusannya jika kemudian ia ingin mencoba menggarap sebuah film jenis mainstream dengan bujet luar biasa serta bermain-main dengan plot arketipe yang mengejar keuntungan komersil semata. Sebagai sutradara tentunya ia ingin keluar dari wilayah amannya dan mencoba sesuatu yang baru. Sayangnya, menurut saya Gondry sebaiknya memilih proyek yang lain saja. ‘The Green Hornet’ adalah sebuah film yang kaya akan visual namun sangat lemah dalam cerita dan kering akan intensitas.

Kelemahan terbesar mungkin karena film membiarkan Seth Rogen mengerjakan skripnya. Hey, Seth Rogen disini tetaplah Seth Rogen yang urakan dan over talkative, mesti seharusnya ia adalah seorang Britt Reid, seorang pemuda kaya raya yang doyan hura-hura dan kemudian bertransformasi menjadi seorang pahlawan bertopeng berjuluk ‘The Green Hornet’. Tidak ada kedalaman yang membuat kita jatuh simpati dengannya. Ia tidak lebih seorang pemuda konyol nan cerewet yang “bermain-aksi-superhero”. Sulit untuk meraba jika The Green Hornet’ adalah karakter serius yang harus dicermati sepak terjangnya. Dan diperparah lagi karena Rogen mengisi skripnya dengan banyak dialog-dialog one-liner, yang meski beberapa lucu, akan tetapi lebih banyak garing dan out-of-place, ketimbang menggali karakterisasi atau dinamika plot yang lebih menyentil satirisme, seperti yang sudah diangin-anginkan oleh tema ceritanya.

Oh berbicara soal plot, ‘The Green Hornet’ tampaknya tidak terlalu peduli untuk memberi aksentuasi yang membedakan film ini dengan banyak film sejenis. Cerita jeneriknya kemudian berjalan dengan mode auto-pilot pula. Jadi begini ceritanya, seorang pemuda milliuner yang urakan, Britt Reid (Seth Rogen) kemudian tersadar untuk membela keadilan setelah ayahnya meninggal. Itu juga berawal dari iseng-iseng belaka. Dibantu oleh Kato (Jay Chow) seorang mekanik yang dulu membantu ayahnya, bersama mereka menentang kebatilan di Los Angeles, kota dimana cerita berseting. Uniknya, alih-alih tampil sebagai sosok pahlawan bagi masyarakat, Britt dan Kato punya ide dengan menjadikan sosok alter-ego mereka sebagai sosok underground yang tidak ada bedanya dengan kriminal yang mereka berantas. Tentu saja ini meresahkan Benjamin Chudnofsky (pemenang Oscar, Christoph Waltz), seorang penguasa skena kriminalitas L.A.  Maka dimulailah “persaingan” untuk menjadi yang terbaik di Los Angeles dengan klimaks yang bisa kita tebak dengan baik.

Terlepas dari titik-titik lemahnya, beruntung ada Jay Chow yang mampu mengisi peran yang dulu melambungkan nama Bruce Lee tersebut. Sebagai Kato, Chow terlihat lebih rileks, membiarkan dirinya sedikit konyol namun tidak kehilangan kemampuan aksi-laga yang meyakinkan saat diperlukan. His comedic-timing is even better than Rogen and his chemistry with Cameron Diaz, is far more believable. Oh ya, Cam-D disini tidak lebih sebagai sebuah extended-cameo sekaligus pemanis film. Sungguh sayang, padahal Diaz bermain dengan cukup menawan.

‘The Green Hornet’ adalah sebuah aksi-komedi yang terlalu kartun untuk dinikmati lebih serius. Mengibur? Bisa saja bagi beberapa orang. Tapi bagi kebanyakan lain tidak lebih dari sebuah penghinaan terhadap daya-nalar mereka. Saya sendiri termasuk pada kategori pertama. Dan saya merasa saya baik-baik saja secara intelektual. Haha. Yang sangat saya sayangkan adalah potensi film ini untuk dapat tampil dengan lebih meyakinkan. Pada akhirnya ‘The Green Hornet’ tidak lebih dari sebuah aksi-komedi yang gampang terlupakan. Terasa remeh-temeh karena ringannya materi yang ditawarkan. Bukan resume yang baik nih baik buat Gondry maupun Rogen.

Advertisements

4 thoughts on “Film Review: The Green Hornet (2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s