Film Review: Certified Copy (2010)

Yang saya sukai dari Certified Copy (Copie Conforme), selain dia adalah film Perancis dengan sutradara berasal dari Iran dan memakai tiga bahasa yang berbeda dalam dialognya, adalah betapa menyenangkan melihat dua orang dewasa yang ngobrol dengan intens soal kehidupan mereka sebagai…orang dewasa. Mereka membicarakan masalah remeh-temeh dengan santai namun terkadang dengan penuh emosi membahas hubungan yang terjalin panjang diantara mereka. Sepasang suami-istri yang menghabiskan hari minggu siang mereka dengan mengunjungi Tuscany, Italia, guna merayakan peringatan 15 tahun pernikahan mereka, yang tampaknya telah terlupakan oleh sang suami. Sebuah hari minggu yang cerah mungkin memang saat yang tepat untuk itu. Tapi..tapi..tapi, bagaimana jika kemudian mereka ternyata baru bertemu untuk pertama sekalinya justru pada hari itu? Lantas apa yang tengah terjadi?

Sang perempuan (Juliette Binoche) adalah sosok paruh baya asal Perancis berputera satu, menetap di Italia dan memiliki usaha toko barang antik. Sang lelaki adalah James Miller (William Shimell), seorang penulis asal Inggris yang tengah mempromosikan buku terbarunya yang berjudul “Certified Copy”, tentang nilai seni dari seni yang di imitasi. Sang perempuan meminta sang penulis untuk menandatangani buku-bukunya sekaligus melihat galeri seninya. Sang penulis kemudian meminta ditemani melihat sekeliling karena malamnya akan segera bertolak dengan kereta api. Tidak ada latar belakang lagi selain itu. Apakah mereka benar-benar suami istri? Atau berpura-pura sebagai suami istri karena banyak yang menyangka seperti itu?

Mari kita hitung; mulai dari sepasang pengantin baru yang meminta berfoto bersama, perempuan tua pemilik cafe dan pasangan turis asal Perancis. Semua mengira jika mereka adalah pasangan suami istri. Bahkan perempuan tua pemilik cafe dan turis pria asal Perancis mampu “mengulas” hubungan yang terjadi antara sang pria dan perempuan dan memberi nasehat sebagai sosok yang lebih senior dalam rumah tangga karena merasakan ketegangan antara “pasutri” tersebut.

Awalnya film membiarkan kita menyangka jika sang perempuan dan pria membiarkan saja persepsi yang diterima oleh mereka sebagai suami-istri, namun seiring dengan berjalannya film, dialog-dialog diantara mereka semakin intens dalam membahas hubungan yang tengah terjadi diantara mereka. Bahkan tidak jarang terjadi pertengkaran mengenai hubungan yang terjalin selam “15 tahun terakhir”. Satu yang tidak bisa dipungkiri jika chemistry dan spark diantara mereka begitu kentara. Siapa saja, termasuk kita sebagai penonton’, dengan gampang menyimpulkan jika mereka memanglah telah lama berumah tangga.

Sebenarnya apakah yang terjadi di dalam ‘CeritifiedCopy’? Apakah mereka benar-benar sepasang suami istri atau hanya berpura-pura sebagai pasangan? Atau jangan -jangan si perempuan Perancis selama ini adalah selingkuhan si pria Inggris dan kesempatan ini digunakan sang perempuan sebagai kesempatan “mengenang” dalam bentuk ‘mengkopi” bentuk hubungan suami-istri yang seharusnya terjadi diantara mereka. Yang pasti film membiarkan interprestasi berjalan terbuka dan diserahkan pada penonton untuk mereka-reka.

Ini film pertama Abbas Kiarostami yang saya tonton. Saya memang telah lama mengenal namanya, salah seorang sutradara Iran ternama dengan karya-karya berkualitas yang mengharumkan namanya di pentas sinema dunia. Setelah menyaksikan film ini, saya faham kenapa dia bisa mendapat tempat kehormatan tersebut. ‘Certified Copy’ dengan sangat telaten mengajak kita untuk terseret arus percakapan sehari-hari antara dua orang karakter utamanya. Jika kita mengibaratkan film sebagai lukisan, maka ini adalah lukisan dalam aliran realisme yang kental. Tampil apa adanya tanpa berniat memanipulasi melalui gestur-gestur sinema romantis yang biasa kita kenal, meski ini sebenarnya adalah sebuah film yang romantis. Tidak ada momentum “awww, that’s sweet” melalui iringan musik melankolis atau gambar-gambar romantis, meski sebenarnya film menyiapkan banyak sekali adegan-adegan seperti itu.

Akting menawan Binoche (memenangkan Best Actress di Cannes Film Festival 2010 untuk film ini) begitu memenuhi setiap lekuk dan sudut film. Membiarkan gairah serta kerapuhan merasukinya dan terkadang dipenuhi kemarahan. Dan untuk film yang mengandalkan dialog panjang antar-karakter ini diperlukan tandem yang sempurna pula. Beruntung ada William Shimell yang menjadi partner Binoche disini. Shimell mampu mengimbangi setiap letupan emosi yang diluapkan Binoche dan memberikan vertilitasnya sendiri. Sungguh mengejutkan saat mengetahui jika ini film pertama bagi Shimell yang ternyata mempunyai profesi seorang penyanyi opera asal Inggris.

Apakah ini film yang pretensius? Membosankan? Dalam sudut pandang tertentu (baca: film komersial) bisa saja. Akan tetapi bukankah film ini sebenarnya adalah sebuah dekripsi sekaligus kritisi tentang persepsi terhadap sebuah hubungan dalam bentuk terbanalnya, realisme? And sometime reality sucks. We all supposed to know that.  Is it art imitating life or life imitating art? That’s what Certified Copy really about.

Nah,  Pernah menonton dwilogi ‘Before Sunset-Before Sunrise’-nya Richard Linklater? Nah, ‘Certified Copy’ kurang lebih seperti itu. Hanya saja ‘Certified Copy’ terasa lebih mengalun dan dipenuhi dengan emosi. Dalam arti yang positif tentu saja. Jika senang menonton film yang mengandalkan banyak dialog, nah ‘Certified Copy’ mungkin tepat menjadi pilihan.

Advertisements

2 thoughts on “Film Review: Certified Copy (2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s