Film Review: Confessions (2010)

Pernah menyaksikan video musik Kerispatih yang berjudul “Tapi Bukan Aku” atau Andra & The Backbone yang “Hitamku”? Sangat melodramatis, eh? Penekanan pada slow-motion begitu kentara seolah-olah dengan adegan-adegan yang bergerak secara lambat mampu memberikan aksentuasi emosi yang ingin disampaikan. Nah, menonton ‘Confessions’ atau ’Kokuhaku – 告白’ mempunyai kesan yang sama. Nyaris disepanjang 106 menit durasinya kita akan menyaksikan banyak adegan slow-mo yang diiringi oleh serangkaian musik sebagai soundtrack, mulai dari Bach hingga Radiohead. Uniknya, selayaknya konsep yang diusung oleh musik video tadi, adegan tersebut berguna untuk mengantarkan narasinya. Akan tetapi jangan anggap remeh dulu. Justru dibalik itu, ‘Confessions’ adalah sebuah film yang cukup bernas dalam melantangkan esensinya: kronika balas dendam!

Yep, dari dahulu kala sampai saat ini, film-film yang bertema balas dendam memang selalu menarik untuk diangkat para sineas untuk menjadi bahan cerita mereka. Tentu saja banyak yang diceritakan secara tipikal, namun banyak juga yang mampu meramu menu lama dengan adonan baru. Terkadang bahkan ada juga yang berhasil menemukan formula baru dalam ceritanya. Lantas, apakah Tetsuya Nakashima (Kamikaze Girl) menawarkan sesuatu yang baru dalam ‘Confessions’ ini? Rasanya tidak. Akan tetapi jelas dia menawarkan dinamika twist-and-turn yang memikat untuk menarik perhatian kita.

Dalam 30 menit pertama, film mengenalkan Yuko Moriguchi (Takako Matsu, dari dorama terkenal Long Vacation), seorang guru SMP yang sedang berada dikelas terakhir yang akan diajarnya. Namun sebelum mengundurkan diri, ia panjang lebar memberi “kuliah’ soal pentingnya menghargai hidup kepada para muridnya. Kemudian pada akhirnya ia menyebutkan jika ada dua orang siswa dikelas tersebut, yang dilabelinya dengan ‘Siswa A’ dan ‘Siswa B’, bertanggung jawab atas kematian putrinya yang bernama Manami. Meski tidak menyebutkan nama tertentu, akan tetapi dengan berbagai karakteristik khusus yang disebutkannya, tentu saja gampang bagi siswa lain untuk mengenali identitas para tersangka. Sayangnya, hukum sulit menjangkau para tersangka, karena mereka masih dibawah umur. Namun dendam tetap harus dibalas. Oleh karenanya Yuko menyuntikkan darah yang mengandung virus HIV kedalam kotak susu yang diminum oleh kedua siswa tersebut.

Tanpa tedeng aling-aling, di 30 menit awal, film sepertinya sudah menemukan momentumnya. Lantas apa yang yang ditawarkan oleh sisa durasnya? The aftermath of course.  Selanjutnya film berjalan berdasarkan beberapa sudut pandang karakter yang terkait dengan permasalahan ini. Siswa A, Siswa B, siswa perempuan yang berhubungan dengan Siswa A, dan ibu Siswa B. Dari narasi yang disampaikan mereka, plot yang bertumpuk perlahan kemudian mulai menunjukkan rupa aslinya. Seperti kepingan puzzle yang muncul satu persatu dan mulai melengkapi gambar penuhnya. Dan seperti yang telah disebutkan diatas, semuanya mengalir dengan diiringi oleh visual gerak lambat yang ekstensif, seolah mencoba memaparkan skenario balas dendam Yuko yang pelik secara perlahan dan subtil.

Agak sulit juga untuk menyebutkan ‘Confessions’ sebagai sebuah social commentary karena plot yang sedikit melodramatis dan eksekusi yang terlalu stylish tadi menafikan realisme. Akan tetapi lebih sulit lagi untuk mengenyahkan kegalauan sehabis menyaksikan filmnya. Menawarkan sebuah problema yang cukup krusial: apa yang harus kita lakukan terhadap pembunuh yang berada dalam kisaran usia anak-anak? Idealnya adalah dengan menyerahkan mereka kepada pihak yang berwajib tentu saja. Namun bagaimana jika itu tidak cukup? Seseorang harus mengajarkan nilai dan makna menghargai kehidupan kepada anak-anak pongah itu. Bagaimana pun caranya. Demikian yang mungkin difikirkan oleh Yuko Moriguchi.

Sebagai orang tua yang kehilangan anak satu-satunya akibat pembunuhan tentu saja kesumat meraja dihatinya. Hasrat membalas dendam begitu membara dan bergejolak meminta pelampiasan. Di sisi lain ia adalah sosok guru, seorang pengayom kepada murid-muridnya, sosok muda yang belum begitu paham arti dan makna kehidupan. Apalagi pembunuh putrinya adalah siswanya sendiri. Sebuah keputusan sulit harus diambil Yuko dalam menghadapi anak-anak tersebut saat idealisme dan obsesi bersinggungan disatu titik. Takako Matsu berhasil menampilkan Yuko sebagai karakter yang dingin sekaligus rapuh secara bersamaan. Memberi warna abu-abu yang diperlukan bagi karakternya.

Tidak terbantahkan, ‘Confessions’ adalah film yang cerdas. Dengan gemilang merangka narasi yang melingkar-lingkar menjadi satu kesatuan utuh diujungnya. Pada akhirnya menjadi sebuah satir yang menggelisahkan tentang generasi muda masa kini yang begitu remeh memandang kehidupannya. Hanya saja menjadi masalah saat ambiguitas yang ditawarkan Tetsuya Nakashima dalam style filmnya bisa jadi menjemukan. Apakah ia ingin mengejar kesan puitis atau ingin membuat filmnya terlihat “keren” ala MTV? Bagi sebagian orang mungkin akan terasa berlebihan dan inkoheren terhadap plot secara keseluruhan.

‘Confessions’ adalah sebuah thriller-psikologis yang menantang. Dengan masuk kedalam daftar 9 besar untuk nominasi Best Foreign Languange di ajang Academy Awards ke 83 tentu saja membuat film ini juga terasa istimewa. Akan tetapi itu bukan alasan utama mengapa kita harus menonton film ini. Yang lebih penting, it’s a grimmy tale of revenge with calculative retribution’s plot, yang dipaparkan melalui narasi yang mengikat dan pada akhirnya berhasil memprovokasi denga urgensi yang ditawarkannya.

Advertisements

1 Comment

  1. CINTA MATI sama film ini!!!!

    scene2 slo-mo nya bnr2 mind blowing n cara revenge nya bnr2 beda n keren banget 🙂

    salah satu revenge movie terbaik lah mnurut gw…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s