Film Review: Exit Through The Gift Shop (2010)

‘Exit Through The Gift Shop’ adalah sebuah film dokumenter yang unik. Mengapa unik? Ada beberapa alasan; pertama, ini filmnya Banksy, seorang seniman jalanan misterius  asal Inggris yang populer, kedua, seharusnya ini film tentang Banksy, alih-alih Banksy merasa jika sang pembuat film justru lebih menarik untuk diceritakan sehingga ia mengambil alih peran pengarah film dan balik mengisahkan cerita sang “sineas”. Siapa sih yang dimaksud Bansky? Ia tak lain dan tak bukan adalah Thierry Guetta, seorang imigran asal Perancis yang menetap di Los Angeles, Amerika dan kemudian akan dikenal dengan julukan, Mr. Brainwash.

Jadi begini ceritanya. Guetta punya kebiasaan membawa kamera kemanapun ia pergi. Ia suka sekali mendokumentasikan apa pun yang tengah dialami atau dilihatnya. Pada suatu hari, saat ia berpelesir ke Perancis dalam rangka sebuah acara keluarga, ia sangat tertarik dengan kegiatan sepupunya sebagai seorang seniman jalanan. Dengan julukan Invader, ternyata sang sepupu telah mempunyai nama yang bereputasi internasional. Guetta sangat kagum akan keuletan Invader dalam “memamerkan” hasil karyanya. Pada akhirnya Guetta kemudian mulai berkenalan dengan banyak seniman jalanan lainnya dan kemudian terlibat secara langsung pada saat mereka “bekerja”. Secara khusus kemudian Guetta mengikuti petualangan Shepard Fairey, salah seorang seniman jalanan terkenal lainnya. Dari sini Guetta seolah terobsesi untuk membuat sebuah film dokumenter tentang kehidupan para artis berbakat sekaligus nekad ini.

Sampai suatu hari ia mendengar tentang sepak terjang Banksy dan tertarik untuk mendokumentasikan aksinya. Sayangnya Banksy terkenal pula sebagai sosok yang misterius dan tidak pernah diketahui publik siapa dirinya sebenarnya. Namun, kalau jodoh memang tidak bakal lari kemana. Pada akhirnya ia pun berhasil berkenalan dengan Bansky dan mendokumentasikan segala aktifitas seni Banksy. Menjadi masalah saat Bansky menyadari jika Guetta sama sekali tidak berbakat menjadi seorang sutradara (menilik film “panjang” Guetta yang disebut Banksy unwatchable). Jadi Guetta hanya merekam dan terus merekam, menimbun lusinan kaset hasil tangkapan kameranya bertahun-tahun tanpa melakukan apapun terhadap mereka. He’s just simply clueless with what he should do with those piles of cassettes. Pada akhirnya, dengan pengarahan Bansky, film menuju ke arah berbeda. Menekankan pada usaha Guetta untuk menjadi seorang seniman mapan dengan pameran pertama yang akan diadakannya.

Frankly admitted that he’s not a well accomplished artist like Banksy or Fairey, Guetta kemudian mencoba untuk merangka sebuah seni yang merupakan amalgamasi dari berbagai unsur yang telah diserapnya saat bertahun-tahun mengikuti para artis jalanan. Tidak malu ia mempekerjakan beberapa seniman yang kompeten untuk mewujudkan ide-idenya. Jadi pada dasarnya he’s merely a mastermind dengan keterbatasan pada bakat kreatif. Tapi disinilah sisi menarik yang mungkin dilihat oleh Banksy. Ada potensi pada Guetta yang memang meluap untuk dikeularkan.

Nah, disinilah kemudian mulai berhembus kabar tidak enak mengenai Guetta. Betapa gampangnya dia melakukan transformasi menjadi seorang artis. Tertiuplah  kabar jika ia adalah sebuah hoax besar yang direka oleh Bansky dan semua karya Guetta tidak lebih adalah karya Bansky itu sendiri. Kemudian banyaklah yang meragukan kredibilitas film ini sebagai sebuah dokumenter yang shahih.

‘Exit Through The Gift Shop’ memang sebuah dokumenter yang sangat menyenangkan. Sangat menghibur malah. Narasinya mengalir dengan lancar dan linear. Gampang untuk diikuti. Ada kelucuan-kelucuan dibeberapa sudut dan dibagian lain ia menampilkan suspensi dari kegiatan para seniman jalanan yang memang mengandalkan keberanian dan juga kenekadan ini. Sama halnya dengan ‘Catfish‘, bagi sebagian orang materi yang ditawarkan oleh ‘Exit Through The Gift Shop’ terasa to good to be true. Tidak heran jika keabsahan sebagai sebuah dokumenter menjadi dipertanyakan.

Terlepas dari itu, menurut saya film ini cukup signifikan dalam memberi gambaran tentang bagaimana kegiatan para seniman jalanan ini. Apakah grafiti itu sendiri termasuk seni atau vandalisme tergantung kepada persepsi masing-masing orang yang berbeda-beda. Akan tetapi yang harus kita hargai adalah kreatifitas yang membanjiri diri para seniman ini dan betapa luar biasanya karya-karya mereka. Yang lebih penting, ‘Exit Through The Gift Shop’ semakin mengukuhkan Bansky sebagai ikon seni kontemporer yang mumpuni. Dibalik segala sensasinya, dia jelas sangat mampu untuk merangka seni dalam medium apapun, termasuk film. Dengan dinominasikannya ‘Exit Through The Gift Shop’ pada ajang Academy Award 2011  untuk Film Dokumenter Terbaik, jelas merupakan validasi yang kredibel untuk itu.

Advertisements

2 thoughts on “Film Review: Exit Through The Gift Shop (2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s