Film Review: The Troll Hunter (2010)

Disepanjang ingatan saya film-film mockumentary selalu berhubungan hal-hal yang berbau horor, mulai dari nenek sihir, hantu, rumah/tempat angker (yang berjubel jumlahnya), zombie, alien sampai monster raksasa. Untuk menambah resume “mengerikan” tersebut, kini Norwegia menambahkan satu sosok lagi yang footage-nya “telah ditemukan”, yaitu Troll. Sosok Troll dikenal masyarakat Skandinavia sebagai bagian erat dari mitologi mereka, yaitu mahluk raksasa yang mendiami wilayah pegunungan dan hutan. Kini dalam ‘The Troll Hunter’ atau Trolljegeren, dikabarkan jika mahluk tersebut benarlah adanya.

Sekelompok mahasiswa sedang membuat sebuah film dokumenter tentang sosok pemburu beruang bernama Hans. Awalnya Hans tidak mau bekerjasama, akan tetapi karena kerap diikuti secara diam-diam, akhirnya Hans mengizinkan mereka untuk turut dalam tugasnya. Akan tetapi tugas Hans ternyata tidak seperti yang mereka bayangkan. Ia sebenarnya adalah seorang agen pemerintah untuk mengawasai, menjaga dan mengkontrol populasi Troll dinegara mereka. Tujuan utamanya jelas agar masyarakat tidak menjadi panik dengan kehadiran mahluk raksasa yang ternyata tidak hanya berada dalam imaji fantasi mereka saja. Dari Hans mereka “berkenalan” dengan banyak sosok dan karakteristik Troll. Sampai pada akhirnya mereka bertemu dengan sosok mega-Troll yang mengerikan. Pertanyaan yang paling awam adalah, “bisakah mereka selamat?”

Terlepas dari banyaknya lubang yang menganga dalam filmnya ini, André Øvredal dengan serius menceritakan kepada kita bahwa Troll ini benarlah adanya. Didukung dengan pendekatan dokumenter amatiran (yang anehnya mampu meberikan gambar-gambar menawan dan sinematis), kita diberi asupan yang bergizi tentang apa dan bagaimana Troll itu sebenarnya. Bertentangan dengan pandangan awam, ternyata banyak fakta-fakta baru yang diungkapkan oleh Hans tentang Troll, membuat sosoknya menjadi lebih lekat dengan keseharian dan menegasikan keberadaanya secara mistis.

Secara umum ‘The Troll Hunter’ memakai pakem yang tipikal berlaku di film-film mockumentary sejenis. Akan tetapi menjadi kelebihan tersendiri saat film lebih mengandalkan aksi ketimbang “riset-wawancara”. Para Troll pun tanpa malu-malu tampil dan mengejar-ngejar “kita”.  Memberikan eskalasi ketegangan yang memang diharapkan dari film dengan pendekatan “realisme” seperti ini. Film pun patut mendapat kredit lebih saat Øvredal mampu membangun suasana dan atmosfir menegangkan sepanjang durasinya. Membuat kita, sebagai penonton, turut terlibat dalam petualangan karakter-karakternya. Berbeda dengan kebanyakan mockumentary yang statis-monoton sehingga terasa menjemukan.

‘The Troll Hunter’ sendiri bisa disebutkan sebagai sebuah satir yang menyindir tentang keseimbangan ekologi yang kini tampaknya terancam eksistensinya. Meski tidak blak-blakan, akan tetapi Øvredal tampaknya ingin menyetir opini awam bahwa sudah saatnya kita membuka mata akan keberadaan alam yang menjadi lingkungan dimana kita tinggal. Para Troll ini sama halnya dengan kebanyakan mahluk hidup lain yang terganggu habitatnya, secara perlahan akan mempunyai prilaku baru dan mulai keluar dari ranah amannya. Lantas salah siapa itu? Yah salah kita-kita sebagai manusia sepertinya (as always, of course).

Advertisements

One thought on “Film Review: The Troll Hunter (2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s