Film Review: Bedevilled (2010)

Agak tidak adil mengatakan ‘Bedevilled’ (김복남 살인사건의 전말 – Kim bok-nam Salinsaeui Jeonmal) sebagai sebuah film horor, apalagi slasher, karena pada kenyataanya ini adalah drama pedih tentang subordinasi terhadap perempuan.  Sistem patriarkis membuat perempuan selalu sebagai gender yang mendapat tempat kedua didalam struktur masyarakat yang berbasis pria. Tidak hanya oleh laki-laki sebagai gender dominan, bahkan sesama perempuan pun pada akhirnya juga kerap menindas perempuan lain. Menjadi horor saat perempuan yang tertindas melakukan resistensi, perlawanan terhadap ketidakdilan dengan cara yang ekstrim dan bersimbah darah.

Film dibuka dengan perkenalan terhadap karakter Hae-won (Ji Seong-won), seorang perempuan usia awal 30 -an yang jelas akan sulit mendapatkan simpati dari kita sebagai penonton. Dingin, tidak perdulian, kadar simpati terhadap orang lain yang rendah dan kaku. Sebuah peristiwa membuat dia memutuskan untuk berlibur di pulau yang dulu sering dikunjunginya saat kakeknya masih hidup. Sahabatnya semasa kecil, Kim Bok-nam (Seo Yeong-hee), menyambutnya dengan gembira. Bersama kemudian mereka sering menghabiskan waktu mengenang saat-saat silam semasa mereka masih kanak-kanak.

Tidak lama bagi Hae-won untuk menyadari jika Bok-nam menjalani kehidupan yang sulit. Di pulau sepi nyaris tak berpenghui dan jauh dari daratan itu Bok-nam mendapat perlakuan yang semena-mena dari orang-orang disekelilingnya, terutama sang suami Man-jong (Park Jeong-hak). Bok-nam bertahan hanya karena ingin menjaga putri satu-satunya yang disayanginya, Yeon-hee (Jeon Hee-seon). Suatu hari Bok-nam merasa tidak sanggup lagi menahan derita yang terus dipendamnya dan mmutuskan untuk kabur dari pulau. Sialnya niatnya gagal terlaksana, karena diketahui sang suami. Malapateka terjadi saat Yeoh-hee menemui ajal. Tidak sengaja dan murni kecelakaan sebenarnya, akan tetapi batin Bok-nam yang terdera duka dan akumulasi atas deritanya membuat Bok-nam seolah terasuki kemarahan yang masif dan kemudian mulai membantai satu persatu penghuni pulau yang tersisa. Pada akhirnya hanya ada Bok-nam dan Hae-won. Lantas, apa yang akan terjadi?

‘Bedevilled’ adalah film yang kredibel, baik dalam mengantarkan dramanya maupun kemudian saat bertukar peran menjadi horor. Sebelum berharap banyak, lebih baik saya tekankan disini, dengan durasi 115 menit, kurang lebih di 70 menit pertama film murni mengambil struktur ala drama. Nyaris tidak ada petunjuk jika film nantinya akan mempunyai atmosfir yang lebih kelam. Meski begitu, drama yang disusun oleh Jang Cheol-soo sebagai sutradara cukup mampu membangun rasa gusar karena tema sinis yang melingkupinya. Kekurangannya mungkin terletak pada karakterisasi. Meski para aktor bermain dengan sangat baik, namaun karakter mereka pada umumnya cukup streotipikal: perempuan dingin, perempuan teraniaya, suami abusif, mertua jahat dan sebagainya. Semua yang bisa kita harapkan dari cerita semacam ini dan mereka juga dipresentasikan secara tipikal pula.

Namun ini bukan berarti jelek, karena film berhasil membangun tensinya dengan baik.  Emosi yang ingin disampaikan kepada penonton dapat diterima secara penuh dan menimbulkan simpati yang mendalam kepada Bok-nam. Sehingga kemudian pada akhirnya dia berubah menjadi sosok “monster’, kita tidak dapat membenci dia dan mau tidak mau mendukung setiap tindakannya. Sebuah ambigu yang getir namun merupakan konsekuensi yang harus terjadi.

Saat film berubah menjadi “horor”, Jang Cheol-soo pun dengan baik mengeksekusi ketegangan yang diperlukan. Tapi kalau ditanya apakah filmnya menyeramkan? Rasanya tidak juga. Namun, kalau ditanya apakah filmnya menggiriskan? “Ya” bisa menjadi jawabannya. Untuk bagian ini “Bedevilled’ memang meminjam secara penuh pada pakem slasher yang kita kenal. Korban diburu untuk kemudian dimutilasi. Konsep hide-and-seek pun digunakan untuk mencapai efek tegang dan mendebarkan. Hanya saja film tidak berlarat dan bertumpu pada bagian ini saja.

‘Bedevilled’ jelas menegaskan kekerasan sebagai puncak ketegangan dan depresi. Sarana penyaluran uneg-uneg secara ekstrim akibat rasa tertekan yang berlebihan. Nah, sebelum mencapai bagian itu, dengan efektif dia membangun drama sebagai alasan penyebab itu terjadi. Eksploitasi terhadap kekerasan, baik secara fisik dan verbal terhadap Bok-nam menunjukkan jika dibelahan bumi ini perempuan masih banyak dipandang dengan remeh. Tidak memberikan kontribusi yang positif terhadap sekitarnya. Karena hegemoni patriarki tersebut terus menerus dipropagandakan secara sistemik, pada akhirnya mereka (perempuan) juga memandang rendah diri mereka sendiri. Seorang karakter di film kerap berkata betapa mereka sangat perlu lelaki untuk meringankan beban kerja yang mereka lakukan. Padahal jelas-jelas mereka mampu melakukan apa yang mereka kerjakan tanpa bantuan laki-laki, namun ada keharusan untuk “menyanjung” laki-laki sebagai sub-dominan dalam kehidupan mereka.

Jadi, terlepas dari karakter yang disebutkan tipikal bahkan karikatural  juga kekerasan yang kemudian meliputi narasinya, ‘Bedevilled’ sebenarnya sebuah studi-sosiologis yang cukup komprehensif. Sayangnya, melodrama dan kemudian horor lebih mengambil tempat sebagai pencerita sehingga menutupi esensi positif yang bisa kita sarikan dari film ini. Namun tetap saja  ‘Bedevilled’ adalah sebuah film yang berhasil menampilkan kegetiran dengan baik. Drama dan darah menjadi satu kesatuan dalam mengantarkan pesan muramnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s