Film Review: The Man From Nowhere (2010)

Jujur saja, alasan saya menonton film ini awalnya cuma ingin melihat Won Bin. I’m his fans and not shame of it, hehe. Dan kalau ternyata filmnya memang bagus, yah itu bonus sih namanya. Setelah menjadi orang dengan keterbelakangan mental dalam ‘Mother’ (2009), maka kali ini Won Bin merubah peran sebagai seorang Jason Bourne versi Korea Selatan, seorang agen khusus dengan kemampuan diri diatas rata-rata. Tapi alih-alih berhadapan dengan konflik konspirasi pelik atau menyelamatkan dunia dari villain-over-the-top,  ‘The Man From Nowhere’ malah berurusan dengan hal yang sifatnya lebih domestik dan subtil, meski tetap saja kita bisa mengandalkannya dalam memberikan rangkaian adegan laga yang seru.

Menyebutkan ‘The Man From Nowhere’ atau ‘Ajeossi’ (아저씨) murni sebagai film laga juga kurang tepat, karena film arahan Lee Jeong-beom ini juga kental dengan drama humanis serta thriller yang mengandalkan suspensi. Ceritanya sederhana saja. Cha Tae-sik (Won Bin) adalah seorang agen khusus yang tengah dirundung kemalangan. Istrinya tewas terbunuh. Oleh karenanya ia kemudian mengundurkan diri dan menyepi disebuah apartemen kumuh dan miliki sebuah usaha pegadaian kecil. Ia berteman dengan seorang gadis cilik tetangganya yang bernama So-min (Kim Sae-ron). Meski Tae-sik menanggapi kehadiran So-min disekitarnya dengan dingin, namun jelas ia memberi perhatian lebih pada si gadis cilik. Bahkan saat So-min diculik oleh komplotan pedagang organ tubuh, Tae-sik yang sebenarnya tidak sangkut-pautnya dengan komplotan tersebut pun kemudian melakukan segala hal untuk menemukan So-min, sebelum semuanya terlambat!

Well, dibilang tidak ada sangkut pautnya mungkin kurang tepat juga yah, karena komplotan  penjahat itu menyadari kedekatan Tae-sik dengan si gadis cilik dan kemudian memeras Tae-sik untuk melakukan sesuatu demi kepentingan komplotan tersebut. Mungkin Tae-sik melakukan itu semua karena ia perduli dengan So-min. Sosok kecil  dan rapuh, namun harus sudah berhadapan dengan kerasnya dunia. Sang ibu sering berlaku kasar padanya dan So-min sering ditingal sendiri dan berkeliaran tanpa tujuan. So-min mungkin juga dapat merasakan jika Tae-sik adalah sosok yang  sama dengan dirinya, memendam getir dan hidup dalam kesendirian.

Tae-sik adalalah pria yang terputus dari dunia luar disekitarnya. Baik secara emosi maupun fisik. Dia hidup dalam kehidupannya sendiri. Ia bukan berasal dari bagian manapun di dunia ini. Dan mungkin itulah cangkang ranah amannya. Dengan itu ia bertahan hidup. Namun ternyata selalu ada anomali yang memberi chaos, bahkan pada sistem yang tak berstruktur sekalipun. Dan itu hadir dalam sosok kecil yang mungkin tidak signifikan.

Film dengan baik menggambarkan hubungan antara Tae-sik dan Soo-min. Meski mereka tidak mempunyai ikatan atau hubungan apa pun, namun dibalik sikap dingin Tae-sik, kita dapat merasakan kepeduliannya yang besar terhadap Soo-min. Kim Sae-ron, pemeran Soo-min pun dengan baik memainkan perannya sebagai anak kecil yang usil namun sebenarnya hidup dalam kesedihan dan mendambakan sosok ayah yang kemudian dapat ditemuinya pada Tae-sik. Tentu saja, seperti halnya kebanyakan film Korea Selatan, elemen melodrama disini bermain dengan porsi cukup besar dan mengandung adegan-adegan yang tujuannya untuk menghasilkan efek keharuan yang mendalam.

Tapi film lantas terlena pada hal ini saja dan melupakan porsi laganya. ‘The Man from Nowhere’ memberikan kekerasan pada tingkatan dimana darah dan gore mendominasi. Akan tetapi tidak lantas film melulu mengeskploitasi itu karena elaborasi adegan-adegan laga yang seru mendapat asupan yang cukup disini. Menaikan tensi ketegangan serta intensitas filmnya. Adegan laga favorit saya jelas terdapat di klimaks dimana Tae-sik harus menghadapi sejumlah  begundal sendirian dan kemudian ditutup dengan tarung satu-lawan-satu yang melibatkan villain asal Thailand yang diperankan oleh Thanayong Wongtrakul.

Terlepas dari itu, ‘The Man from Nowhere’ juga bermaksud menyentil beberapa isu sosial di dalam narasi yang diusungnya. Eksploitasi-pelecehan pada anak-anak, ketegantungan narkoba, human-trafficking, pembunuhan kasual, juga mafio serta premanisme. Menjadi latar belakang yang kuat untuk mendukung kisah yang menurut saya inti dari tema film secara keseluruhan: hubungan emosionil peternalistik antara dua sosok yang berbeda jauh secara karakter. Kita menjadi perduli dengan mereka dan mengikuti dengan cemas perjalanan nasib yang menentukan hidup mereka.

Tone gelap yang melingkupinya kemudian seolah menegaskan bahwa sistem sosial di masyarakat cenderung mnciptakan banyak monster yang justru mengancam anggota masyarakatnya. Akan tetapi pesan positif yang bisa kita perik adalah bahwa kita tetap harus menyimpan harapan bahwa ditengah kerasnya kehidupan masih ada kasih sayang diantara sesama manusia, dalam bentuk apa pun itu, yang datang dari orang yang tak kita duga-duga.

Won Bin memenangkan gelar Best Actor pada anugerah 8th Korea Film Awards yang diadakan pada tanggal 18 November 2010 yang lalu. Dan ‘The Man from Nowehere’ meraih posisi teratas dalam daftar film terlaris di Korea Selatan untuk periode 2010 lalu.

Advertisements

2 Comments

  1. ak dah liat ne film bagus walau terlalu banyak adegan darah-berdarah….trus ak suka kim sung oh yg berperan antagonis disini yg juga main disecret garden…wah actingny jempol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s