Film Review: The Little Comedian (2010)

Dilahirkan di keluarga yang mempunyai profesi turun temurun sebagai komedian tentunya membawa beban bagi bocah 13 tahun, Tock (Chawin Likitjaroenpong) untuk menjadi penerus dalam keluarganya. Masalahnya ia sama sekali tidak lucu, betapa pun keras usaha yang dilakukannya. Meski demikian ia tidak berhenti berupaya menemukan “formula” yang cocok baginya, terutama untuk membanggakan sang ayah, Plern (Jaturong Phonboon) yang pastilah mempunyai harapan besar kepada Tock. Hey, bahkan ia dinamakan sang ayah dari Lor Tock, seorang komedian kenamaan Thailand. Namun, ia curiga kalau ia memang tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Bahkan sang adik yang masih bocah, Mon (Nachapat Charurattanawaree) lebih bisa membanyol daripadanya. Sampai ia bertemu dengan Dr. Preeya Wanlertsin (Paula Taylor) yang tertawa mendengar lawakannya.

The Little Comedian‘ atau ‘บ้านฉัน..ตลกไว้ก่อน(พ่อสอนไว้) – Baan Chan Talok Wai Korn (Por Son Wai) adalah sebuah komedi, tidak hanya tentang ambisi seorang bocah untuk menunjukkan eksistensi dirinya, juga sebuah romantika tentang pubertas dan pengalaman mencintai seseorang untuk pertamakalinya, meski sosok yang disukainya adalah pribadi yang jauh lebih dewasa. Namun, diatas segala itu, film justru sebenarnya berkisah tentang proses coming of age, yang mungkin sedikit prematur, oleh seorang bocah laki-laki yang bernama lengkap Lortock Pa-plern ini.

Dimainkan dengan sangat menggemaskan oleh Chawin Likitjaroenpong, film berhasil menjadikan karakter Tock sebagai pusat atensi, sehingga dalam dua jam kita sama sekali tidak merasakan keberatan apalagi kebosanan mengikuti tingkah polahnya. Plot yang diangkat sebenarnya tidak istimewa bahkan biasa saja. Akan tetapi penanganan dua sutradara Vithaya Thongyuyon dan Mez Tharatorn atas skrip yang mereka kerjakan bersama Aummaraporn Phandintong benar-benar harus diberi kredit lebih, karena berhasil mengajak kita sebagai penonton untuk turut larut bersama segenap emosi Tock.

Sebagai sebuah film komedi keluarga dan berkarakter utama anak-anak, film tidak terjebak dalam wilayah aman untuk membiarkan Tock menghadapi isu-isu yang tipikal dihadapi anak-anak sekecil dia. Mulai dari mencari jati diri dalam keluarganya yang bertendensi menjadi friksi dengan sang ayah, hingga hubungannya dengan sang dokter cantik yang dipanggil Ice tersebut, adalah hal-hal yang harus dihadapi Tock.

Ice mempunyai permasalahannya sendiri dan karena Tock begitu “mencintai” sang dokter, mau tidak mau dia pun terlibat dengan persoalan sang dokter yang sebenarnya lebih pantas untuk dihadapi oleh orang dewasa saja. Hubungan antara Tock dengan Ice dijabarkan dengan serius meski tidak menghilangkan kesan polos Tock sebagai anak-anak. Sebenarnya agak canggung juga ya kalau difikir-fikir kalau kita harus menyaksikan hubungan (romantis) antara seorang perempuan dewasa dengan laki-laki pra-remaja yang usianya jauh dibawahnya.  Tentu saja Ice hanya memandang Tock sebagai seorang anak-anak belaka, berbeda dengan Tock yang memuja Ice. Dan karena Chawin Likitjaroenpong memainkan karakternya dengan begitu meyakinkan, pada akhirnya kita malah dapat sangat bersimpati dengan hubungan mereka.

Sentra kisah lain tentu saja hubungan Tock dengan sang ayah, Plern, komedian yang sebenarnya juga tengah mengalami krisis dengan profesinya sebagai seorang komedian. Akan tetapi tampaknya ia memang seorang pelawak alam, hingga semua permasalahan disikapinya dengan banyolan, begitu juga dengan problematika sang anak.  Namun, bukannya membantu, malah membuat sang anak malah merasa sebal.

Dengan dibekali dua sudut pandang tersebut, film berhasil melewati rintangan yang membuat film akan kehilangan fokus, malah setiap problematika berjalan pararel secara mulus dan kemudian pada akhirnya berhasil ditemukan pada satu titik yang juga menjadi klimaks film. Dengan catatan  keberhasilan ‘My Girl‘ (2003) yang lalu, tentu saja tidak mudah bagi Vithaya Thongyuyong untuk membuktikan jika ia konsisten membuat sebuah film anak-anak yang juga dapat diapresiasikan dengan baik oleh orang dewasa. Dengan keberhasilan ‘The Little Comedian’, maka itu adalah pembuktian jika ia bisa.

 

Advertisements

2 thoughts on “Film Review: The Little Comedian (2010)

  1. d'one^ says:

    Jdi g sbar buat noNtoN 🙂
    sePrtny fiLm2 indnesia tdak hrus brkca Lgsg k fiLm2 hoLywoOd yg eFek dan budjetny msh jauh dri knytaan,
    fiLm2 thai, korea atau jpang trkdang memiLki setting dan koMpleks crta yg sdRhana, tpi krna dtUnjang oLh pngarahan dan sknario yg bgus, LhrLah fiLm yg brkuaLitas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s