Film Review: Life as We Know It (2010)

Oh no! Katherine Heigl in another romantic comedy? Girl, why don’t you brave your self and take more serious role?” Sesaat itulah gerutuan saya setelah membaca premis ‘Life as We Know It‘ ini. Okelah, mungkin dia bercerita tentang sepasang pria dan wanita yang tidak saling menyukai namun harus menghabiskankan waktu bersama karena mereka mendapat amanat dari alhamarhum teman mereka untuk merawat anaknya. Siapa pun juga tahu, diakhir film mereka pasti akan bersatu dan bahagia selamanya. Tolong jangan marahi saya dulu, karena saya yakin ini sama sekali bukan spoiler. Benar kan?

Jadi begini ceritasnya, pertama kali Holly (Heigl) bertemu dengan Eric Messer (Josh Duhamel), adalah karena mereka dijodohkan oleh sahabatnya, Alison (Christina Hendricks) dan kekasihnya Peter (Hayes McArtur), yang merupakan sahabat Eric. Sayangnya Holly dan Eric tidak menemui kecocokan dan bertahun-tahun kemudian, karena sahabat mereka menikah, mau tidak mau Holly dan Eric pun berteman, meski kerap saling cek-cok. Sampai nasib malang menimpa Alison dan Peter dan berdasarkan surat wasiatnya, Holy dan Eric diminta untuk membesarkan putri mereka yang masih bayi, Sophie (Brooke, Brynn and Alexis Clagett).

Tentu saja tidak mudah membesarkan seorang anak bagi pria dan wanita ini, yang masing-masing sama sekali tidak terbetik difikiran untuk tinggal bersama orang lain apalagi mempunyai anak. Namun, lambat laun mereka berhasil beradaptasi dengan pola baru dalam kehidupan mereka. Bukan itu saja, ternyata mulai timbul benih-benih cinta pula diantara mereka. Namun, hubungan yang awalnya terbentuk karena “kerjasama dadakan” tadi harus menemui rintangan, jika tidak mau disebut cobaan, untuk membuktikan apakah hubungan tersebut benar-benar murni atau sementara saja.

Katherine Heigl bisa memainkan karakternya dengan mata terpejam saat membintangi film ini. Percayalah. Holly Berenson, adalah jenis karakter yang mudah bisa kita temui dalam beberapa film Heigl lainnya. Dan mungkin Heigl tidak sepenuhnya salah, karena skrip bisa saja ditulis dengan membayangkan dirinya sebagai karakter utama. Josh Duhamel sendiri, errr, sebentar dia adalah salah satu pemeran utama di seri ‘Transformer‘ kalau ada yang tidak tahu, bermain dengan cukup aman dan meyakinkan. Untuk porsi paruh pertama durasi, yang tidak membutuhkan chemistry, Heigl dan Duhamel sangat berhasil untuk itu, sedang di paruh kedua, mereka ternyata kemudian cukup lumayan mampu untuk membangun chemistry diantara mereka. Hasilnya, film terasa sangat menyenangkan untuk disimak.

Saya tidak keberatan dengan plot yang formulaic ataupun klise, selama sepanjang durasinya film mampu memberikan pengalaman emosi yang intens, membawa perasaan kita naik dan turun mengikuti perkembangan alurnya dan terpikat pada karakter-karakternya. Harus saya akui, saya merasakan itu saat menyimak ‘Life as We Know it’ ini. Meski saya seolah-olah berfikir seperti cenayang dengan berhasil menebak kemana arah film bergerak, akan tetapi Greg Berlanti (The Broken Hearts Club: A Romantic Comedy), sang sutradara, cukup piawai dalam menyetir filmnya dalam dinamika emosionil yang cukup fluktuatif.

But here is the catch. Masalahnya mungkin diskrip (ditulis oleh Ian Deitchman dan  Kristin Rusk Robinson) yang terlalu nyaman berjalan di ranah aman. Pada akhirnya film menjadi terlalu ringan, meski materinya sebenarnya cukup kaya untuk diolah dalam film yang lebih cerdas, dewasa dan kontemplatif. Ada momen-momen subtil tertentu yang terkadang muncul, namun kemudian buru-buru hilang karena film seolah-olah mengejar target awww moment ala tipikal komedi romantis lainnya. Kalau tujuannya hanya untuk memuaskan ekpektasi penonton tipikal rom-kom, film ini mungkin salah satu jagonya.

Maaf kalau saya kemudian menjadi cerewet, tapi film menjadi sangat manipulatif untuk memperoleh simpati penonton dengan terjebak di formula klise tadi, sehingga setiap kesempatan seolah-olah harus manis dan menggemaskan. Pada akhirnya, komedi romantis menang dan esensi film, yang sebenarnya sangat menarik, malah menjadi bumbu bagi si romantis yang berkomedi tadi.

Bukan berarti ini film yang sangat buruk. Tidak juga. Justru ini film yang cukup menghibur. Terlepas dari uneg-uneg saya tadi, saya sangat menikmati film ini dan cukup larut didalamnya. Bahkan saya merasa sangat lekat dengan karakter-karakternya dan perduli dengan nasib mereka. Sesuatu yang cukup jarang sekali saya rasakan pada film yang sebenarnya klise. Bahkan terbersit difikiran saya, bagaimana kalau mereka kembangkan saja film ini menjadi sebuah sit-com? Haha.

PS. Greg Berlanti adalah penulis skrip untuk film Green Lantern yang akan rilis di tahun ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s