Film Review: A Barefoot Dream (2010)

A Barefoot Dream‘ (맨발의 꿈 – Maen-bal-eui Ggoom) adalah film yang dikirim oleh Korea Selatan sebagai andalan mereka di ajang Oscar k3 83 lalu untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Sayang, kurang beruntung untuk dapat masuk kedalam daftar nominasi. Menilik filmnya, jujur menurut saya pihak Korea Selatan memang terlalu muluk-muluk jika mengira film ini akan dapat menarik simpati para juri AMPAS untuk kemudian memberi kesempatan dalam ajang tersebut. Meski sangat mengibur, namun kisah seorang underdog yang melatih underdog lainnya demi mencapai pengakuan dengan embel-embel titel “juara” ini tidak-lain-tidak-bukan adalah jenis melodrama yang awam kita kenal dari ranah Korea Selatan, bertujuan untuk menguras emosi dan mudah-mudahan juga airmata penonton.

Tahun 2003, seorang mantan pemain sepakbola asal Korea Selatan bernama Kim Won-kang (Park Hie-soon) mencoba peruntungannya dengan mencoba berbisnis di Indonesia. Sayangnya ia selalu menemui kegagalan. Sampai suatu hari, saat terdampar di kota MEDAN, Sumatera (sorry, i can’t help to capitalized it, haha) Kim memutuskan untuk mencoba peruntungan di Timor Leste, sebuah negara yang baru saja memperoleh kemerdekannya. Sialnya, toko olahraga yang dibukanya nyaris tidak dilirik pembeli. Sampai suatu hari ia melihat sekumpulan anak-anak yang bermain bola dengan kaki telanjang. Lantas timbul idenya untuk memberi “cicilan” sepatu kepada anak-anak tersebut.

Kim yang masih sangat mencintai sepak bola lantas melihat bakat pada anak-anak tersebut. Maka, mulailah ia melatih anak-anak secara lebih serius. Bahkan ia punya cita-cita mulia untuk mengantarkan mereka menjuarai pertandingan sepak bola internasional kelas junior di Hiroshima, Jepang. Namun, tentu saja jalannya tidak mudah. Aral yang dihadapinya tidak hanya dari fasilitas yang harus dicukupinya untuk kejuaran tersebut, akan tetapi justru juga persiapan mental anak-anak tersebut dan yang paling penting, kesiapan dirinya sendiri dalam membawa anak-anak tersebut menjadi sang juara.

Kisah dalam ‘A Barefoot Dream’ berangkat dari kisah nyata. Tentu saja kejadian tersebut sangat inspiratif sekali dan tidak ada salahnya diangkat dalam bentuk film yang sangat diharapkan dapat memotivasi orang yang menontonnya untuk tidak hanya bermimpi, namun juga mengusahakan mimpi tersebut agar menjadi nyata. Kim Tae-gyun, sang sutradara cukup setia merangkai filmnya agar berjalan dalam plot yang inspiratif tadi. Dan ia tidak lupa membawa filmnya dengan pace yang cukup cekatan dan padat, sehingga filmnya tampil dengan ringan, menyenangkan dan menghibur.

Ia paham dalam kisah tentang underdog, penonton harus dibuat bersimpati dengan kemalangan mereka, dan bersiap menerima haru-biru suka dan duka dalam memerolehi kemenangan. Menilik reportoire- nya, tampaknya Tae-gyun cukup paham untuk dapat mengantarkan narasi yang menguras emosi (First Kiss, Romance of Their Own, A Millionaire First Love, Crossing). Dan ‘A Barefoot Dream ‘ memang menampilkan itu. Perjalanan sang tokoh utama dan juga anak-anak tersebut dipaparkan dalam dinamika yang dipastikan dapat mengundang perhatian penonton secara emosionil.

Sayangnya, sepertinya Tae-gyun masih terjebak dalam tipologi “menguras-emosi” yang biasa dikenal oleh film-film asal Korea Selatan, yaitu melodramatis. Banyak adegan yang mengandalkan momen-momen yang bertujuan untuk memancing simpati namun pada akhirnya malah terasa artifisial dan klise. Jelas ini mengurangi esensi realitas film, yang bukankah sebenarnya berawal dari kisah yang nyata terjadi?

Terlepas dari itu, upaya ‘A Barefoot Dream’ dalam memberikan kita, sebagai penonton, sebuah film yang cukup insipiratif boleh dipuji dan diberi kredit lebih. Bahkan dengan bahasa pengantar yang seperti gado-gado; Korea, Inggris, Bahasa Indonesia, Jepang, Portugis dan Timor memang memberikan pengalaman yang cukup unik. Bukan itu saja, dengan dilatarbelakangi oleh keadaan sosio-ekonomi juga politis Timor Leste saat itu, film kemudian mengandung tidak hanya aspek historis, juga sosiologis. Ini tentu saja menambah kedalaman materi yang tercakup dalam ‘A Barefoot Dream’.

 

Advertisements

2 thoughts on “Film Review: A Barefoot Dream (2010)

  1. Mr.Cleary says:

    One of the child in the film, now play for Malaga Junior Club in (SPain). His name is Cornelis Nahak, his signed the contract for 5 Years and he’s salary $ 3.000.00 per mouth and his family got $ 5.000.00 in one Year.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s