Film Review: The Gravedancers (2006)

The Gravedancers‘ adalah bagian dari rangkaian ‘After Dark Horrorfest‘  yang pertama kali diadakan di tahun 2006, menampilkan sejumlah film horor independen yang tidak berpeluang tayang di layar lebar secara luas, namun berkesempatan diapresiasi oleh penggemar horor melalui festival tersebut dan kemudian diteruskan melalui media DVD. Dan 5 tahun kemudian, entah dengan alasan apa, film ini pun mendapat kehormatan dengan tayang di jaringan bioskop Indonesia.

Memang, terlepas dari bujet rendah yang kentara terlihat dari hasil akhir film ini, sebenarnya ‘The Gravedancers’ cukup layak untuk mendapat kesempatan yang lebih luas di layar bioskop, karena mempunyai segala aspek sinematis yang diperlukan sebuah film hiburan, dibandingkan dengan beberapa film yang beredar di bioskop namun sebenarnya lebih layak langsung dipaketkan dalam bentuk home-video (misalnya sesama rekan horor keluaran tahun 2006, ‘Stay Alive’).

Dibuka oleh tiga orang sahabat, Harris McKay (Dominic Purcell), Kira Hasting (Josie Maran), dan Sid Vance (Marcus Thomas) yang memutuskan untuk mabuk-mabukan diatas makam teman mereka yang baru saja meninggal. Sid membaca sebuah kartu yang terdapat di makam tersebut dan tanpa mereka sadari isi kartu tersebut adalah mantera pemanggil arwah. Gawatnya lagi, arwah yang mereka panggil adalah orang-orang yang dulunya berkelakuan diluar kewajaran jika tidak dikatakan tidak waras.

Mulailah kehidupan mereka menjadi tidak tenang, karena diganggu oleh penampakan-penampakan hantu-hantu tersebut, termasuk istri Harris, Allison (Clare Kramer). Mereka kemudian bertemu dengan Vincent (Tchéky Karyo) dan asistennya Culpepper (Megahn Perry), profesor di bidang paranormal yang mulanya tidak mempercayai mereka, sampai menyaksikan sendiri kejadian supernatural yang dialami oleh Sid. Bisakah Vincent kemudian membantu mereka dalam menghadapi hantu-hantu ini?

Dengan hanya nama-nama seperti Dominic Purcell (Prison Break, John Doe) dan Tchéky Karyo (Kiss of the Dragon, Taking Lives) yang cukup dikenal, maka jelas sebagai sebuah horor supernatural, ‘The Gravedancers’ lebih mengandalkan cerita serta suasana seram yang dibangun. Walau menggunakan formula umum dari genre ini, sutradara Mike Mendez, mampu memberikan cerita yang solid dan beberapa adegan yang cukup mengagetkan. Tampaknya ia cukup paham dengan adonan kalis yang menjadi formula untuk genre ini.

Film ini juga ditunjang dengan spesial efek dan tata make-up yang meyakinkan, sehingga jujur saja, film ini jelas lebih baik daripada beberapa film mainstream yang keluar akhir-akhir ini. Bahkan dengan trend horor Asia yang tengah merebak (pada saat itu) juga dimanfaatkan oleh Mike Mendez dengan memakai visual yang mengambil ide dari ranah tersebut.

Sayangnya, menjelang akhir, rasanya adegan dieksekusi dengan terburu-buru sehingga film yang nuansa atmosferiknya sudah cukup kental berubah dalam mode aksi yang mengandalkan ketegangan. Padahal kengerian secara psikologis yang dielaborasi dengan cukup baik sebelumnya jika terjaga menjelang klimaks mungkin akan menjadikan film ini menjadi lebih mumpuni.

Walau begitu, kelemahan tersebut hanya kelemahan minor bagi ‘The Gravedancers’, karena tetap saja film ini adalah sebuah paket hiburan yang memuaskan, terutama bagi penggemar horor yang kecewa dengan banyaknya so-called-horror keluaran Amerika akhir-akhir ini.

PS.

Sungguh sayang, untuk tahun kelima di 2011 ini, kabarnya Afterdark Horrorfest absen dengan alasan yang kurang jelas. Sungguh disayangkan, karena meski kebanyakan film yang ditayangkan memiliki mutu yang kurang menarik, akan tetapi setidaknya untuk akhir-akhir ini telah menjadi ikon horor yang lumayan memanaskan iklim genre horor yang semakin kering saja.


 

Advertisements

7 thoughts on “Film Review: The Gravedancers (2006)

  1. Witra says:

    Yep, karena kekosongan film paska “boikot”, film ini akhirnya bisa tayang di bioskop padahal poster dan trailernya udah wara-wiri dari tahun 2005 lalu

  2. movienthusiast says:

    wah bagus ya? gw udah bolak balik lewatin nih dvd di lapak, ntar di beli deh, trims reviewnya ris :kecupmanis:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s